apotik online terpercaya

Penyakit Kecacingan Study Kasus Daerah Kenjeran

| August 12, 2012 | 0 Comments

1.1 Latar Belakang

Surabaya sebagai wilayah beriklim tropis memiliki sinar matahari sepanjang tahun dan curah hujan yang tinggi. Hal ini menyebabkan Surabaya memiliki kelembaban udara dan tingkat kesuburan tanah yang tinggi yang merupakan faktor pendukung perkembangbiakan berbagai jenis cacing. Ditambah dengan tingkat kepadatan penduduk 7642,4 jiwa per kilometer persegi yang notabene merupakan kota terpadat ke dua di Indonesia (Dinkes Jawa Timur, 2010) menyebabkan beragam permasalahan kependudukan timbul seperti tingkat pendidikan yang bervariasi dengan pola hidup yang beragam, sehingga tingkatan kebersihan dan higienitas penduduk Surabaya ikut pula beraneka ragam. Bila tingkat kebersihan dan higienitas penduduk rendah maka kemungkinan terserang penyakit meningkat, termasuk penyakit kecacingan.

Penyakit kecacingan adalah penyakit yang disebabkan karena masuknya parasit (berupa cacing) ke dalam tubuh manusia. Jenis cacing yang sering ditemukan menimbulkan infeksi adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiuria) dan cacing tambang (Necator americanus) yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted Helminthiasis). Kerugian yang ditimbulkan akibat kecacingan sangat besar utamanya terhadap perkembangan fisik, intelegensia dan produktifitas anak yang merupakan generasi penerus bangsa. (Dinkes Jatim, 2010) Kecacingan dapat menyebabkan anemia (kurang darah), berat bayi lahir rendah, gangguan ibu bersalin, lemas, mengantuk, malas belajar, IQ menurun, prestasi dan produktivitas menurun. (Kementerian Kesehatan RI, 2010)

Penyakit cacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Angka infeksi tinggi, tetapi intensitas infeksi (jumlah cacing dalam perut) berbeda. Hasil survei Cacingan di Sekolah Dasar di beberapa propinsi pada tahun 1986-1991 menunjukkan prevalensi sekitar 60%  – 80%, sedangkan untuk semua umur berkisar antara 40% – 60%. Hasil Survei Subdit Diare pada tahun 2002 dan 2003 pada 40 SD di 10 provinsi menunjukkan prevalensi berkisar antara 2,2% – 96,3%. (Kementerian Kesehatan RI, 2006) Dari hasil survei tersebut diketahui bahwa, penyakit kecacingan pada umumnya menyerang anak-anak karena daya tahan tubuhnya masih rendah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah iklim tropis, kesadaran akan kebersihan yang masih rendah, sanitasi yang buruk, kondisi sosial ekonomi yang rendah, serta kepadatan penduduk. (Kementerian Kesehatan RI, 2010)

Pada umumnya orang tua melakukan tindakan swamedikasi kepada anaknya yang diduga menderita penyakit kecacingan berdasarkan diagnosanya sendiri tanpa melakukan konsultasi kepada dokter. Berdasarkan fakta empirik diketahui bahwa jenis obat yang digunakan untuk swamedikasi adalah obat-obat OTC (Over the Counter) antara lain pirantel pamoat, yang merek dagangnya diketahui oleh masyarakat luas berdasarkan iklan-iklan di televisi. Tindakan swamedikasi yang dilakukan tanpa konsultasi kepada praktisi kesehatan dapat menyebabkan kesalahan penggunaan obat bahkan terkadang dapat memperparah kondisi pasien.

Sebagai salah satu daerah terpadat di Surabaya, Kenjeran memiliki kepadatan penduduk rata-rata 15.882 jiwa per kilometer (tahun 2007), angka ini melebihi tingkat kepadatan penduduk rata-rata Surabaya yakni  7642,4 jiwa per kilometer di tahun 2002 (Hakim, 2010). Kondisi sosial ekonomi masyarakat di daerah Kenjaeran utamanya di daerah pesisir yang sebagian penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan umumnya rendah. Sehingga kemungkinan infeksi penyakit sangat besar, termasuk penyakit kecacingan.

Oleh karena itu perlu dilakukan suatu penelitian mengenai tingkat pengetahuan masyarakat di daerah Kenjeran tentang penyakit dan pengobatan kecacingan yang dapat digunakan sebagai acuan untuk penyuluhan guna pencegahan dan pengobatan kecacingan.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apakah masyarakat di daerah Kenjeran mengetahui tentang penyakit kecacingan?
  2. Apakah masyarakat di daerah Kenjeran menyadari bahaya penyakit kecacingan?
  3. Apakah masyarakat daerah Kenjeran mengetahui cara pencegahan dan pengobatan penyakit kecacingan?
  4. Mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat daerah Kenjeran tentang penyakit kecacingan.
  5. Mengetahui tingkat kesadaran masyarakat daerah kenjeran tentang bahaya penyakit kecacingan.
  6. Mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat daerah Kenjeran tentang pencegahan dan pengobatan penyakit kecacingan.

1.3 Manfaat Penyuluhan

Kegiatan ini bertujuan untuk memahami fenomena kesehatan, utamanya yang berkaitan dengan penyakit kecacingan di daerah Kenjeran yang mewakili daerah urban serta merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat berkaitan dengan cara pencegahan dan pengobatan kecacingan dalam upaya meningkatkan eksistensi profesi kefarmasian di benak masyarakat.

 

METODE PENELITIAN

 

        1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah dekriptif.

        2 Populasi dan Sampel

1. Populasi

Pada penelitian ini yang dijadikan sebagai populasi adalah masyarakat yang bertempat tinggal di kelurahan Bulak, kecamatan Kenjeran, Surabaya.

2. Sampel

Sampel bagian (subset) dari populasi yang dipilih dengan caratertentu hingga dianggap  mewakili populasi.

  1. Menentukan kriteria inklusi dan ekslusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian pada populasi. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah :

1.   orang tua

  1. bertempat tinggal di kelurahan Bulak, kecamatan Kenjeran, Surabaya.

Kriteria eksklusi adalah responden yang memenuhi kriteria inklusi namun tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian.

  1. Teknik Sampling

Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif atau benar-benar mewakili populasi.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling.

  1. Jumlah Sampling

Dalam survei ini kelompok kami menggunakan jumlah sampling sebanyak 50.

  3 Variabel Penelitian

Pada kuisoner terdapat tiga variabel penelitian, antara lain :

1.Tingkat pengetahuan masyarakat daerah Kenjeran tentang penyakit kecacingan.

2.Tingkat kesadaran masyarakat daerah kenjeran tentang bahaya penyakit kecacingan.

3. Tingkat pengetahuan masyarakat daerah Kenjeran tentang pencegahan dan pengobatan penyakit kecacingan.

  4 Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang dibantu oleh asisten (assisted questionnaire).

  5 Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data

Dalam penelitian ini pengolahan data dilakukan menggunakan bantuan  komputer dengan program SPSS versi 16.5.

1.6   Pelaksanaan Survei

Hari,Tanggal : Selasa, 16 November 2010

Waktu            : 09.00 – 21.00 WIB

Tempat          : Kelurahan Kenjeran, kecamatan Bulak, Surabaya.

Jumlah responden : 41 orang dengan response rate 82%

1.7  Pertanyaan

Untuk dapat menjawab rumusan masalah maka akan diteliti dua jenis tipe responden, yaitu responden yang belum pernah mengalami kecacingan dan responden yang sudah pernah menderita kecacingan. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan responden juga berbeda.

Responden yang pernah mengalami kecacingan akan menjawab pertanyaan seputar kecacingan berdasar pengalaman yang dimiliki. Hasilnya akan disajikan dalam bentuk data deskriptif berupa sebaran frekuensi masing-masing responden. Sementara responden yang belum pernah menderita kecacingan akan menjawab pertanyaan tentang pengetahuan seputar infeksi dan pengobatan kecacingan. Hasilnya akan disajikan dalam bentuk skor untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden serta distribusi frekuensi sebagai data deskriptif.

Kedua jenis pembagian tersebut bertujuan untuk mengetahui respon yang berbeda dari masing-masing responden. Hasilnya tidak dapat digunakan untuk perbandingan secara langsung mengingat masing-masing responden diukur dengan instrument yang berbeda, sehingga hasilnya hanya akan mewakili masing-masing kelompok responden.

4.7.1 Untuk Responden atau Anggota Keluarganya Pernah Menderita Kecacingan

NO.

PERTANYAAN

TUJUAN

HASIL YANG INGIN DICAPAI

1.

Jenis cacing apa yang pernah diderita? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang jenis cacing penyebab cacingan. Masyarakat mengetahui jenis cacing apa yang menjadi penyebab cacingan.

2.

Gejala apa yang paling sering dialami ketika menderita cacingan? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang gejala kecacingan. Masyarakat mengetahui gejala kecacingan baik yang spesifik maupun yang tidak spesifik.

3.

Tindakan apa yang dilakukan ketika terkena cacingan? Untuk mengetahui tindakan yang akan dilakukan ketika dirinya atau anggota keluarganya terinfeksi cacing. Masyarakat segera melakukan tindakan yang tepat ketika dirinya atau anggota keluarganya terinfeksi cacing.

4.

Obat apa yang digunakan untuk mengobati cacingan? Untuk mengetahui jenis pengobatan kecacingan yang dilakukan masyarakat. Masyarakat mengetahui jenis obat cacing yang beredar di pasaran

5.

Bagaimana aturan pakai dari obat yang anda minum? Untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang aturan pakai obat cacing. Masyarakat mengetahui aturan pakai obat cacing.

6.

Dimana biasanya obat cacing tersebut didapatkan? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang cara mendapatkan obat cacing. Masyarakat mengetahui tempat yang tepat untuk membeli obat cacing.

7.

Setelah terkena cacingan, apakah dianjurkan untuk meminum obat secara rutin? Untuk mengetahui tindakan yang dilakukan masyarakat setelah menderita kecacingan. Masyarakat mengetahui tindakan yang seharusnya dilakukan setelah menderita kecacingan.

8.

Darimana diperoleh info mengenai gejala penyakit cacingan? Untuk mengetahui sumber informasi masyarakat tentang cara mendapatkan informasi gejala kecacingan. Masyarakat mengetahui tempat atau sumber yang tepat untuk mendapatkan info mengenai gejala kecacingan.

9.

Darimana diperoleh info mengenai pencegahan dan pengobaatan cacingan? Untuk mengetahui sumber informasi masyarakat tentang cara mendapatkan informasi pencegahan dan pengobatan kecacingan. Masyarakat mengetahui tempat atau sumber yang tepat untuk mendapatkan info mengenai pencegahan dan pengobatan kecacingan.

10.

Dampak apakah yang dapat ditimbulkan bila cacingan tidak diobati? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang dampak yang ditimbulkan akibat kecacingan yang tidak diobati. Masyarakat mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat kecacingan yang tidak diobati.

 

Untuk Masyarakat yang Dirinya atau Anggota Keluarganya Tidak Pernah Menderita Kecacingan

NO

PERTANYAAN

TUJUAN

HASIL YANG INGIN DICAPAI

1.

Cacing di bawah ini dapat menyebabkan cacingan, kecuali? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat yang tidak pernah menderita kecacingan tentang jenis cacing penyebab cacingan. Masyarakat yang tidak pernah menderita kecacingan mengetahui jenis cacing penyebab kecacingan.

2.

Gejala apa yang timbul pada penderita cacingan? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat yang tidak pernah menderita kecacingan tentang gejala kecacingan. Masyarakat yang tidak pernah menderita kecacingan mengetahui gejala kecacingan baik yang spesifik maupun yang tidak spesifik.

3.

Bagaimana cara mencegah supaya tidak terkena cacingan? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang cara mencegah agar tidak terkena infeksi kecacingan. Masyarakat mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk mencegah agar tidak terkena infeksi kecacingan.

4.

Obat di bawah ini dapat digunakan untuk mencegah cacingan, kecuali? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang jenis obat cacing. Masyarakat mengetahui jenis obat cacing yang beredar di pasaran

5.

Apakah penderita cacingan perlu meminum obat cacing secara rutin? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang penggunaan obat cacing. Masyarakat mengetahui tentang penggunaan obat cacingan secara tepat.

6.

Dimanakah seharusnya tempat yang tepat untuk membeli obat cacing? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang cara mendapatkan obat cacing. Masyarakat mengetahui tempat yang tepat untuk membeli obat cacing.

7.

Darimanakah seharusnya mendapatkan informasi mengenai penyakit cacingan? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang cara mendapatkan informasi gejala kecacingan. Masyarakat mengetahui tempat atau sumber yang tepat untuk mendapatkan info mengenai gejala kecacingan.

8.

Berikut dampak berbahaya yang ditimbulkan oleh penyakit cacingan, kecuali? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang dampak yang ditimbulkan akibat infeksi kecacingan. Masyarakat mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat kecacingan.

9.

Apa yang seharusnya dilakukan bila menderita cacingan? Untuk mengetahui tindakan yang akan dilakukan jika dirinya atau anggota keluarganya terinfeksi cacing. Masyarakat segera melakukan tindakan yang tepat jika dirinya atau anggota keluarganya terinfeksi cacing.

10.

Siapakah biasanya yang sering terkena cacingan? Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang objek yang sering terinfeksi kecacingan. Masyarakat mengetahui bahwa infeksi kecacingan sering terjadi pada anak-anak.

 

PEMBAHASAN

1 Pengetahuan tentang Kecacingan

Untuk mengetahui bagaimana pengetahuan warga Kenjeran, baik yang keluarga atau dirinya sendiri pernah mengalami penyakit kecacingan maupun yang tidak pernah, mengenai penyakit kecacingan, kami mengajukan beberapa pertanyaan, antara lain: jenis cacing penyebab infeksi kecacingan, gejala kecacingan, informasi tentang kecacingan, informasi tentang pengobatan kecacingan, dan juga dampak mengenai infeksi kecacingan.

Dari survai yang kami lakukan mengenai pengetahuan masyarakat tentang penyakit kecacingan, jenis cacing yang paling banyak dikenali oleh masyarakat adalah cacing kremi. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan antara lain adalah karena cacing kremi merupakan penyebab penyakit kecacingan yang umum terjadi di masyarakat karena penyebarannya mudah terjadi yaitu baik secara intrapersonal maupun dari higienisitas lingkungan sekitar tempat tinggal penduduk. Vektor dari penyakit yang disebabkan oleh cacing kremi banyak ditemukan di lingkungan sekitar tempat tinggal masyarakat, antara lain tanah yang biasa digunakan oleh anak-anak untuk bermain, higienisitas lingkungan termasuk sanitasi, baik yang ada pada tiap rumah atau yang digunakan bersama oleh warga masyarakat, maupun orang yang sudah terinfeksi oleh penyakit tersebut. Cacing gelang dan cacing tambang kurang dikenali oleh masyarakat kemungkinan karena penyakit kecacingan yang disebabkan oleh kedua cacing tersebut jarang terjadi di daerah Kenjeran.

Untuk responden yang dirinya atau keluarganya belum pernah menderita kecacingan mengetahui bahwa cacing wawo tidak menyebabkan infeksi kecacingan. Hal ini dapat disebabkan mereka telah menerima informasi yang berkaitan dengan kecacingan dari sekolah, media informasi maupun tenaga kesehatan. Di sisi lain 45% responden tidak mengetahui bahwa cacing kremi dan cacing tambang dapat menyebabkan infeksi kecacingan. Hal ini dapat disebabkan masyarakat tidak pernah mendapatkan penyuluhan atau informasi, baik dari tenaga kesehatan di daerahnya dan media informasi maupun mencari informasi secara mandiri, karena menganggap penyakit kecacingan tidaklah menimbulkan bahaya bagi tubuh secara signifikan.

Perbandingan antara kelompok responden yang mengetahui dan yang tidak mengetahui tentang jenis cacing yang tidak menginfeksi tubuh manusia tidak berbeda secara signifikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa belum tentu masyarakat yang dirinya maupun keluarga mereka belum pernah terinfeksi kecacingan memiliki pengetahuan mengenai jenis cacing yang infeksius terhadap tubuh manusia. Hal ini berarti bahwa kedua kelompok masyarakat memiliki pengetahuan yang tidak berbeda.

Gejala kecacingan yang paling umum diketahui oleh masyarakat luas adalah gejala gatal-gatal pada dubur. Gejala ini merupakan gejala yang paling mudah diketahui pada penyakit kecacingan terutama pada penyakit cacing kremi yang umum terjadi di masyarakat. Sedangkan gejala menurunnya berat badan kemungkinan diketahui oleh masyarakat dari pengalaman yang dialami saat anak atau keluarga mereka menderita penyakit kecacingan. Pengetahuan masyarakat mengenai keterkaitan antara penurunan berat badan dan penyakit kecacingan menunjukkan bahwa tingkat perhatian masyarakat akan kesehatan cukup tinggi. Hal ini dimungkinkan oleh banyaknya media yang menginformasikan tentang penyakit kecacingan yang dapat dengan mudah diketahui oleh masyarakat.

Sementara masyarakat yang keluarga atau dirinya belum pernah terinfeksi penyakit kecacingan mengetahui gejala yang diakibatkan oleh infeksi kecacingan. Hasil survai menyatakan 55% responden menjawab gatal pada dubur, 36% diare dan 9% muntah. Sebesar 55% responden menyatakan bahwa gatal-gatal pada dubur merupakan gejala umum infeksi cacingan, hal ini disebabkan cacing yang utamanya menyebabkan infeksi kecacingan pada masyarakat Kenjeran adalah cacing kremi (berdasarkan data survai pertanyaan 1). Muntah dan diare juga merupakan gejala yang ditimbulkan  pada penyakit kecacingan karena kecacingan dapat menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan, namun keduanya jarang terjadi, sehingga responden yang memilih kedua gejala tersebut lebih sedikit. Hal ini berarti bahwa kedua kelompok masyarakat, baik masyarakat yang dirinya atau keluarganya pernah terinfeksi penyakit kecacingan maupun bagi masyarakat yang keluarga atau dirinya belum pernah terinfeksi penyakit kecacingan, memiliki pengetahuan yang cukup memadai mengenai gejala yang timbul pada penyakit kecacingan yang menginfeksi tubuh manusia.

Masyarakat mendapatkan informasi yang paling banyak mengenai gejala penyakit kecacingan dan juga pencegahan dan pengobatan adalah dari tenaga kesehatan. Selain dari tenaga kesehatan, masyarakat juga banyak yang mendapatkan informasi dari kerabat atau teman dan juga dari media informasi. Hal ini tentu saja akan sangat menguntungkan masyarakat apabila informasi mengenai gejala, pencegahan, dan cara pengobatan penyakit kecacingan tidak hanya dari tenaga kesehatan yang mungkin saja jarang ditemui oleh masyarakat, namun juga dari media informasi atau bahkan dari kerabat sendiri sehingga membuat masyarakat boleh mengerti bagaimana harus bertindak ketika mengetahui adanya gejala penyakit kecacingan ini. Dari hasil survai, ada masyarakat yang mengerti sendiri mengenai gejala penyakit kecacingan ini.

Sementara masyarakat yang keluarga ataupun dirinya belum pernah terinfeksi penyakit kecacingan memilih Puskesmas atau Rumah Sakit sebagai tempat dimana mereka bisa memperoleh informasi tentang kecacingan. Hal itu disebabkan masyarakat mengenal dokter sebagi profesi yang memiliki keahlian dalam bidang kesehatan. Sedangkan apoteker di apotek belum dikenal eksistensinya sebagai salah satu profesi yang bergerak di bidang kesehatan. Media Informasi juga jarang menyediakan informasi berkenaan dengan kecacingan. Sedangan pihak lain seperti saudara maupun teman merupakan pilihan kesekian karena dianggap kurang memiliki pengetahuan berkenaan dengan kecacingan atau mereka merupakan alternatif pemberi informasi bila mereka  memiliki pengalaman terinfeksi. Hal ini berarti bahwa kedua kelompok masyarakat, baik masyarakat yang dirinya atau keluarganya pernah terinfeksi penyakit kecacingan maupun bagi masyarakat yang keluarga atau dirinya belum pernah terinfeksi penyakit kecacingan, memiliki pengetahuan yang cukup memadai mengenai tempat untuk mendapatkan informasi mengenai penyakit kecacingan.

Untuk lebih mengetahui apakah masyarakat Kenjeran mengerti bahaya dari penyakit kecacingan, maka mereka diberikan pertanyaan mengenai dampak apakah yang terjadi akibat penyakit kecacingan itu sendiri. Banyak masyarakat yang mengetahui bahwa penyakit kecacingan ini dapat membuat pertumbuhan seorang anak menjadi terganggu, perutnya membuncit, dan juga anemia. Namun, anemia adalah salah satu dampak dari penyakit kecacingan yang disebabkan oleh jenis cacing tertentu dan bukan merupakan dampak umum dari penyakit kecacingan itu sendiri. Lebih dari 50% responden mengetahui dampak berbahaya akibat infeksi kecacingan yaitu sebesar 46% anemia, 36% konsentrasi belajar menurun, 18% pertumbuhan terganggu dan mereka juga mengetahui bahwa cacingan tidak menyebabkan dehidrasi. Konsentrasi belajar yang turun disebabkan asupan nutrisi tubuh diabsorpsi oleh cacing sehingga tubuh merasa lemah, asupan nutrisi yang kurang menyebabkan pertumbuhan terganggu atau terhambat. Necator americanus atau cacing tambang menyerap darah manusia sehingga dapat menimbulkan anemia bila infeksi tersebut tidak segera ditangani. Hal ini berarti bahwa kedua kelompok masyarakat, baik masyarakat yang dirinya atau keluarganya pernah terinfeksi penyakit kecacingan maupun bagi masyarakat yang keluarga atau dirinya belum pernah terinfeksi penyakit kecacingan, memiliki pengetahuan yang cukup memadai mengenai dampak dari penyakit kecacingan.

Melalui survai ini dapat dikatakan bahwa pengalaman seseorang mengenai penyakit kecacingan (baik itu pernah dialami sendiri atau keluarganya) mempengaruhi pengetahuannya menenai penyakit kecacingan.dari duan kelompok responden yang berbeda ternyata kelompok yang pernah menderita cacingan lebih banyak mengetahui hal yang benar tentang gejala dan dampak kecacingan sementara kelompok yang belum pernah menderita kecacingan, masih ada yang tidak mengetahui hal yang benar tentang gejala dan dampak kecacingan. Oleh karena itu diperlukan adanya penyuluhan mengenai penyakit kecacingan pada masyarakat Kenjeran sehingga pengetahuan masyarakat terhadap penyakit kecacingan dapat lebih ditingkatkan dan masyarakat dapat lebih mencegah terjadinya penyakit kecacingan.

 

2 Kesadaran Tentang Bahaya Kecacingan

Untuk mengetahui tingkat kesadaran masyarakat Kenjeran tentang bahaya kecacingan, ada beberapa parameter yang digunakan diantaranya tindakan dalam mengatasi infeksi kecacingan serta pencegahan kecacingan baik secara farmakologik maupun non farmakologik. Pada responden yang pernah mengalami kecacingan baik dirinya sendiri atau keluarganya, tindakan pengobatan yang sering dilakukan untuk mengatasi penyakit kecacingan oleh masyarakat adalah tindakan swamedikasi, yaitu pengobatan yang dilakukan sendiri. Swamedikasi banyak dipilih oleh masyarakat karena sebagian masyarakat kurang mengerti akan bahaya kecacingan lebih lanjut dan masyarakat beranggapan bahwa bahaya penyakit cacingan yang disebabkan oleh cacing kremi bukanlah sesuatu yang perlu diwaspadai secara serius dan cukup dilakukan pengobatan secara swamedikasi. Namun demikian, jumlah masyarakat yang menyadari akan adanya bahaya yang lebih serius dan memutuskan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter cukup banyak.

Hampir tidak jauh berbeda dengan responden yang pernah mengalami kecacingan, 64% responden yang tidak pernah mengalami kecacingan memilih untuk memeriksakan penyakit kecacingan  kepada tenaga kesehatan dan 36% sisanya memilih untuk melakukan tindakan swamedikasi dengan obat cacing yang tersedia di pasaran. 64% responden datang kepada tenaga kesehatan karena ingin segera menghilangkan gejala yang ditimbulkan oleh penyakit kecacingan (yang tersering adalah gatal pada dubur) karena menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu rutinitas hidup, serta menghindarkan anak mereka dari bahaya terserang penyakit yang lain. Pengobatan kecacingan dengan jamu belum dikenal luas dalam masyarakat. Dan tidak ada yang menunggu hingga sembuh tanpa tidakan apapun, karena masyarakat ingin segera gejala hilang, dapat menjalankan rutinitas seperti pada kondisi sehat, dan tidak ingin kondisi penyakit tersebut semakin parah.

 

            Dari hasil survey dapat dilihat bahwa baik responden yang mengalami maupun tidak sama-sama melakukan tindakan pengobatan terhadap kecacingan dengan memeriksakan ke tenaga kesehatan seperti ke dokter atau dengan cara swamedikasi. Banyaknya masyarakat yang melakukan pengobatan baik secara swamedikasi maupun pemeriksaan lebih lanjut ke dokter menunjukkan tingkat kesadaran yang cukup tinggi untuk meningkatkan kualitas kesehatan.

Untuk parameter berikutnya yaitu tindakan pencegahan baik secara non farmakologis maupun farmakologis. Dari hasil survei mengenai perlunya terapi obat cacing secara teratur setelah pasien sembuh dari penyakit kecacingan didapatkan bahwa masyarakat Kenjeran ada yang tetap meminum obat cacing dan ada juga yang tidak lagi meminum obat cacing tersebut. Masyarakat yang tetap minum obat cacing beranggapan bahwa penyakit kecacingan dapat dicegah dengan minum obat cacing secara teratur.     Bagi masyarakat yang tetap minum obat cacing meskipun sudah sembuh dari penyakit kecacingan, paling banyak memilih untuk meminum obat cacing enam bulan sekali. Ada pula yang memilih 3 bulan sekali, namun lebih parahnya lagi ada yang memilih meminum obat cacing setelah sembuh adalah sebulan sekali bahkan seminggu sekali.

Dari hasil ini disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Kenjeran sudah mengerti mengenai perlunya minum obat cacing sebagai pencegahan namun belum mengetahui tentang aturan pakai yang tepat. Aturan pakai obat cacing untuk tujuan penyembuhan dan pencegahan itu berbeda. Untuk penyembuhan, masyarakat diberikan obat cacing setiap tiga bulan sekali (disesuaikan dengan obat yang digunakan) dan untuk pencegahan diberikan setiap enam bulan sekali. Bagi masyarakat yang tidak memilih untuk tetap minum obat cacing, lebih memilih untuk merubah pola atau gaya hidup dengan menjaga hidup bersih karena menyadari bahwa lingkungan sangatlah berpengaruh besar terhadap terinfeksinya penyakit kecacingan ini. Ada pula yang memilih untuk rutin memeriksakan diri ke dokter, rajin meminum temulawak karena diyakini bahwa temulawak memiliki khasiat untuk mencegah bahkan mengobati penyakit kecacingan pada masyarakat. Namun masih ada pula masyarakat yang masih belum menyadari mengenai hal ini dan ada yang memilih untuk tidak melakukan apa-apa setelah sembuh dari penyakit kecacingan tersebut.

Pada responden yang tidak pernah mengalami kecacingan tindakan pencegahan infeksi kecacingan antara lain 55% memilih mengonsumsi vitamin, 27% mandi secara teratur dan 18% memakai alas kaki saat keluar rumah. 55% responden menyatakan konsumsi vitamin dapat menjaga daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit, namun tindakan ini kurang tepat untuk mencegah kecacingan karena penyakit kecacingan utamanya disebabkan karena kurangnya kebersihan lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat dan atau bersih. Mandi secara teratur akan menjaga kebersihan tubuh, namun tindakan yang paling tepat untuk mencegah infeksi cacing adalah dengan menggunakan alas kaki saat keluar dari rumah karena infeksi cacingan pada umumnya terjadi akibat terinfeksi Soil Tramsmitted Helminth yang hidup di tanah.

Dari hasil survei ini dapat disimpulkan bahwa pada responden yang tidak pernah mengalami kecacingan cenderung kurang menyadari bahwa kebersihan diri dan gaya hidup bersih sangat mempengaruhi terjadinya infeksi penyakit kecacingan. Sedangkan pada responden yang keluarga atau dirinya pernah mengalami kecacingan mereka sadar akan bahaya kecacingan namun kurang mengerti bagaimana aturan pemakaian obat yang benar.

 

3 Pengetahuan Mengenai Pengobatan Infeksi Kecacingan

Untuk mengetahui bagaimana pengetahuan masyarakat Kenjeran tentang pencegahan dan pengobatan penyakit cacingan parameter yang digunakan diantaranya jenis, aturan pakai serta di mana mendapatkan antelmintik.

            Untuk jenis antelmintik pada responden yang kelurga atau dirinya pernah mengalami kecacingan, obat cacing yang paling dikenal oleh masyarakat baik yang memilih pengobatan secara swamedikasi maupun pemeriksaan lebih lanjut ke dokter adalah Pirantel Pamoat dengan merk dagang Combantrin. Banyaknya masyarakat yang mengenal Pirantel Pamoat sebagai obat cacing dikarenakan banyaknya informasi terkait Pirantel Pamoat yang mereka dapat dan juga dokter sering meresepkan Pirantel Pamoat sebagai obat cacing. Selain itu pengetahuan masyarakat tentang obat ini adalah karena penyakit cacing kremi banyak terjadi di masyarakat dan Combantrin merupakan obat cacing dengan kandungan bahan aktif pirantel pamoate yang efektif untuk mengatasi penyakit kecacingan yang salah satu penyebabnya adalah cacing kremi. Selain Combantrin, diketahui bahwa masyarakat banyak memilih untuk mengobati penyakit kecacingan dengan obat dari bahan alam yaitu temulawak yang mungkin didapatkan masyarakat melalui informasi dari orang terdekat. Namun demikian, dari survai yang kami lakukan, masih ada masyarakat yang memilih untuk membiarkan dan tidak mengobati penyakit kecacingan yang diderita oleh anak mereka.

Untuk responden yang tidak pernah mengalami kecacingan, 73% masyarakat mengetahui bahwa parasetamol tidak dapat digunakan untuk pengobatan kecacingan. 9% responden menjawab bahwa Convermox tidak dapat digunakan untuk pengobatan kecacingan, hal ini dapat disebabkan merek dagang ini belum banyak dikenal oleh masyarakat. Sedangkan 18% responden memilih Combantrin, hal ini dapat disebabkan pengetahuan masyarakat mengenai efek terapi obat masih minim.

 Obat yang Tidak Digunakan untuk Pengobatan Kecacingan

            Dari hasil yang didapat ini diketahui bahwa responden yang pernah mengalami kecacingan telah mengetahui pengobatan yang secara umum digunakan untuk penyakit kecacingan, sedangkan untuk responden yang tidak pernah mengalami kecacingan pengetahuan mereka dianggap masih minim.

Selanjutnya adalah bagaimana pengetahuan masyarakat tentang aturan pemakaian obat untuk penyakit kecacingan.

Dari hasil survei menunjukkan masyarakat telah mengetahui bagaimana aturan pakai obat cacing. Karena dikaitkan dengan pertanyaan sebelumnya, pirantel pamoat dikemas dalam sediaan sekali minum (merk dagang combantrin) sehingga adalah benar bila masyarakat meminumnya satu kali minum. Yang keliru adalah bila kemasan obat sekali minum tetapi diminum lebih dari sekali. Hal yang sama juga terjadi pada tablet, cukup sehari satu tablet).

Sedangkan pada responden yang tidak pernah mengalami penyakit kecacingan, 18% responden mengetahui cara pemakaian obat cacing untuk pengobatan infeksi kecacingan yaitu 3 bulan sekali. 55% responden menjawab pemakaian obat 6 bulan sekali, responden tidak mengetahui bahwa cara pemakaian obat cacing untuk mencegah dan mengobati infeksi kecacingan pemakaian berbeda. Sedangkan 27% responden tidak mengetahui cara pemakaian obat cacing secara tepat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa responden kurang mengetahui cara pemakaian obat cacing secara tepat.

Untuk pembelian obat cacing, masyarakat sudah banyak yang mengetahui tempat pembelian yang benar. Paling banyak masyarakat membeli di apotek, tapi masih ada juga yang membeli di warung dan toko-toko. Hal ini merupakan tanda bahwa masyarakat sudah lebih tahu bahwa pembelian obat yang benar adalah di apotek.

Semua responden memilih apotek sebagai tempat pembelian obat. Hal ini menandakan bahwa mereka sudah mengerti dimana tempat yang tepat untuk membeli obat cacingan karena apotek merupakan tempat dimana masyarakat dapat memperoleh obat sesuai indikasi yang sesuai dengan berbagai alternatif pilihan serta tempat dimana masyarakat memperoleh informasi berkenaan obat secara tepat.

Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa baik responden yang pernah mengalami penyakit kecacingan dan yang tidak sama – sama mengetahui di mana tempat pembelian obat yang tepat.

 

4 Penentuan Tingkat Pengetahuan Responden yang Dirinya maupun Keluarga Tidak Pernah Menderita Kecacingan dengan Metode Scoring

Metode scoring digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden yang dirinya atau keluarganya tidak pernah menderita kecacingan karena bertujuan untuk menilai tingkat pengetahuan responden. Penilaian ini dilakukan dengan cara bagi yang menjawab benar memperoleh nilai satu tiap jawaban benar dan nol bila salah. Responden dikatakan memiliki pengetahuan yang baik bila memperoleh nilai 8-10, sedang bila memperoleh nilai 5-7, dan kurang bila mmperoleh nilai kurang dari atau sama dengan 4. Dari 11 responden yang memiliki pengetahuan dan kesadaran yang baik mengenai penyakit kecacingan dan pengobatan penyakit kecacingan sebanyak 27%, cukup baik 55%, dan yang memiliki pengetahuan serta kesadaran yang rendah adalah sebanyak 18%.

KESIMPULAN DAN SARAN

1 Kesimpulan

  1. Responden yang sudah pernah menderita kecacingan mengetahui jenis cacing penyebab kecacingan dan gejala kecacingan, khususnya cacing kremi. Sementara responden yang belum pernah menderita kecacingan memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang jenis dan gejala kecacingan.
  2. Responden yang sudah pernah menderita kecacingan menyadari bahaya penyakit kecacingan, tetapi terbatas pada bahaya tertentu, yaitu penurunan berat badan.Sementara  responden yang belum pernah menderita kecacingan memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang bahaya kecacingan.
  3. Responden yang sudah pernah menderita kecacingan mengetahui cara pencegahan dan pengobatan penyakit kecacingan, hanya saja belum mengerti tentang aturan pemakaian yang tepat. Hal ini dapat disebabkan kurangnya informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan, baik dokter maupun apoteker berkaitan tentang aturan pemakaian obat secara tepat. Ketidaktahuan masyarakat mengenai bahaya penggunaan obat secara tidak tepat juga dapat menyebabkan mereka meremehkan panduan mengenai cara penggunaan atau pendosisan obat. Sementara responden yang belum pernah menderita kecingan memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang cara pencegahan dan pengobatan penyakit kecacingan, namun masih belum mengerti tentang aturan pemakaian yang tepat.
  4. Tingkat pengetahuan responden yang dirinya atau keluarganya tidak pernah terinfeksi kecacingan adalah sebagai berikut, 27% responden memiliki pengetahuan yang baik, 55% cukup baik, dan 18% kurang .

2 Saran

  1. Sebaiknya dilakukan penyuluhan berkenaan dengan pengetahuan mengenai penyakit kecacingan, pengobatan, cara pencegahan, dan cara memperoleh informasi secara baik dan benar.
  2. Sebaiknya kuesioner yang diberikan memiliki tipe pertanyaan yang sama untuk yang pernah dan tidak pernah menderita kecacingan agar dapat dibandingkan serta pertanyaannya lebih spesifik tentang pengetahuan berkenaan obat kecacingan, baik dalam hal tempat pembelian, pemilihan obat yang tepat, cara penggunaan obat, dosis obat untuk pencegahan maupun penggunaan pada berbagai usia, cara penyimpanan dan pembuangan bila sudah pada tanggal kadaluarsanya.
  3. Pemilihan sampel hendaknya memiliki kriteria yang lebih spesifik dan sampling dilakukan di bebarapa kecamatan yang dipilih secara random agar pengambilan kesimpulan dapat digeneralisasikan.
  4. Tipe pengukuran hasil sampling hendaknya sama antara yang pernah dan tidak pernah menderita kecacingan agar dapat dibandingkan.


DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta : Kencana.

Hakim, M. A. 2010. Social and Economic Mapping Sisi Madura dan Sisi Surabaya dalam Mendukung Tata Ruang Suramadu. http://sebranmas.pu.go.id/.. [Cited: Oktober 13, 2010.]

Poespoprodjo, J. R. and Sadjimin, T. 2000. Hubungan antara Tanah dan Gejala Penyakit Cacingan dengan Kejadian Kecacingan pada Usia Sekolah Dasar di Kecamatan Ampama Kota Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. s.l. : Jurnal Epidemiologi Indonesia, Vol. 4. 9-15.

Indonesia, Departemen Kesehatan Republik. 2004. Pedoman Umum Program Nasional Pemberantasan Cacingan di Era Desentralisasi. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman Pengendalian Cacingan. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan. 424/MENKES/SKN/VI.

—. 2010. Penyakit Kecacingan Masih Dianggap Sepele. http://www.depkes.go.id/. 2010. [Cited: Oktober 10, 2010.]

Jawetz, E., et al. 2005. Mikrobiologi Kedokeran. Jakarta : EGC.

Umar, Z. 2006. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. Vol. 2. 6.

Katzung, B. G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta : Salemba Empat.

Klinik, Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan, Kesehatan, Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat and Kesehatan, Departemen. 2006. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Obat Terbatas. Indonesia.

RI, Pusat Komunikasi Publik Sekjen Kemenkes. 2010. Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia 2010: Perilaku Sederhana Berdampak Luar Biasa. http://www.depkes.go.id/. [Cited: Oktober 15, 2010.]

Hu, Y., Xiao, S. H. and Aroian, R. V. 2009. The New Anthelmintic Tribendimidine is an L-type (Levamisole and Pyrantel) Nicotinic Acetylcholine receptor Agonist, Vol. 3.

Timur, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa. 2002. Pelaksanaan Program Kecacingan di Provinsi Jawa Timur. http://www.dinkesjatim.go.id/. [Cited: Oktober 10, 2010.]

Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2010. Kepadatan Penduduk di Kab/Kota Tahun 2002 Berdasarkan Ranking yang Tertinggi danTterendah. http://jatimprov.go.id/ [Cited: Oktober 10, 2010.]

Bethony, J., J. T. Williams, H. Kloos, J. Blangero, L. Alves-Fraga, G. Buck, and others.  (2001). Exposure to Schistosoma mansoni Infection in a Rural Area in Brazil: II. Household Risk Factors. Tropical Medicine and International Health 6 , 136-145.

Entjang, I.(2000). Ilmu Kesehatan Masyarakat.Bandung: PT. Citra Aditya.

Gandahusada, S. (2000). Parasitologi Kedokteran edisi ke 3. Jakarta: EGC.

Lansdown, R., A. Ledward, A.Hall,W. Issac, E.Yona, J.Matulu, and others. (2002). Schistosomiasis, Helminth Infection, and Health Education in Tanzania: Achieving Behaviour Change in Primary Schools. Health Education Research 17 , 425-433.

Notoatmodjo, S. (2002). Metode Penelitian Kesehatan.Jakarta: Rineka Cipta.

Oeswari, E. (1991). Penyakit dan Penanggulangannya.Jakarta: PT. Gramedia.

R.I, D. K. (1990). Materi Pelatihan Dokter Kecil.Jakarta: Depkes.

Rebecca, J. Traub, Ian D. Robertson, Peter, I., Norbert, M and R. C. Andrew Thompson. (June 2004). The prevalence, intensities and risk factors associated with geohelminth infection in tea-growing communities of Assam, India. Tropical Medicine and International Health Volume 9 No 6 , 688-701.

Salbiah. (2008). Hubungan Karakteristik Siswa dan Sanitasi Lingkungan dengan Infeksi Cacingan Siswa Sekolah Dasar di KecamatanMedanBelawan. 10.

Slamet, J. S. (2002). Kesehatan Lingkungan.Yogyakarta: Gajah Mada.

Suma’mur. (1996). Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: PT. Toko Gunung Agung.

Yulianto, E. 2007. Hubungan Higiene Sanitasi Dengan Kejadian Penyakit. Hal. 19-28.

Category: Farmasi Komunitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *