apotik online terpercaya

Patofisiologi, Gejala Klinik, Diagnosis dan Epidemiologi Cacing Tambang (Ancylostoma duodenale & Necator americanus)

| August 12, 2012 | 0 Comments
  1. 1.            Infeksi Cacing Tambang

Infeksi cacing tambang pada manusia disebabkan oleh infeksi parasit cacing nematoda N. americanus dan Ancylostoma duodenale yang penularannya melalui kontak dengan tanah yang terkontaminasi. Cacing ini merupakan penyebab infeksi kronis yang paling sering. N. americanus merupakan cacing tambang yang paling banyak dijumpai di berbagai belahan dunia. (Tanaka dkk, 1980; Beaver dkk, 1984; Strikland, G.T. dkk, 2000).

  1. 2.            Lingkungan Hidup

Hospes parasit ini adalah manusia. Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa usus. Cacing betina menghasilkan 9.000 – 10.000 butir telur sehari, mempunyai panjang sekitar 1 cm. Cacing jantan kira-kira 0,8 cm. Cacing dewasa berbentuk seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi. Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut: telur cacing akan keluar bersama tinja, setelah 1–1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larva rabditiform. Dalam waktu sekitar 3 hari larva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7–8 minggu di tanah. Setelah menembus kulit, larva ikut aliran darah ke jantung terus ke paru-paru. Di paru-paru menembus pembuluh darah masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit atau ikut tertelan bersama makanan. (Kementerian Kesehatan RI, 2006)

Gambar 3

Lingkar Hidup Cacing Tambang

  1. 3.            Patofisiologi

Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus tapi melekat dengan giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Infeksi cacing tambang menyebabkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia) akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas (Kementerian Kesehatan RI, 2006)

  1. 4.            Gejala Klinik Dan Diagnosis

Gejala klinik karena infeksi cacing tambang antara lain lesu, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, pucat, rentan terhadap penyakit, prestasi kerja menurun dan anemia (anemia hipokrom micrositer). Disamping itu juga terdapat eosinofilia. (Kementerian Kesehatan RI, 2006)

  1. 5.            Epidemiologi

Kejadian penyakit ini di Indonesiasering ditemukan terutama di daerah pedesaan, khususnya di perkebunan atau pertambangan. Cacing ini menghisap darah hanya sedikit namun luka-luka gigitan yang berdarah akan berlangsung lama, setelah gigitan dilepaskan dapat menyebabkan anemia yang lebih berat. Kebiasaan buang air besar di tanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun sangat berperan dalam penyebaran infeksi penyakit ini (Gandahusada, 1998). Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir, humus) dengan suhu optimum 32oC – 38oC. Untuk menghindari infeksi dapat dicegah dengan memakai sandal atau sepatu bila keluar rumah (Kementerian Kesehatan RI, 2006)

Category: Kesehatan Lingkungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *