Obat untuk Terapi Asma


Terapi Asma

  1. b2 Agonis

b2 agonis short acting merupakan bronkodilator yang paling efektif. Reseptor b2 adrenergik menstimulasi aktivasi adenil siklase, yang memproduksi adenil monofosfat siklase intraseluler sehingga menyababkan relaksasi otot polos, menstabilkan membran sel mast,dan menstimulasi otot rangka.

Administrasi aerosol meningkatkan selektifitas terhadap bronkus dan menyebabkan respon yang cepat serta lebih aman dalam mencegah terjadinya profokasi terjadinya bronkospasme (karena olahraga, alergen) daripada penggunaan secara sistemik.

Inhalasi b2 agonis adalah pengobatan pilihan untuk EIB. b2 agonis short acting menjamin proteksi lengkap selama 2 jam setelah inhalasi; sedangkan obat long acting menjamin proteksi signifikan selama 8 hingga 12 jam, namun durasi efektivitasnya akan menurun dengan penggunaan rutin.

Beberapa contoh obat golongan b2 agonis adalah isoproterenol, metaproterenol, albuterol, pirbuterol, perbutalin, terbutalin, formoterol, dan salmeterol.

 

  1. Kortikosteroid

Kortikosteroid meningkatkan jumlah reseptor b2 adrenergik dan meningkatkan rensponsifitas reseptor terhadap stimulasi b2 adrenergik sehingga produksi dan hipersekresi mucus menurun, menurunkan BHR, serta mengurangi edema saluran nafas dan eksudasi.

Kortikosteroid inhalasi dipilih untuk terapi asma yang persisten karena potensi dan efektifitasnya yang konsisten serta karena kortikosteroid merupakan satu-satunya terapi yang menunjukkan penurunan terjadinya kematian akibat asma. Dosis yang digunakan umumnya sehari 1 hingga 2 kali, namun untuk pasien dengan penyakit yang lebih parah dibutuhkan beberapa dosis per hari. Karena respon inflamasi asma menghambat ikatan ikatan pada reseptor steroid, pasien harus mengawali dengan dosis awal yang tinggi dan lebih frekuen lalu dosis di turunkan bertahap setelah asma dapat dikontrol. Respon dari kortikosteroid inhalasi ditunda (delayed), geala dapat teratasi pada 1 hingga 2 minggu pertama dan mencapai efektivitas maksimum pada 4 hingga 8 minggu. FEV1 dan PEV dapat diatasi pada penggunaan kortikosteroid selama 3 hingga 6 minggu.

 

  1. Metilxantin

Metilxantin menyebabkan bronkodilatasi dengan penghambatan fosfodiesterase. Penghambatan fosfodiesterase juga dapat menyebabkan penurunan aktivitas antiinflamasi dan nonbronkodilator lainnya melalui penurunan release mediator sel mast, penuruanan release eosinofil, penurunan proliferasi limfosit T, penuruanan release sitokin sel T, dan penurunan eksudasi plasma.

Contoh : Teofilin

 

  1. Antikolinergik

Antikolinergik merupakan kompetitif inhibitor dari reseptor muskarinik sehingga menyebabkan bronkodilatasi pada bronkokonstriksi yang dimediasi saraf kolinergik. Antikolinergik merupakan bronkodilator yang efektif walau tidak sebaik b2 agonis. Antikolinergik menghambat namun tidak memblok allergen maupun olahraga yang menginduksi asma.

Contoh : ipratropium dan tiotroprium bromida

  1. Mast Cell Stabilizers

Mast Cell Stabilizers menghambat respon allergen dan EIB namun tidak menyebabkan bronkodilatasi.

Contoh : Kromolin Sodium dan Nedokromil Sodium

 

  1. Leukotriene Modifiers

Antagonis reseptor leukotrien peroral mengurangi agen proinflamasi (meningkatkan permeabilitas mikrovaskular dan edema saluran nafas) dan efek bronkokonstriksi dari leukotrien D4. Leukotriene Modifiers memberikan hasil yang lebih baik pada tes fungsi paru-paru, mengurangi terjadinya bangun tengah malam, dan penggunaan b2 agonis serta mengatasi gejala asma.

 

  1. Terapi Kombinasi

 

  1. Omalizumab

Omalizumab merupakan anti Ig-E antibody yang dapat digunakan untuk pasien yang tidak terkontrol asmanya dengan pengobatan inhalsi maupun per oral kortikosteroid.

 


Leave a Reply