Obat – Obat Antihipertensi #5


Cara Cepat Hamil

  1. A.    DIURETIK

Diuretik tiazid merupakan terapi dasar antihipertensi pada sebagian besar penelitian. Pada penelitian-penelitian tersebut, termasuk Antihypertensive And Lipid Lowering Treatment To Prevent Heart Attack Trial, diuretik lebih baik dalam mencegah komplikasi kardiovaskular akibat penyakit hipertensi.

Diuretik menambah keampuhan obat-obat hipertensi, berguna untuk mengontrol tekanan darah dan lebih terjangkau dari pada obat-obat antihipertensi lain. Diuretik seharusnya dipakai sebagai pengobatan awal terapi hipertensi untuk semua pasien, baik secara sendiri maupun kombinasi dengan 1 dari golongan obat antihipertensi lain (ACE inhibitor, ARBs, ?-Blocker, CCB), karena memberikan manfaat pada beberapa penelitian. Namun jika obat ini tidak ditoleransi secara baik atau merupakan kontraindikasi, sedangkan obat dari golongan lain tidak, maka pemberian obat dari golongan lain tersebut harus dilakukan (Curb JD et al 1999). Selain itu, tiazid berguna untuk memperlambat demineralisasi pada osteoporosis.

Diuretik tiazid harus diperhatikan pada pasien yang mempunyai riwayat gout atau hiponatremia signifikan. ACE inhibitor dan ARBs tidak diberikan pada wanita yang diduga hamil dan merupakan kontraindikasi bagi wanita yang hamil; ACE inhibitor tidak diberikan pada individu yang mempunyai riwayat angioedema. Antagonis aldosteron dan kalium sparing diuretik dapat menyebabkan hiperkalemia dan biasanya dihindari pada pasien dengan kadar kalium lebih dari 5.0 mEq/L (Dahlof B et al 2001).

  1. B.     BETA BLOCKER

?-blocker berguna pada penatalaksanaan takiaritmia arteri/fibrilasi, migraine, tirotoksikosis (jangka pendek), tremor esensial, atau hipertensi perioperatif. ?-blocker biasanya dihindari pada pasien yang memiliki riwayat asma, penyakit saluran pernafasan reaktif atau blok jantung derajat dua atau tiga (Curb JD et al 1999).

?-blocker mengantagonis katekolamin pada reseptor beta1 dan beta2 yang dapat mengakibatkan penurunan curah jantung hingga timbul kemungkinan bradikardi sekaligus menurunkan tahanan vascular perifer sehingga bermanfaat untuk terapi antihipertensi dan infark miokard akut. Obat-obat golongan beta blocker juga menghasilkan suatu penurunan tekanan darah yang cukup tanpa timbul hipotensi postural yang nyata.

Efek samping penggunaan beta blocker adalah terjadi manifestasi kegugupan, takikardi, peningkatan intensitas angina, atau peningkatan tekanan darah sehingga penghentian penggunaan beta blocker sebaiknya dilakukan secara bertahap. Beta blocker juga meningkatkan trigliserida plasma dan menurunkan HDL sehingga dapat menimbulkan aterogenesis.

  1. C.    CALCIUM CHANNEL BLOCKER

Calcium channel blocker berguna pada sindrom Raynaud dan aritmia tertentu, dan prostatisme (Gutzwiller F, 1999). Penghambat kanal kalsium melebarkan arteriol perifer  dan mengurangi tekanan darah. Mekanisme kerja dengan menghambat influks kalsium ke dalam sel otot polos arteri.

Verapamil, diltiazem, dan keluarga dihidropiridin (Amlodipin, Nifedipin, Nicardipin, Isradipin, dan lain-lain) memiliki kemampuan yang sama efektifnya dalam menurunkan tekanan darah. Aktivasi refleks simpatis dengan takikardia ringan akan mempertahankan dan meningkatkan curah jantung sehingga tidak memberikan efek terapi yang signifikan pada penderita Infark Miokard Akut bila menggunakan Ca Channel Blocker golongan dihidropyridine sebagai antihipertensi.

  1. D.    ACE INHIBITOR

Pelepasan renin dari korteks ginjal dirangsang oleh berkurangnya tekanan arteri renalis, rangsangan saraf simpatis, dan berkurangnya asupan natrium pada tubuli distalis ginjal. Renin bekerja pada substratnya, suatu globulin alpha2, melepaskan dekapeptida angiotensin I yang tidak aktif. Kemudian dengan bantuan Angiotensin Converting Enzyme (ACE), angiotensin I dikonversikan menjadi oktapeptida angiotensin II di paru-paru yang merupakan suatu vasokonstriktor arteri yang selanjutnya dikonversikan di kelenjar adrenalis menjadi angiotensin II. Angiotensin II memiliki aktivitas vasokonstriktor dan menahan natrium. Angiotensin kemungkinan berperan dalam mempertahankan tahanan vaskular yang tinggi pada keadaan hipertensif.

Obat golongan ACE inhibitor bekerja dengan menghambat Angiotensin Converting Enzyme dalam menghidrolisis Angiotensin I menjadi Angiotensin II sehingga mengurangi aktivitas vasokontriksi sekresi Aldosteron yang berakibat penurunan tekanan darah yang berakibat berkurangnya hipertensi. ACE inhibitor juga tidak menimbulkan reflex saraf simpatis sehingga tidak menimbulkan masalah terhadap penderita hipertensi dengan Infark Miokard Akut.

Efek samping yang timbul pada pada penggunaan ACE inhibitor pada dosis awal terjadi hipotensi berat, gagal ginjal akut pada penderita hipertensi dengan stenosis ginjal, serta dihindari penggunaan pada kehamilan trimester kedua dan ketiga karena risiko hipotensi janin, anuria dan kegagalan ginjal.

  1. E.     ANGIOTENSIN INHIBITOR

Terapi antihipertensi dengan obat-obat golongan Angiotensin Inhibitor bekerja menurunkan hipertensi dengan mencegah penginaktifan Bradikinin sehingga meningkatkan sintesis prostaglandin yang berakibat peningkatan efek vasodilatasi karena danya penurunan tahanan vascular perifer sehingga tercapai efek penurunan tekanan darah.

Efek samping yang timbul pada terpai dengan golongan ini hamper sama dengan efek samping yang timbul dengan efek samping yang timbul akibat ACE inhibitor.

  1. F.     OBAT-OBAT SIMPATOPLEGIK YANG BEKERJA SENTRAL.

Metildopa dan klonidin yang merupakan dua contoh utama dari obat-obat dalam golongan ini digunakan sebagai terapi antihipertensi dengan mekanisme kerja mengurangi aliran simpatis dari pusat-pusat vasopressor di dalam batang otak tetapi menyebabkan pusat-pusat ini tetap atau bahkan meningkatkan kepekaan kepada kontrol baroreseptor. Sesuai dengan itu, antihipertensi dan kerja toksik obat-obat ini umumnya tidak begitu bergantung pada posisi tubuh sehingga tidak menimbulkan efek hipotensi postural. Obat-obat dalam golongan ini meningkatkan tonus parasimpatis dan menurunkan tonus simpatis sehingga mengakibatkan penurunan tekanan darah dan bradikardi sehingga bermanfaat dalam terapi antihipertensi.

Efek samping dari obat simpatoplegik yaitu menimbulkan sedasi yang tampak jelas, mimpi buruk, depresi mental, vertigo. Pada penggunaan awal, obat simpatoplegik meningkatkan tekanan darah baru diikuti hipotensi dalam waktu lama sehingga sedikit berbahaya pada pasien hipertensi dengan infark miokard akut.

  1. G.    Obat-obat penyakat ganglion.

Obat obat bekerja sebagai terapi antihipertensi dengan menyakat kolinoseptor nikotinik pada saraf-saraf pasca ganglionik baik pada ganglion simpatis maupun parasimpatis. Selain itu, obat ini juga menyakat kanal Acethylcoline nikotinik.

Trimetaphan merupakan jenis obat dalam golongan ini yang sering digunakan dengan diberikan secara intravena untuk mendapatkan efek maksimalnya segera untuk penanganan krisis hipertensi. Efek-efek hipertensi yang timbul sangat bergantung pada pengumpulan darah pada pembuluh kapasitans sehingga tempat tidur pasien harus dinaikkan pada bagian kepala untuk mendapatkan antihipertensi maksimal.

Efek samping Trimetaphan antara lain efek simpatoplegik (hipotensi ortostatik berlebihan dan disfungsi ereksi) dan efek parasimpatolplegi (konstipasi, retensi urin, mulut kering, galukoma, dan lain-lain).

 

 

Tabel 4.Macam-macam Obat Antihipertensi Oral dan Cara Pemberiannya, (JNC, 1997)

Obat-Obat Antihipertensi Oral

golongan

Obat

Dosis Lazim

Frekuensi per hari

Diuretik Tiazid Klorotiazide

125-500

1

Klortalidon

12.5-25

1

Hidroklorotiazide

12.5-50

1

Politiazide

2-4

1

Indapamide

12.5-2.5

1

Metolazone

0.5-1

1

Loop diuretik Bumetanide

0.5-2

2

Furosemide

20-80

2

Torsemide

0.5-10

1

Kalium sparing diuretic Amiloride

5-10

1-2

Triamterene

50-100

1-2

Aldosterone-receptor blocker Eplerenon

50-100

1-2

Spironolactone

25-50

1-2

?-Blocker Atenolol

25-100

1

Betaxolol

5-20

1

Bisoprolol

2.5-10

1

Metoprolol

50-100

1-2

Nadolol

40-120

1

Propanolol

40-160

2

Timolol

20-40

2

?-Blocker dengan aktivitas simpato-mimetik intrinsik Acebutolol

200-800

2

Penbutolol

10-40

1

Pindolol

10-40

2

Kombinasi ? dan ? blocker Carvedilol

12.5-50

2

Labetalol

200-800

2

ACE inhibitor Benazepril

10-40

1-2

Captopril

25-100

2

Enalapril

2.5-40

1-2

Fosinopril

10-40

1

Lisinopril

10-40

1

Antagonis Angiotensin II Losartan

25-100

1-2

Candesartan

8-32

1

Eprosartan

400-800

1-2

Irbesartan

150-300

1

Olmesartan

20-40

1

Calcium channel blocker ? non dihidropiridin Diltiazem extended release

180-420

1

Verapamil immediate release

80-320

2

Verapamil long acting

120-360

1-2

Calcium channel blocker ? dihidropiridin Amlodipine

2.5-10

1

Felodipine

2.5-20

1

Isradipine

2.5-10

2

Nicardipine sustained release

60-120

2

Nifedipine long-acting

30-60

1

?1 Blocker Doxazosin

1-16

1

Prazosin

2-20

2-3

Terazosin

1-20

1-2

?2 agonis sentral dan obat lain yang bekerja sentral Clonidine

0.1-0.8

2

Metildopa

250-1000

1

Reserpin

0.05-0.25

1

Guanfacine

0.5-2

1

Vasodilator langsung Hidralazine

25-100

2

Minoxidil

2.5-80

1-2

 

Sebagian besar pasien hipertensi memerlukan dua atau lebih obat-obat antihipertensi lain untuk mencapai target tekanan darah yang diingini. Tambahan obat kedua dari golongan lain seharusnya dimulai jika penggunaan obat tunggal pada dosis yang adekuat gagal mencapai target tekanan darah yang diingini. Bila tekanan darah di atas 20/10 mmHg dari target, pertimbangkan untuk memulai terapi dengan dua obat, baik pada sebagai resep yang terpisah maupun pada dosis kombinasi tetap. Pemberian obat antihipertensi dengan dua obat dapat mencapai target tekanan darah yang diingini dalam waktu yang singkat, namun mesti diperhatikan adanya hipotensi ortostatik, seperti pada pasien diabetes mellitus, disfungsi otonom, dan beberapa kelompok usia tua (SHEP, 2001).

Penurunan tekanan sistolik lebih dari 10 mmHg pada posisi berdiri yang disertai rasa pusing dan cemas disebut hipotensi postural dan banyak terjadi pada penderita lansia dengan hipertensi sistolik, diabetes dan mereka yang sedang menggunakan diuretik, venodilator (seperti nitrat, ? blocker) dan beberapa obat psikotropika. Tekanan darah pada pasien ini harus dimonitor pada posisi terlentang. Perhatian meliputi penghindaran deplesi volume dan titrasi dosis obat antihipertensi yang terlalu cepat (Trenkwalder P et al, 2004).



Leave a Reply