apotik online terpercaya

Mengetahui pengaruh substansi adrenergic dan cholinergic yaitu asetilkolin, adrenalin, pilokarpin, sulfas atropin terhadap gambaran kontraksi otot polos visceral secara in-vitro.

| July 20, 2012 | 0 Comments

I.                  PENDAHULUAN.

Latar Belakang Teoritis

Sel otot polos berbentuk gelendong mempunyai diameter 2-5 micron dan panjangnya 60-200 micron.

Ada dua tipe otot polos :

  1. Multi unit smooth muscle
  2. Visceral unit smooth muscle

Definisi :

  1. Otot olos Multi Unit (Multi Unit Smooth Muscle)

Masing-masing serat berdiri sendiri, diinervasi oeh single nerve ending seperti pada otot skelet (skeletal muscle fiber). Pada permukaan luar dari tiap serat otot ditutup oleh lapisan yang disebut basement membrane like substance, yang merupakan glukoprotein.

Sifat otot ini yang paling penting ialah bahwa kontraksi mereka hampir seluruhnya kaena rangsangan saraf dan sangat sedikit oleh faktor stimulasi dari local tissue. Pada otot ini tidak terjadi kontraksi yang spontan.

Contoh :

-    Otot ciliary dari mata.

-          Iris dari mata.

-          Nictating membran yang menutup mata dari beberapa binatang tingkat rendah.

-          Pilo erector muscle : meyebabkan berdirinya rambut.

-          Otot-otot polos dari pembuluh-pembuluh darah besar.

 

  1. Otot Polos Visceral (Visceral Smooth Muscle)

Sel-sel otot ini terletah berhimpitan satu sama lain, dimana membran antara sel-sel berdekatan saling berlekatan seluruhnya atau sebagian, oleh karenanya tipe ini disebut unitary smooth muscle.

Contoh:

-          Dinding alat pencernaan makanan

-         Saluran empedu

-         Ureter

-         Uterus

 

Membran potensial otot polos besarnya bervariasi, berkisar antara 55 sampai 69 milivolt. Potensial aksi dari visceral smooth muscle ada 2 macam yaitu:

  1. 1. Spike potential
  2. Action potential dengan plateau

 

Potensial aksi dapat terjadi dengan beberapa jalan:

  1. Oleh hormon pada smooth muscle.
  2. Efek hormon pada smooth muscle.
  3. Transmitter substance dari serat saraf.
  4. Terjadi secara spontan dalam muscle fiber itu sendiri.

 

Action potential sebagian besar terjadi pada smooth muscle itu sendiri tanda ada extrinsic stimulus. Ini biasanya dihubungkan dengan suatu basic slow wave rhythm dari membrane potential. Slow wave itu sendiri bukan suatu action potential. Tetapi apabila slow wave tersebut meningkat mencapai nilai ambang (kira-kira 35 milivolt), suatu action potential akan timbul dan meyebar ke seluruh bagian dari visceral smooth muscle, hingga kemudian terjadi kontraksi. Karena itu slow waves sering disebut pula sebagai gelombang pace maker.

 

Masalah

Bagaimanakah pengaruh substansi adrenergic dan cholinergic yaitu asetilkolin , adrenalin, pilokarpin, sulfas atropin terhadap gambaran kontraksi otot polos visceral secara in-vitro. Pengamatan ditujukan terhadap variable: amplitudo, frekuensi dan tonus.

 

Tujuan

Mengetahui pengaruh substansi adrenergic dan cholinergic yaitu asetilkolin, adrenalin, pilokarpin, sulfas atropin terhadap gambaran kontraksi otot polos visceral secara in-vitro. Pengamatan ditujukan terhadap variable: amplitudo, frekuensi dan tonus.

 

  1. II. METODE KERJA

Alat

  1. Kimograf : Kecepatan putaran dari kimograf ini boleh dirubah-rubah apabila perlu, tetapi dalam hal ini pencatat waktu harus dipasang terus. Apabila kimograf tidak dirubah-rubah kecepatannya maka pencatat waktu dapat dipasang kemudian, apabila percobaan kontraksi otot polos sudah selesai.
  2. Kertas pencatat. Kertas ini direkatkan pada drum dari kimograf, berupa kertas millimeter blok.
  3. Pencatat tanda waktu listrik.
  4. Tabung perendam lambung.
  5. Benang dan penulis.

 

Bahan

  1. Katak yang akan diambil lambungnya.
  2. Obat-obatan yang akan diselidiki pengaruhnya terhadap otot polos

a. adrenalin                  0,01%

b. asetilkolin                0,5%

c. sulfas atropin           0,01%

d. pilokarpin                0,5%

  1. Larutan thyrode yang mempunyai susunan elektrolit yang hampir mendekati susunan elektrolit cair tubuh katak. Larutan ini digunakan untuk merendam lambung katak. Larutan thyrode tersusun atas NaCl, KCl, MgCl2, NaHCO3, NaH2PO4, glukosa dan aquadest.

 

Tata Kerja

  1. Siapkan sediaan otot polos lambung katak.
  2. Ikatlah bagian pylorus lambung katak sedistal mungkin dan bagian cardia seproximal mungkin dengan benang, kemudian potonglah bagian pylorus di sebelah distal dari ikatan, dan potonglah bagian cardia disebelah proximal dari ikatan.
  3. Angkatlah dengan segera potonglah lambung tersebut dan masukkan ke dalam larutan thyrode dalam tabung peredam supaya lambung tersebut tidak sampai rusak.
  4. Sebelum lambug tersebut dimasukkan dalam tabung perendam, larutan thyrode tersebut dialiri dengan oksigen dengan kecepatan optimal (jangan terlalau besar atau terlalu kecil).
  5. Ikatlah ujung cardia pada kait dalam tabung peredam, sedang ujung pylorus dihubungkan dengan benang pada penulis, hingga percobaan pencatatan gerakan – gerakan lambung bisa dimulai.
  6. Catatlah gerakan lambung yang normal sebanyak kira-kira 10 kali kontraksi sambil memperhatikan frekwensi, amplitudo serta tonusnya setiap akan mengawali pengamatan terhadap pengaruh suatu obat / bahan. Setelah itu mulailah menyelidiki pengaruh beberapa macam obat-obatan terhadap kontraksi otot polos lambung.
  7. Teteskanlah 3 tetes adrenalin kedalam tabung peredam dan catatlah pada kimograf pengaruh obat tersebut terhadap kontraksi lambung. Apabila pengaruhnya kurang nyata, teteskan lagi setiap kali 3 tetes, hingga terlihat jelas efeknya.
  8. Setelah cukup mempelajari pengaruh suatu macam obat, cucilah lambung katak tersebut dengan jalan mengganti cairan didalam tabung peredam dengan cairan thyrode yang baru (dicuci sampai 2 kali).
  9. Kerjakanlah hal tersebut diatas dengan obat-obat: asetilkolin, sulfas atropin dan pilokarpin.

 

  1. III. Hasil

Jenis Obat Frekuensi

(kontraksi per menit)

Amplitudo

(millimeter)

Tonus

(naik/tetap/turun)

Normal
Asetilkolin Kontrol       2/11.5 1
Percobaan     2/5.4 0,5 Naik
Adrenalin Kontrol         2/8.3 1,75
  Percobaan   2/18.4 2 Turun
Pilokarpin Kontrol       2/10.9 3,75
  Percobaan   2/13.8 5,25 Naik
Sulfas Atropin Kontrol       2/10.7 3
  Percobaan     2/10 2,5 Turun

  1. IV. PEMBAHASAN

Sifat-sifat otot polos pada keadaan normal adalah:

a)      Rythmicity : terjadinya kontraksi secara ritmis dari otot polos tanpa rangsangan dari luar.

b)      Tonik Kontraksi : otot polos mempunyai tonus tertentu baik dalam keadaan relaksasi maupun kontraksi. Otot polos dapat mempertahankan keadaan tetap berkontraksi dalam jangka waktu lama.

c)      Plasticity : pada otot polos visceral pada panjang yang sama bisa memiliki tonus yang berlainan.

 

Kontraksi otot polos multi unit :

  1. Tidak bisa berkontraksi secara spontan
  2. Satu serabut ototnya dipersyarafi oleh satu ujung syaraf
  3. Rangsangannya berasal dari syaraf
  4. Tidak ada rangsang lokal

 

Ujung-ujung saraf beberapa otot polos multi unit mengsekresi asetilkolin dan epinefrin. Zat-zat transmitter ini menyebabkan depolarisasi membran otot polos yang kemudian menghasilkan kontraksi. Pada otot polos multi unit tidak terjadi potensial aksi karena serabut-serabut otot polos multi unit terlalu kecil untuk menimbulkan potensial aksi.

 

Kontraksi otot polos visceral :

  1. terdapat pada organ yang berongga
  2. berkelompok
  3. saling berdekatan
  4. penjalaran rangsang secara ephaptic conduction : menjalar tanpa zat transmitter, lewat Tight Junction

 

Potensial aksi yang ditimbulkan pada satu daerah otot secara listrik merangsang serabut-serabut didekatnya tanpa disekresi zat perangsang. Serabut-serabut otot polos visceral dapat menghantarkan potensial aksi dari satu serabut ke serabut lainnya dengan cara ini karena membran serabutnya dimana serabut-serabut berhubungan satu sama lain membentuk “tight junction” yang sangat memperbesar permeabilitas sehingga resistensi listrik antara di dalam salah satu serabut dan serabut berikutnya hanya fraksi resistensi membran normal. Sebenarnya hal ini memungkinkan arus mengalir dengan mudah dari dalam satu sel ke sel berikutnya. Dan karena itu memungkinkan penghantaran potensial aksi dengan mudah pada permukaan membran massa otot.

 

 

Chemical mediator yang digunakan dalam percobaan ini adalah :

  1. Asetilkolin
  2. Epinefrin / norepinefrin
  3. Efek yang ditimbulkan asetilkolin :

-          menurunkan potensial membran

-          meningkatkan potensial spike

-          otot menjadi lebih aktif

-          meningkatkan tonus

-          ritme kontraksi meningkat

-          asetilkolin dilepaskan oleh saraf cholinergic dan memberikan efek parasimpatis

 

  1. Efek yang ditimbulkan epinefrin :

-          memperbesar potensial membran

-          frekuensi spike potensial menurun

-          otot menjadi lebih rileks

-          Epinefrin dilepaskan oleh saraf noradrenergic dan memiliki sifat ihibit contraction (menghambat kontraksi) serta memberikan efek simpatis.

 

Pemberian Asetilkolin :

Dari hasil percobaan didapatkan bahwa :

-          tonus percobaan > tonus kontrol

-          amplitudo percobaan < amplitudo kontrol

Asetilkolin bersifat meningkatkan kontraksi karena :

-          Asetilkolin memberikan efek menurunkan potensial membran, menaikkan frekuensi spike,sehingga rythmicity meningkat.

-          Meningkatkan kontraksi ritmik dan tonik yang menaikkan tonus asetilkolin.

-          Kerja identik dengan rangsangan parasimpatik.

Pemberian asetilkolin mengakibatkan potesial membran menurun sehingga permeabilitas terhadap ion naik, maka terjadilah kontraksi akibat adanya relaksasi.

 

Pemberian Adrenalin :

Dari hasil percobaan didapatkan:

-          Amplitudo percobaan > amplitudo kontrol.

-          Tonus percobaan > tonus kontrol.

Adrenalin adalah salah satu golongan epinefrin sehingga menurut teori bersifat :

-          Menurunkan frekuensi potensial spike dan otot menjadi lebih rileks.

-          Meningkatkan potensial membran.

-          Bekerja identik dengan rangsangan simpatis.

-          Efek adrenalin berlawanan dengan asetilkolin.

Adrenalin bersifat simpatis yang mengakibatkan relaksasi pada otot polos visceral dimana pemberian adrenalin mengakibatkan potensial membran meningkat sehingga permeabilitas terhadap ion turun sehingga otot lebih rileks. Dalam percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil yang  sesuai dengan teori.

 

Pemberian Pilokarpin :

Dari hasil percobaan didapatkan :

-          Ampiltudo percobaan < amplitudo kontrol.

-          Tonus percobaan > tonus kontrol.

Pilokarpin menaikkan tonus otot polos karena :

-          Menurunkan potensial membran.

-          Frekuensi potensial spike meningkat.

-          Ritme kontraksi dan tonus meningkat.

-          Pilokarpin identik dengan rangsangan parasimpatis.

-          Pilokarpin memiliki fungsi sama dengan asetilkolin, tapi bekerja lebih lama daripada asetilkolin, karena tak begitu cepat dirusak oleh enzim achethylcholinnesrterase.

Obat ini dapat menimbulkan efek parasimpatik yang khusus dan bekerja langsung pada reseptor cholinergic tipe muskarinik.

 

Pemberian Sulfas Atropin :

Dari hasil percobaan didapatkan :

-          Amplitudo percobaan > amplitudo kontrol.

-          Tonus percobaan > tonus kontrol.

Sulfas Atropin menurunkan kontraksi otot polos sebab :

-          Memperbesar potensial membran

-          Menurunkan frekuensi potensial spike.

-          Otot menjadi rileks.

-          Bersifat identik dengan rangsangan simpatik.

Sulfas atropin merupakan obat yang dapat menurunkan kontraksi otot polos. Sulfas atropin termasuk acethylcholine competitive inhibitor substance / obat anti muskarinik. Cara kerjanya menghambat kerja asetilkolin pada organ efektor cholinergic tipe muskarinik.

  1. V. KEPUSTAKAAN

- Guyton, Arthur C.1997.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed 17.AGC: Jakarta

 

 

 

 

Category: Farmasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *