Efek Samping, Toksisitas, Kontraindikasi, Interaksi Kloramfenikol #5


Cara Cepat Hamil

EFEK SAMPING DAN TOKSISITAS

Efek samping yang paling nyata adalah pada bone marrow, yang menyebabkan anemia, leukopenia, atau trombositopenia, dan adanya reaksi idiosinkratik yang merupakan manifestasi terjadinya anemia aplastik, bahkan bisa menyebabkan fatal pancytopenia.

Hipersensitifitas terhadap kloramfenikol menyebabkan skin rash, demam, angioedem. Reaksi Jarisch – Herxheimer  pernah terjadi setelah pemakaian kloramfenikol untuk terapi siphilis, brucellosis, dan demam typhoid.

Efek toksik kloramfenikol yaitu menyebabkan nausea, vomiting, rasa tidak nyaman, diare, iritasi peritoneal, pandangan kabur, parestesia.

Toksisitas paling fatal kloramfenikol terjadi pada neonatus, terutama pada bayi prematur, yang dinamakan grey syndrome. Hal tersebut terjadi apabila dosis yang digunakan terlalu besar atau berlebihan. Efek terjadinya yaitu setelah pemakaian 2 – 9  hari ( rata-rata hari ke 4 ) pengobatan. Manifestasi pada 24 jam pertama terjadi vomiting, pernafasan tidak teratur dan cepat, distensi abdominal, syanosis, diare dengan tinja berwarna hijau, dan bayi nampak sakit berat. Selanjutnya bayi tersebut akan flacid, berwarna keabuan, dan hypotermik. Kondisi grey syndrome  juga ditemui pada orang dewasa dengan pemberian dosis yang terlalu besar.

Ada 2 mekanisme yang menjelaskan toksisitas tersebut, yaitu:

  1. Sistem konjugasi oleh enzim glukoronil transferase belum sempurna.
  2. Kloramfenikol yang tidak terkonjugasi belum dapat diekskresi dengan baik oleh ginjal

 

PERHATIAN DAN KONTRAINDIKASI

  • Pada pengobatan lama dengan dosis tinggi , gambaran darah perlu dimonitor.
  • Resistensi dapat timbul dengan agak lambat ( tipe banyak tingkat), tetapi resistensi ekstrakromosomal melalui plasmid juga terjadi antara lain terhadap basil tifus perut.
  • Kehamilan, penggunaan tidak dianjurkan, khususnya selama minggu-minggu terakhir karena dapat menimbulkan syanosis dan hypothermia pada neonatus  ( grey baby syndrome ).
  • Ibu menyusui, karena kloramfenikol mampu terdistribusi dalam ASI.
  • Pasien dengan sejarah hipersensitivitas.
  • Pasien dengan penyakit blood dyscrasias.
  • Pengurangan dosis untuk pasien dengan kelainan fungsi hepar.
  • Kloramfenikol dapat mengganggu pertumbuhan imunitas sehingga sebaiknya tidak diberikan selama masa imunisasi aktif.

 

INTERAKSI OBAT

  • Kloramfenikol menghambat enzim metabolisme hati yaitu cytochrome P450 sehingga memperlama waktu paruh dari obat-obat yang dimetabolisme dengan enzim ini. Contohnya antara lain obat antikoagulan seperti dicoumarol dan warfarin, chlorpropamide, tolbutamide, antiretroviral protease inhibitor dan phenytoin.
  • Metabolisme kloramfenikol ditingkatkan dengan adanya inducer dari enzim metabolisme hati ( Cyt P450 ) seperti phenobarbital dan rifampicin , menyebabkan waktu paruh dari kloramfenikol menjadi pendek.
  • Kloramfenikol dapat menurunkan efek dari seng dan vitamin B12 pada pasien anemia dan mengganggu kerja dari obat oral kontrasepsi.

DAFTAR PUSTAKA

-     Gramame, Smith, et all, 1992, Clinical Pharmacology and Drug Therapy, 2nd ed, Oxford University Press

-          Goodman and Gilman, 2001, The Pharmacological Basic of Therapeutic, 10th ed, vol 1, Mc. Graw Hill :Texas

-          Katzung, Betram, G, 2001, Farmakologi Dasar dan Klinik, Penerjemah dan editor : Bagian Farmakologi FKUA, Salemba Medika : Jakarta

-          Bagian Farmakologi FKUI, Farmakologi dan Terapi, edisi 4, Jakarta

-          Neal, Michael J, 2002, Medical Pharmacology at a Glance, 4th ed, Blackwall Publishing Ltd :London,UK

 

 

 


Leave a Reply