apotik online terpercaya

Efek Global Warming terhadap Kesehatan

| July 19, 2012 | 0 Comments

Tugas Kimia Lingkungan

Efek Global Warming terhadap Kesehatan

Fakultas Farmasi

Universitas Airlangga 2009

DAFTAR ISI

BAB I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang…………………………………………………………………………1

1.2. Kerangka konseptual…………………………………………………………………..4

BAB II Penyebab Global Warming

2.1. Perubahan Permukaan Bumi Akibat Aktifitas Manusia……………………………….5

2.2. Efek Rumah kaca (Green House Effect)…………………………………………….…7

2.2.1. Karbon dioksidan (CO2) dan siklus karbon………………………………………….8

2.2.2. Gas metana……………………………………………………………………………9

2.2.3 Nitrogen oksida (NO)………………………………………………………………..11

2.2.4 CloroFluoroCarbon…………………………………………………………………..11

2.2.5 Gas-gas dengan efek rumah kaca tidak langsung……………………………………12

2.2.6 Mekanisme terjadinya rumah kaca BAB III Akibat Umum Global Warming………12

BAB III Akibat umum Global warming

3.1. Perubahan Iklim……………………………………………………………………….17

3.2. Perubahan Permukaan Laut……………………………………………………………20

BAB IV Akibat Global Warming pada Bidang Kesehatan

4.1. Efek yang potensial dari Perubahan Iklim terhadap Kesehatan………………………23

4.2. Cuca dan Iklim : Perubahan Pada Manusia…………………………………………..26

4.3. Sistem Iklim dan gas Greenhouse……………………………………………………26

4.4. Efek Langsung pada Kesehatan………………………………………………………26

4.5. Efek Tidak langsung pada kesehatan…………………………………………………27

4.6. Pengaruh Perubahan Iklim yang Ekstrim Terhadap Kesehatan………………………28

4.7. Hubungan antara Perubahan Iklim dengan Penyakit Infeksi…………………………35

4.8. Klasifikasi Penyakit……………………………………………………………….…..36

4.9. Sensitifitas Iklim terhadap Penyakit Infeksi……………………………………….…38

BAB V Program dalam Mengatasi dan Mengurangi Dampak Global Warming

5.1. Mengatasi dengan Mengubah Pola Hidup……………………………………………,43

5.2. Program Pengurangan carbon…………………………………………………………43

A. Carbon Capture and Disposal (CCD)………………………………………………….43

B. CO2 dan Enhanced Oil Recovery (EOR)……………………………………………..,.44

5.3. Satelit untuk Mengontrol Kuantitas Sinar Matahari dan Pemanasan Bumi…………..44

5.4. Urban System Design (USD)…………………………………………………………45

5.5. Protokol Kyoto……………………………………………………………………….47

5.6. Pencegahan Efek Global Warming Di Bidang kesehatan……………………………49

A. Mengubah Pola Penyakit dan Kematian……………………………………………….50

B. Mengubah Pola Nutrisi…………………………………………………………………50

BAB VI Pembahasan………………………………………………………………………54

BAB VII Kesimpulan……………………………………………………………………………………57

Daftar Pustaka

Agus, Rudy, 2008. Global Warming, Apa & Bagaimana. SOS. Edisi ke-1, hal 4-5.

Dobson, A., and R. Carper. 1992. Global warming and potential changes in host-parasite and disease-vector relationships. In Global warming and biodiversity, ed. R. L. Peters and T. E.

Ebi,K.L., Mearns,L.O., Nyenzi, B., Weather and climate: changing human exposures In: McMichael, A.J., Lendrum, D.H.C., Corvalan, C.F., Ebi, K.L., Githeko, A.K., Scheraga, J.D., Woodward, A. (Eds). Climate change and human health risk and responses. New Zealand. WHO publishing.

Githeko, A.K., dan Woordward, A.,International consensus on the science of climate and health: the IPCC Third Assessment Report. In: McMichael, A.J., Lendrum, D.H.C., Corvalan, C.F., Ebi, K.L., Githeko, A.K., Scheraga, J.D., Woodward, A. (Eds). Climate change and human health risk and responses. New Zealand. WHO publishing.

Hales, S., Edwards, S.J., Kovats, R.S., 2003. Impacts on health of climate extremes, In: McMichael, A.J., Lendrum, D.H.C., Corvalan, C.F., Ebi, K.L., Githeko, A.K., Scheraga, J.D., Woodward, A. (Eds). Climate change and human health risk and responses. New Zealand. WHO publishing.

Harris, F., 2004. Global Environmental Issues, England: John Wiley&Sins Ltd., hal 25.

Houghton, J., 1997. Global Warming: The Complete Briefing. Edisi ke-2, Cambridge Cambridge University Press, hal 7, 8, dan 10.

Lovejoy. New Haven, CT: Yale University Press.

McMichael, A. J., 2003. Global climate change and health: an old story writ large, In: McMichael, A.J., Lendrum, D.H.C., Corvalan, C.F., Ebi, K.L., Githeko, A.K., Scheraga, J.D., Woodward, A. (Eds). Climate change and human health risk and responses. New Zealand. WHO publishing.

Myers, N. (1983) Tropical moist forests: over-exploited and under-utilised? Forest Ecology and Management,6,59–79.

Myers, N. (1996) The world’s forests: problems and potentials. Environmental Conser-vation,23,156–168.

Myers, N., Mittermeier, R.A., Mittermeier, C.G., da Fonseca, G.A.B. and Kent, J. (2000) Biodiversity hotspots for conservation priorities. Nature,403,853–858.

Patz, ­­ J.A., Lendrum, D.C., Holloway, T., dan Foley, J.A., 2005 . Impact of regional climate change on human health. Nature. Vol 438. pp. 310-317.

Royal Society (2001) The Role of Land Carbon Sinks in Mitigating Global Climate Change. Policy document 10/01,London:The Royal Society.

Skole, D.L. (1994) Data on global land-cover change: acquisition, assessment and analysis, in W.B. Meyer and B.L. Turner II (eds), Changes in Land Use and Land Cover: A Global Perspective, Cambridge: Cambridge University Press, pp. 437–471.

Vitousek, P.M. (1994) Beyond global warming: ecology and global change. Ecology, 75,1861–1876.

PEMBAGIAN TUGAS MAKALAH KIMIA LINGKUNGAN

EFEK GLOBAL WARMING TERHADAP KESEHATAN

BAB I Pendahuluan……………………………………………………………Anditasari Novita

1.1. Latar belakang

1.2. Kerangka konseptual………………………………………………………Deby Fapyane

BAB II Penyebab Global Warming

2.1. Perubahan Permukaan Bumi Akibat Aktifitas Manusia………………….Deby Fapyane

2.2. Efek Rumah kaca (Green House Effect)………………………………Fendika Dwi Yudha

2.2.1.Karbon dioksidan (CO2) dan siklus karbon

2.2.2. Gas metana

2.2.3 Nitrogen oksida (NO)

2.2.4 CloroFluoroCarbon

2.2.5 Gas-gas dengan efek rumah kaca tidak langsung

2.2.6 Mekanisme terjadinya rumah kaca ………………………………….Agung Martupa Bukit

BAB III Akibat Umum Global Warming…………………………………..Josephine Paramita A

3.1. Perubahan Iklim

3.2. Perubahan Permukaan Laut

BAB IV Akibat Global Warming pada Bidang Kesehatan

4.1. Efek yang potensial dari Perubahan Iklim terhadap Kesehatan……………..Lidia Megawati

4.2. Cuca dan Iklim : Perubahan Pada Manusia

4.3. Sistem Iklim dan gas Greenhouse

4.4. Efek Langsung pada Kesehatan

4.5. Efek Tidak langsung pada kesehatan

4.6. Pengaruh Perubahan Iklim yang Ekstrim Terhadap Kesehatan ………………Reza Renata A

4.7. Hubungan antara Perubahan Iklim dengan Penyakit Infeksi

4.8. Klasifikasi Penyakit

4.9. Sensitifitas Iklim terhadap Penyakit Infeksi

BAB V Program dalam Mengatasi dan Mengurangi Dampak Global Warming

5.1. Mengatasi dengan Mengubah Pola Hidup……………………………Made Ary Sarasmita

5.2. Program Pengurangan carbon………………………………………..Nelly Kurniawati

A. Carbon Capture and Disposal (CCD)

B. CO2 dan Enhanced Oil Recovery (EOR)

5.3. Satelit untuk Mengontrol Kuantitas Sinar Matahari dan Pemanasan Bumi

5.4. Urban System Design (USD)

5.5. Protokol Kyoto

5.6. Pencegahan Efek Global Warming Di Bidang kesehatan……………..Made Ary Sarasmita

A. Mengubah Pola Penyakit dan Kematian

B. Mengubah Pola Nutrisi

BAB VI Pembahasan……………………………………………………………Semua

BAB VII Kesimpulan

BAB I

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Manusia telah banyak mengubah struktur alam untuk menunjang kehidupannya. Mulai dari mengubah alam liar menjadi lahan untuk tujuan tertentu. Lahan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti tempat berteduh dan memenuhi kebutuhan pangan. Lama-kelamaan kebutuhan manusia makin meningkat terlebih dengan adanya urbanisasi yang memicu kegiatan penggundulan hutan, konversi lahan gambut menjadi lahan tanam, dan mengubah daerah pesisir untuk resor.

Penggundulan hutan adalah masalah utama di Indonesia dan negara-negara lain di berbagai belahan dunia yang dikemukakan oleh Organisasi Internasional Green Peace sejak tahun 90-an. Indonesia menempati urutan pertama di Asia dalam laju pembakaran hutan di dunia. Makin banyak hutan dibakar untuk menyediakan lahan pertanian demi terpenuhinya kebutuhan manusia akan bahan makanan dan infrastruktur. Penggundulan hutan tidak hanya demi lahan pertanian tetapi juga demi kegiatan pertambangan yang sering kali hasilnya tidak sepadan dengan kerusakan dan kerugian dari hilangnya hutan. Kerugian Indonesia yang menempati urutan kedua di dunia dalam kepemilikan spesies tanaman dan hewan hutan hujan tropis sangat besar karena adanya penggundulan hutan mengakibatkan hilangnya 50.000 spesies tanaman dan hewan setiap tahunnya. Penggundulan hutan juga mengakibatkan hilangnya paru-paru bumi yang berakibat terganggunya siklus CO2.

Sepanjang pertumbuhan populasi dan perkembangan ekonomi global beberapa dekade terakhir, meningkatnya aktivitas manusia, terutama dalam pemanfaatan energi yang intensif telah mengubah banyak komponen atmosfer bumi (Harris, 2004). Perkembangan industri dan aktivitas manusia mengakibatkan peningkatan jumlah emisi gas di atmosfer, terutama gas Karbon dioksida (CO2). Tiap tahunnya jumlah emisi gas CO2 dapat mencapai lebih dari tujuh milyar ton dan sebagian besar akan tertahan di atmosfer untuk beberapa tahun. Karena CO2 merupakan penyerap radiasi panas dari permukaan bumi yang baik, adanya peningkatan jumlah CO2 ini dapat menjaga bumi tetap hangat (Houghton, 1997).

Pemanasan global (Global warming) telah menyebabkan peningkatan temperatur pada permukaan bumi. Penelitian tentang pemanasan global telah dilakukan sejak tahun 1880 khususnya tentang peningkatan temperatur permukaan bumi. Peningkatan temperatur ini akan mengubah iklim global. Jika perubahannya kecil dan berjalan lambat mungkin manusia masih bisa beradaptasi. Tapi jika perubahannya cukup besar misal karena perkembangan industri yang terlalu pesat, maka peningkatan temperatur dapat mencapai 0,250 C tiap sepuluh tahun atau 2,50 C dalam satu abad (Houghton, 1997). Suhu rata-rata global diperkirakan meningkat 1,4 sampai 5,8 ?C pada akhir abad ini, hal ini diasumsikan dengan melihat kenaikan level air laut. Jumlah penduduk yang beresiko terkena banjir akibat gelombang badai diperkirakan akan meningkat dari saat ini sekitar 75 juta menjadi 200 bilion, dengan skenario perubahan iklim dimana terjadi kenaikan lavel laut sekitar 40 cm yang diperkirakan akan terjadi sampai tahun 2080.

Berdasarkan World Meteorological Organization (WMO), tahun 1998-2007 merupakan decade dengan temparatur tertinggi. Temperatur rata – rata pada tahun 2007, menunjukkan 0.41°C/0.74°F lebih tinggi dari tahun 1961-1990 yang bertemperatur rata-rata 14.00°C/57.20°F. Pada tahun 2007, WMO mencatat terjadinya pencairan es di Artics (kutub Utara) yang mengalir hingga Canadian Northwest Passage. Sedangkan United States National Climatic Data Center (NCDC), mencatat pada tahun 2006 temperatur permukaan tanah rata-rata meningkat sebesar +0.78°C (+1.40°F) dan temperatur laut meningkat sebesar +0.45°C (+0.81°F) di atas rata – rata, yang merupakan temperatur terpanas keempat dan kelima . temperatur permukaan tanah untuk belahan bumi utara dan selatan menduduki peringkat kedua dan keenam, sejak penelitian tahun 1880. NCDC melaporkan bahwa selama seratus tahun terakhir terjadi peningkatan temperatur sebesar 0.06°C/dekade (0.11°F/dekade) akan tetapi pada 25 – 30 tahun terakhir terjadi peningkatan kira – kira 0.18°C/dekade (0.32°F/dekade). Terdapat dua periode yang mendukung terjadinya peningkatan temperatur, yaitu pertama dimulai sekitar tahun 1910 dan berakhir pada tahun 1945, kedua pada tahun 1976.

Laporan tahunan tentang iklim pada tahun 2007 (dikeluarkan 13 desember 2007), NCDC menyatakan bahwa temperatur global tahunan untuk kombinasi temperatur permukaan tanah dan permukaan laut pada tahun 2007 mendekati 58.0°F dan merupakan tempertur terpanas kelima sejak tahun 1880, dan pada wilayah United Stated mengalami sepuluh tahun terpanas sejak mereka melakukan penelitian pada tahun 1895. Para peneliti yakin bahwa peningkatan temperatur dapat menyebabkan perubahan pola hujan dan iklim. Air laut yang panas dapat meyebabkan lebih sering terjadinya badai tropis dan angin topan. Permukaan laut diperkirakan akan meningkat 0.09 – 0.88 m pada seratus tahun mendatang, yang disebabkan karena mencairnya es dan bertambahnya volume air laut.

Peningkatan temperatur ini disebabkan oleh nama “Efek Rumah Kaca” yaitu energi radiasi dari Matahari yang memberikan panas pada bumi dan radiasi panas dari bumi dan atmosfer yang seharusnya keluar menuju ruang angkasa tertahan oleh CO2 (Houghton, 1997). Selain CO­­2, terdapat gas-gas lain yang memiliki efek serupa dengan CO2. Gas-gas ini disebut dengan “Gas Rumah Kaca”. Beberapa gas tersebut antara lain metana (CH4), Nitrogen Oksida (NO), dan Halokarbon seperti pada pendingin ruangan Chlorofluorocarbon (CFC) (Harris, 2004). Gas-gas ini bekerja seperti rumah kaca yang menahan panas matahari keluar dari ruangan untuk digunakan tanaman sebagai sumber energi. Rusaknya hutan akibat penggundulan juga membantu memperparah kondisi, karena fungsinya sebagai penyimpan CO2 berkurang (Agus&Rudi, 2008).

Perubahan iklim menyebabkan dampak yang besar pada bumi dan kehidupan manusia, seperti peningkatan volume air laut, meluasnya gurun, dan kekeringan yang lebih sering terjadi di negara berkembang daripada negara kaya.

Pemanasan global juga dapat menyebabkan perubahan spesies, dimana spesies yang tidak dapat bertahan dalam temperatur panas dapat punah. Pada akhirnya, kesehatan manusia dipertaruhkan, dimana pemanasan global menyebabkan terjadinya penyebaran beberapa penyakit, seperti malaria, banjir di beberapa kota besar, meningkatnya risiko terjadinya heat stroke pada beberapa orang, dan penurunan kualitas udara.

1.2. Kerangka Konseptual

BAB II

Penyebab Global warming

2.1.Perubahan Permukaan Bumi Akibat Aktivitas Manusia

Masing-masing lahan mempunyai fungsi mendasar bagi lingkungan seperti siklus air, kekayaan hayati, siklus biogeokimia yang bersifat luas (tidak hanya mempengaruhi daerah tersebut) dan sebagai pelindung yang melapisi planet bumi. Perubahan sekecil apapun pada suatu daerah akan mempengaruhi lingkungan secara lokal, regional dan global. Bahkan, perubahan terhadap suatu lahan dapat mengakibatkan perubahan lingkungan dengan dampak yang lebih besar daripada perubahan iklim (Skole, 1994). Dampak paling penting pada perubahan lahan terjadi pada sistem ekologi (Vitousek, 1994), merupakan ancaman terbesar bagi kekayaan hayati dan diasosiasikan dengan penyebab terbesar terganggunya siklus karbon dengan dampak akhir perubahan iklim (Royal Society, 2001).

Perubahan permukaan bumi tak hanya didasarkan akan kebutuhan ekonomi manusia seperti era industrialisasi yang membutuhkan lahan tetapi juga secara keilmuan, sosial dan politik. Laju perubahan suatu lahan juga ditentukan fungsi dasar lahan itu sendiri. Daerah tropis dengan tingkat kekayaan hati tinggi memicu adanya tingkat eksploitasi besar-besaran sehingga perusakan yang terjadi lebuh besar daripada daerah non-tropis. Berikut ini adalah perbandingan perusakan hutan dan konversi lahan daerah tropis dan non tropis .

Tabel 2.1. Tabel Perusakan daerah Tropis dan Non Tropis (Harris, 2004)

Adanya hubungan antara perubahan suatu lahan dan fungsi lahan tersebut membuat adanya regulasi tentang penyelamatan lingkungan dan diskusi tentang konsekuensi diubahnya suatu lahan. Hal tersebut membuat para peneliti membutuhkan suatu konfirmasi apakah memang perubahan tersebut akan mengakibatkan dampak lokal, regional atau global. Berikut ini adalah suatu diagram yang digunakan untuk menentukan besar area dampak yang terjadi

Gambar 2.1. Skema penentuan Dampak Lokal, Regional atau Global (Harris, 2004)

Kegiatan manusia tidak berhenti pada perubahan fungsi dan fisik suatu lahan, kegiatan selanjutnya di lahan tersebut juga membawa dampak yang tak kalah dahsyat dan merusak. Suatu lahan yang diubaah menjadi sawah atau lahan pertanian akan membawa dampak lanjutan dari penggunaan pupuk, pestisida dan senyawa kimia lainnya yang mengganggu ekologi di sekitar daerah tersebut. Berikut ini adalah berbagai dampak lanjutan dari perubahan fungsi suatu lahan

Lembaga dunia seperti Global Change Comitee telah menetapkan klasifikasi dampak dari perubahan fungsi suatu lahan. Klasifikasi tersebut dibagi menjadi 2 yaitu penting bagi kelangsungan secara global serta penting bagi sumber daya berkelanjutan. Berikut ini adalah tabel klasifikasi dampak perubahan fungsi dan tempatnya

Hutan adalah lahan yang penting bagi kelanjutan ekonomi local, ekonomi nasional dan fungsi biosfer global (Myers, 1996). Hal ini menyebabkan over-eksploitasi hutan yang berdampak pada perusakan hutan. Kerusakan hutam mangakibatkan akibat kerusakan beruntun bagi segala siklus . kerusakan hutan juga merugikan secara ilmu pengetahuan yaitu hilangnya berbagai spesies tanaman baik yang telah diidentifikasi dan yang belum. Karenanya, setiap negara yang memliki kekayaan hati dalam hutannya wajib menjaga dan meregulasi penggunaan hutan. Menurut International Union for Conservation f Nature and Natural Resources (IUCN), penggunaan hutan akan sangat tergantung pada regulasi penggunaan dan pengembangan hutan. Pengembangan hutan tanpa pengawasan adalah tindakan mubazir, sehingga hutan sebagai kawasan konservasi wajib diatur oleh undang-undang.

Maksud dari konservasi hutan adalah melindungi hutan dari penebangan kayu hutan (timber) secara brutal dan eksploitasi kekayaan hayati secara tidak bertanggung jawab. Kegiatan lain yang masuk dalam konservasi hutan adalah turut menjaga keberlangsungan siklus karbon dan siklus alamiah. Diharapkan, intervensi kegiatan manusia di hutan akan minimal dampaknya.

Usaha lainnya untuk menjada perubahan atau peralihan fungsi suatu lahan adalah memakai bahan bakar alternatif seperti biofuel. Hal ini menjadi sangat penting karena perusakan lahan terbesar disebabkan oleh eksploitasi kandungan minyak di daerah tersebut. Sekali suatu lahan menjadi lahan minyak dan gas maka dalam jangka waktu yang sangat lama, lahan tersebut tidak akan berguna bagi stabilisasi berbagai siklus biogeokimia.

2.2. Efek Rumah Kaca (Green House Effect)

Gas rumah kaca merupakan gas-gas yang berada di atmosfer yang mengabsorbsi radiasi panas yang dipancarkan oleh permukaan bumi, memiliki efek menyelimuti/ melapisi. Komponen terpenting dari gas rumah kaca adalah uap air, namun jumlahnya tidak berubah secara langsung karena aktivitas manusia. Sedangkan gas-gas yang secara langsung dipengaruhi oleh aktivitas manusia antara lain Karbon dioksida (CO2), Metana (CH4), Nitrogen oksida (NO), Kloroflorokarbon (CFCs), dan ozon (O3).

Karbon dioksida (CO2) merupakan salah satu gas rumah kaca yang paling penting yang konsentrasinya dalam atmosfer meningkat akibat aktivitas manusia. Jika kita mengabaikan saja efek Kloroflorokarbon (CFCs) dan perubahan ozon yang berubah-ubah dengan sangat cepat dan kesulitan untuk mengukurnya, maka peningkatan jumlah Karbon dioksida (CO2) telah memberikan sumbangan sebesar 70% terhadap peningkatan efek Rumah Kaca hingga saat ini. Gas Metana (CH4) sekitar 24%, dan Nitrogen Oksida (NO) sekitar 6%.

2.2.1. Karbon dioksida (CO2) dan Carbon Cycle (Peredaran karbon)

Karbon dioksida memberikan kontribusi yang dominan melalui sejumlah karbon yang dilepaskan ke alam dari tempat-tempat penyimpanan (reservoir) di bumi dan dikenal sebagai carbon cycle. Kita pun memberikan sumbangan dalam peredaran ini yaitu setiap kali kita bernapas. Dengan menggunakan Oksigen (O2) yang kita hirup dari udara, sumber karbon dari makanan yang kita makan dibakar dan diubah menjadi Karbon dioksida yang kemudian kita hembuskan. Binatang juga memberikan sumbangan dengan cara yang sama, kemudian kebakaran serta dekomposisi bahan organik dalam tanah maupun tempat-tempat yang lain. Untuk mengimbangi peningkatan jumlah Karbon dioksida ini, maka terdapat pula proses fotosintesis oleh tanaman atau pohon. Dengan bantuan sinar/ cahaya, tanaman akan mengambil dan menggunakan karbon dioksida untuk tumbuh dan akan menghasilkan oksigen lagi untuk dikembalikan ke udara.

Oleh karena cukup banyaknya sumber-sumber yang menyimpan karbon dan dapat menghasilkan Karbon dioksida, maka adanya sedikit perubahan saja pada sumber tersebut (reservoir) dapat memberikan efek yang lebih luas terhadap konsentrasi Karbon dioksida di atmosfer. Misal pelepasan karbon sebesar 2% saja yang tersimpan di lautan dapat meningkatkan konsentrasi Karbon dioksida di atmosfer menjadi dua kalinya.

Ini penting untuk menyadari dengan mengusahakan agar karbon yang dilepaskan ke atmosfer tidak serta merta dimusnahkan namun bagaimana didistribusikan kembali ke tempat-tempat penyimpan. Oleh karena itu, karbon dioksida berbeda dengan gas rumah kaca yang lain yang dimusnahkan dengan cara kimia di atmosfer.

Sebelum aktivitas manusia menjadi gangguan yang serius, pertukaran atau peredaran jumlah karbon dari tempat-tempat penyimpanan sangat konstan. Untuk beberapa ribu tahun sebelum perindustrian dimulai tahun 1750, keseimbangan masih terpelihara, seperti konsentrasi Karbon dioksida di atmosfer yang diukur dari inti es terjaga sekitar 280 ppmv (parst per million by volume).

Adanya Revolusi Industri mengganggu keseimbangan ini dan telah menyebabkan konsentrasi Karbon dioksida di atmosfer meningkat sebesar 30%, dari 280 ppmv pada tahun 1700 menjadi 360 ppmv pada saat ini.

Hal ini sangat mudah membuat banyaknya batu bara, minyak, dan gas yang dibakar tiap tahunnya di seluruh dunia. Sebagian besarnya digunakan sebagai sumber energi untuk kebutuhan manusia seperti untuk memanaskan, dan alat-alat rumah tangga, industri, dan transportasi

Sekarang ini jumlah karbon yang terkandung mencapai 6 Gigaton (Gt), dan hampir semua akan masuk ke atmosfer sebagai karbon dioksida. Hal ini tidak mudah untuk memperkirakan jumlah karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer karena karena perubahan dari daratan seperti kebakaran dan perusakan hutan. Jika kita asumsikan 1,5 Gt per tahun akibat perubahan daratan dan ditambah 6 Gt dari bahan bakar fosil, maka total karbon yang masuk ke atmosfer akibat aktivitas manusia adalah 7,5 Gt.

Aktivitas biologi di dalam lautan juga berperan penting. Hal ini mungkin tidak tampak jelas, namun sesungguhnya di lautan padat dengan kehidupan. Walaupun jumlah massa makhluk hidup dalam lautan tidak luas, namun memiliki tingkat perubahan yang tinggi. Makhluk hidup di lautan menghasilkan sekitar 30-40 % dari kecepatan produksi di daratan.

Karbon dioksida lepas dari atmosfer selama musim semi dan kembali ke atmosfer ketika tumbuhan mati karena musim dingin. Sejak ada banyaknya pertumbuhan tanaman di belahan bumi utara di banding dengan belahan bumi selatan, maka terjadi jumlah karbon minimum pada atmosfer ketika masuk musim panas di belahan bumi utara.

Adanya penumpukan karbon dioksida ini memberikan efek seperti proses timbal balik biologis. Timbal balik negatif ketika adanya karbon dioksida yang cenderung meningkatkan proses pengambilan/ penggunaan oleh tanaman, sehingga terjadi fotosintesis dan menurunkan jumlah karbon dioksida di atmosfer, sehingga menurunkan terjadinya global warming. Timbal balik positif terjadi ketika kecenderungan terjadi percepatan global warming. Dan pada kenyataannya timbal balik positif lebih berpotensi daripada timbal balik negatif.

Isotop yang sama pada karbon di atmosfer adalah Metana (CH4). Metana juga dapat dipengaruhi jumlahnya oleh aktivitas manusia. Jumlahnya di atmosfer juga dapat memberikan proses timbal balik biologis.

2.2.2. Metana

Metana merupakan komponen utama gas alam. Nama umum yang dikenal adalah gas-rawa karena dapat menggelembung di daerah rawa ketika ada zat organik yang terdekomposisi. Data paling tidak dua ribu tahun sebelum 1800 konsentrasinya di atmosfer 0,7 ppmv. Setelah itu, konsentrasinya sudah menjadi dua kali lipatnya dan terus meningkat dengan rata-rata 0,6 % tiap tahunnya. Walaupun jumlah metana di atmosfer jauh lebih rendah dibanding dengan jumlah Karbon dioksida (2 ppmv disbanding 350 ppmv), namun efek rumah kaca yang timbul bukan berarti tidak ada. Karena pada kenyataannya, peningkatan efek rumah kaca oleh metana mencapai 7,5 kali efek yang ditimbulkan oleh Karbon dioksida.

Sumber utama metana adalah kawasan rawa. Sedangkan macam sumber yang lain secara langsung maupun tidak adalah dipengaruhi oleh aktivitas manusia, misalnya karena ada kebocoran pipa gas atau dari sumur-sumur minyak, dari hasil fermentasi enterik hewan peternakan, dan sampah-sampah yang membusuk.

Metana dapat lepas dari atmosfer melalui perusakan dengan cara kimia. Metana di reaksikan dengan Hidroksi radikal (OH) yang ada di atmosfer karena proses yang melibatkan cahaya matahari, oksigen, ozon, dan uap air.

Tabel 2.2.1 Estimasi sumber Metana:

NATURAL: Juta ton Skala
Wetlands 115
(55150)
Termites 20
(1050)
Ocean 10
(550)
Other 15
(1040)
HUMAN-GENERATED:
Coal mining, natural gas, petroleum industry 100
(70120)
Rice paddies 60
(20100)
Enteric fermentation 85
(65100)
Animal wastes 25
(2070)
Domestic sewage treatment 25
(1580)
Landfills 40
(2070)
Biomass burning 40
(2080)
Sinks
Atmospheric removal 530
(440625)
Removal by soils 30
(1545)
Atmospheric increase 37
(3540)

Tabel 2.2.2. Estimasi emisi gas oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)

1990 2025 2100
CO2 (Gt carbon)
from energy from fossil fuels
6.2
11.1
20.4
from deforestation
1.3
1.1
-0.1
Total
7.5
12.2
20.3
CH4 (Tg) 506 659 917
N2O (Tg nitrogen)
12.9
15.8
17.0
SOx (Tg sulphur)
98
141
169

2.2.3. Nitrogen Oksida (NO)

NO digunakan secara umum sebagai anaestetik dan dikenal sebagi gas penidur. Gas ini termasuk yang minor dalam golongan gas rumah kaca. Konsentrasi gas ini di atmosfer 0,3 ppmv danmeningkat 0,25% tiap tahunnya dan 13 % lebih tinggi dari zaman sebelum industry. Gas ini memiliki waktu di atmosfer relatif lama sekitar 120 tahun. Sumber lain dari Nitrogen Oksida antara lain Indutri Kimia seperti Nilon, penggundulan hutan, dan praktik agricultural.

2.2.4. Kloroflorokarbon (CFCs)

Kloroflorokarbon adalah gas buatan manusia yang mampu menguapkan temperatur. Gas ini tidak toksik dan tidak mudah terbakar sehingga tampak ideal digunakan untuk pendingin lemari es.

Awalnya, pelepasan gas ini ke atmosfer tidak berdampak apa-apa. Gas ini bertahan selama sekitar 200 tahun. Masalah pertama yang muncul adalah merusak ozon. Ozon, molekul yang terdiri dari tiga atom oksigen, merupakan gas yang sangat reaktif. Jumlahnya tidak banyak di stratosfer (Lapisan atmosfer dengan jarak antara 10-50 km dari permukaan bumi). Ozon terbentuk melalui radiasi ultraviolet matahari terhadap molekul oksigen. Ozon dirusak melalui proses alami seperti absorbsi radiasi cahaya matahari dengan sedikit panjang gelombang yang lebih panjang yang sebaliknya dapat berbahaya bagi manusia dan makhluk hidup lain. Jumlah Ozon sangat ditentukan oleh kedua proses ini, yaitu pembentukan dan perusakan. Adanya CFC di stratosfer menyebabkan atom klorin yang terkandung juga dilepaskan oleh karena radiasi cahaya matahari. Klorin ini sangat reaktif dengan ozon, menyebabkan ozon tereduksi menjadi oksigen dan menambah kecepatan perusakan ozon.

2.2.5. Gas-gas dengan efek rumah kaca tidak langsung

Terdapat pula beberapa gas melalui reaksi kimia terhadap gas-gas rumah kaca, seperti metana dan ozon di atmosfer yang lebih rendah, memiliki pengaruh yang besar terhadap pemanasan global. Karbon monoksida (CO) dan nitrogen oksida (NO2) yang berasal dari kendaraan bermotor dan sejenisnya juga memberi pengaruh. Karbon monoksida secara tidak langsung mempengaruhi efek rumah kaca dengan jalan karbon monoksida kemudian berubah bentuk menjadi karbon dioksida. Reaksi ini juga dapat mempengaruhi jumlah radikal hidroksil (OH), sehingga dapat berubah menjadi metana pula.

2.2.6. Mekanisme terjadinya rumah kaca

Pada rumah kaca, radiasi visibel dari dari matahari masuk menembus lapisan kaca hampir tanpa hambatan dan radiasi tersebut diserap oleh tanaman dan tanah yang berada di dalam rumah kaca tersebut. Radiasi panas yang dipancarkan oleh tanah dan tanaman, kemudian diserap oleh kaca yang kemudian beberapa dipancarkan kembali ke dalam rumah kaca. Lapisan kaca tersebut bekerja sebagai “lapisan radiasi” yang berfungsi untuk membantu rumah kaca tersebut tetap dalam kondisi hangat.

Gambar 2.2. Rumah kaca memiliki dampak yang serupa dengan atmosfir pada saat

radiasi matahari masuk dan radiasi panas yang dipancarkan

Transfer radiasi merupakan satu-satunya jalan untuk memindahkan panas disekitar rumah kaca. Proses pemindahan panas paling banyak terjadi dalam lapisan atmosfer itu sendiri (paling sedikit dalam tiga-empat dari lapisan atmosfer sampai ketinggian sekitar 10 km yang dikenal dengan troposfir). Permukaan bumi dihangatkan oleh sinar matahari yang diserap. Udara yang berada dekat dengan permukaan ikut dipanaskan dan naik karena memiliki densitas yang rendah. Udara yang naik tersebut kemudian mengembang dan menjadi dingin.Selama beberapa massa udara naik, terdapat juga udara lain yang turun, jadi udara tersebut secara berkesinambungan saling bertukar untuk mencapai kesimbangan. Suhu pada lapisan troposfir semakin ke bawah semakin rendah berdasarkan derajat proses konveksi panas yang terjadi. Penurunan tersebut rata-rata sekitar 6°C per kilometer dari ketinggian lapisan.

Gambar 2.3 Distribusi suhu dalam konveksi atmosfir (garis penuh)

Titik-titik di atas menunjukkan bagaimana suhu mengalami peningkatan ketika jumlah gas karbon dioksida dalam lapisan atmosfer meningkat (sebagai contoh dalam diagram perbedaan anatara garis dilebihkan, untuk jumlah karbondioksida dua kali lipat peningkatan suhu sekitar 1,2OC). Gambar tersebut juga menunjukkan tingkat rata-rata dari radiasi panas meninggalkan lapisan atmosfir dari keadaan awalnya (sekitar ± 6 km).

Gambaran dari transfer radiasi dalam lapisan atmosfir dapat dilakukan dengan melihat radiasi panas yang dipancarkan oleh bumi dan lapisan atmosfirnya melalui instrument satelit yang mengorbit mengelilingi bumi (Gambar 2.4). Pada panjang gelombang inframerah lapisan atmosfir yang tidak terdapat awan telihat tranparan (jernih/tembus cahaya). Pada panjang gelombang tersebut seluruh radiasi yang berasal dari permukaan bumi meninggalkan lapisan atmosfir.

Gambar 2.4 Radiasi panas dalam gelombang inframerah (bagian visibel dari spektrum tesebut antara 0,4 dan 0,7 mikrometer )

Radiasi panas dari permukaan bumi dan atmosfir yang diamati dari laut Mediterania melalui instrument satelit yang mengorbit di atas atmosfir, menunjukkan beberapa bagian spektrum dimana gas-gas yang berbeda memberikan kontribusi pada radiasi. Diantara panjang gelombang skitar 8 dan 14 mikrometer, terlepas dari pita ozon, lapisan atmosfir, yang tidak terdapat awan, pada dasarnya terlihat jernih, bagian dari spektrum ini disebut dengan daerah “jendela”. Garis putus-putus pada spektrum merupakan kurva radiasi pada suhu 7 OC, 13 OC, 33 OC, dan 53OC. Satuan unit dari radiasi adalah watt per meter persegi per steradian per bilangan gelombang. Pada panjang gelombang radiasi dari permukaan diserap sangat kuat oleh gas-gas yang terdapar dalam lapisan atmosfir, terutama oleh uap air dan karbondioksida.

Benda yang merupakan penyerap radiasi yang baik juga bersifat sebagai pemancar yang baik. Permukaan yang berwarna hitam bersifat baik dalam hal menyerap dan juga memancarkan radiasi, sedangkan permukaan yang bersifat mencerminkan menyerap cukup kecil dan juga memancarkan dalam jumlah kecil (hal itu menjadi dasar mengapa kertas perak digunakan untuk menutupi permukaan dari labu vakum.dan mengapa benda itu ditempatkan di atas tempat isolasi dari beberapa rumah).

Gas- gas penyerap yang berada pada lapisan atmosfir menyerap beberapa radiasi yang dipancarkan dari permukaan bumi dan kemudian dipancarkan kembali ke luar angkasa. Radiasi dipancarkan keluar angkasa oleh gas-gas tersebut dari suatu bagian teratas lapisan atmosfir yaitu pada ketinggian antara 5 dan 10 km (liaht gambar 2.3). Pada bagian ini, oleh karena proses konveksi terjadi lebih awal, suhu yang terbentuk lebih dingin yaitu 30 sampai 50oC atau lebih dingin lagi dari permukaan. Oleh karena gas tersebut bersifat dingin, maka radiasi yang dipancarkan juga lebih sedikit. Jadi gas-gas tersebut menyerap radiasi yang dipancarkan oleh permukaan bumi tapi kemudian dipancarkan kembali ke luar angkasa dalam jumlah yang lebih sedikit.

Gambar 2.5 Efek melapiskan dari gas-gas rumah kaca

Dibutuhkan keseimbangan antara radiasi yang masuk dan radiasi yang dikeluarkan pada lapisan atas atmosfir. Gambar 2.6 menunjukkan beberapa komponen radiasi yang masuk dan keluar dari lapisan atas atmosfir dari kondisi yang sebenarnya. Rata-rata, 240watt/m2 radiasi solar diserap oleh atmosfir dan permukaan, hal ini lebih sedikit dari yang dijelaskan sebelumnya yaitu 288 watt, karena efek dari awan saat ini dimasukkan dalam perhitungan. Namun, awan tersebut juga menyerap dan memancarkan radiasi panas dan memiliki efek menyelimuti serupa dengan gas-gas rumah kaca. Dua efek ini bekerja pada cara yang berbeda, yang pertama (refleksi radiasi solar) cenderung untuk mendinginkan permukaan bumi dan kedua (absorpsi radiasi panas) untuk menghangatkan.

Gambar 2.6. Komponen dari sinar radiasi (dalam satuan watt/m2) yang masuk dan keluar

dari atmosfir bumi dan membuat jumlah radiasi untuk lapisan atmosfir

Angka-angka pada gambar 2.6 menunjukkan keseimbangan yang dibutuhkan sebesar 240 watt/m2 untuk jumlah yang masuk dan 240 watt/m2 untuk jumlah yang keluar. Suhu permukaan dan juga lapisan atmosfir di atas mengatur secara alamiah untuk memastikan keseimbangan tetap terjaga. Hal ini penting untuk diperhatikan bahwa efek rumah kaca hanya dapat terjadi apabila terdapat suhu yang lebih dingin pada lapisan teratas atmosfir. Tanpa adanya penurunan suhu berdasarkan ketinggian, oleh karena itu, tidak akan terjadi efek rumah kaca pada bumi.

Gambar 2.7. Mengilustrasikan peningkatan efek rumah kaca. Di bawah kondisi normal (a) jumlah radiasi solar yang masuk (S = 240/m2) diseimbangkan oleh radiasi panas (L) meninggalkan lapisan atas atmosfir, Suhu permukaan rata-rata (Ts) adalah 15oC. Bila konsentrasi gas CO2 secara mendadak meningkat menjadi dua kali lipat (b), L menurun 4watt/m2. Keseimbangan akan kembali bila tidak ada lagi yang berubah (c) terlepas dari suhu pada permukaan dan lapisan atmosfir semakin rendah suhunya meningkat 1,2oC. Bila umpan balik dimasukkan dalam perhitungan (d) rata-rata peningkatan suhu pada permukaan naik menjadi 2,5OC.

BAB III

Akibat Umum Global warming

2.1 Perubahan iklim

Bumi telah menghangat sejak tahun 1860 saat dimulainya pencatatan menggunakan alat. Pada abad ke 20, terjadi peningkatan suhu bumi sebesar 0,6°C, dengan dekade terpanas pada terjadi pada tahun 1990 dan tahun terpanas terjadi pada tahun 1998. Penghangatan ini berlangsung terus hingga abad 21. Sebagaimana terjadi peningkatan pada suhu rata-rata bumi, terjadi pula perubahan pada fitur cuaca dimana terjadi peningkatan presipitasi sepanjang abad ke 20 antara 5 dan 10 % pada kebanyakan lintang sedang dan lintang tinggi dari bagian belahan bumi utara dan sejak tahun 1970 terjadi peningkatan frekuensi terjadinya El Nino/ Southern Oscillation phenomenon (ENSO) menjadi lebih persisten dan kuat.

Gambar 3.1.Rata-rata peningkatan suhu bumi dari tahun 1860-1921(Harris, F; 2004)

Dengan memperhatikan kemungkinan luas dari pengeluaran emisi gas akibat efek rumah kaca, dan ketidakpastian yang tersirat pada model cuaca, rata-rata suhu udara bumi diperkirakan akan meningkat antara 1,4 dan 5,8°C selama tahun 1990-2100. Sebanya 0,3°C dari penghangatan ini telah tercatat pada tahun 2002. Tingkat perubahan ini sebesat 2-10 X lebih besar dibandingkan penghangatan yang telah teramati sepanjang abad ke 20.

Penghangatan iklim global sebesar apapun akan mempengaruhi/ mengubah karakteristik cuaca yang ada di seluruh negara dan wilayah. Sistem iklim merupakan sistem yang benar-benar terintegrasi dan peningkatan suhunya sebesar 1°C saja akan mengubah distribusi dan tingkat presipitasi pada permukaan bumi, frekuensi, keparahan dan distribusi badai di dunia serta suhu udara bumi terutama panas ekstrim dan dingin yang ekstrim. Terdapat beberapa gangguan yang potensial terjadi apabila terjadi peningkatan suhu dan iklim antara lain meningkatnya resiko riverine dan banjir di pesisir pantai serta perubahan pada distribusi beberapa vektor penyakit dan patogen. Manusia yang tinggal di negara berkembang biasanya terpapar dengan resiko yang lebih tinggi terhadap efek samping perubahan iklim yang mempengaruhi kesehatan manusia, suplai air, produktivitas pertanian, properti dan sumber daya lainnya dibandingkan mereka yang tinggal di negara maju. Beberapa perubahan ini dapat memperparah stress/ dislokasi yang diakibatkan oleh perubahan cuaca dan apabila tidak segera ditangani serius dapat memperparah kondisi bumi dan menyebabkan peningkatan suhu bumi yang lebih tinggi.

Gambar 3.2. Skenario peningkatan suhu bumi akibat emisi buangan (Harris, F; 2004)

Pada negara berkembang, kemiskinan serta kurangnya pelatihan dan edukasi, rendahnya jumlah infrastruktur, kurangnya akses pada teknologi, kurangnya variasi kesempatan untuk memperoleh pendapatan, daerah sumber daya alam yang terdegradasi, insentif yang tidak pada tempatnya, pekerjaan legal yang jumlahnya kurang memadai, masyarakat yang masih rapuh dan institusi yang masih belum berfungsi maksimal, banyaknya hutang dan sistem perdagangan yang tidak adil menciptakan kondisi dimana kapasitas adaptasi dari masyarakatnya rendah. Paparan terhadap ancaman iklim bila dikombinasikan dengan rendahnya kemampuan masyarakatnya untuk beradaptasi menyebabkan masyarakat di negara berkembang lebih rentan terhadap efek perubahan iklim. Selain itu, kesenjangan status kesehatan dan akses terhadap sumber daya yang penting dapat diperparah oleh perubahan iklim dan memberikan dampak negatif bagi masyarakat miskin dan negara berkembang.

2.2 Perubahan permukaan laut

Pada masa lalu, kebanyakan perubahan jangka panjang yang terjadi pada tingkat permukaan laut (eustatic changes) terjadi dalam waktu lama, monoton dan tidak terarah. Biasanya perubahan ini disebabkan oleh deformasi samudra yang bertahap/ pertumbuhan jalur pegunungan bawah laut (tectonic eustacy). Selama jangka waktu 200 tahun, telah terjadi peningkatan level permukaan laut dimana di masa lalu peningkatan ini tidak terjadi secara kontinyu ataupun monoton karena terdapat periode dimana permukaan laut mengalami penurunan dan peningkatan. Pemanasan global telah menyebabkan lelehnya es yang berada di kutub bumi dan menyebabkan peningkatan permukaan laut, meningkatnya temperatur permukaan laut juga menyebabkan ekspansi yang signifikan dari permukaan laut yang juga menimbulkan kenaikan level permukaan laut; selama 40 tahun ini kenaikan permukaan laut sebagian besar disebabkan oleh hal ini. Apabila bumi menghangat maka akan terjadi peningkatan penguapan air laut dan meningkatnya kandungan uap air di udara yang mengarah ke peningkatan turunya salju. Peningkatan suhu ini juga menyebabkan pengapan air bersih yang berada dalam tanah sehingga cadangan air menjadi berkurang dan akibat tingginya emisi CO2 di udara maka terjadi penurunan curah hujan di beberapa wilayah terutama pada musim panas.

Besarnya peningkatan level permukaan laut bervariasi dari pesisir pantai yang satu ke yang lainya karena efek hydroisostatic, lithology pantai, tektonik serta presisi alat pengukur. Rerata keseluruhan dari 200 tahun terakhir menunjukan peningkatan permukaan laut sebesar 1,5 mm/ tahun. Efek dari perluasan laut ini tergantung pada pergerakan lempeng bumi dan aktivitas manusia.

Peningkatan penguapan air laut meningkatkan total air di atmosfer sebesar beberapa persen per dekade pada banyak wilayah, dan jumlah air laut yang meningkat menyebabkan muali masuknya air laut ke dalam akuifer air bersih dan estuaria pada daerah dataran rendah. Sepanjang abad ke 20 ini permukaan laut telah meningkat sebanyak 10-20 cm, 10 X lebih cepat dibandingkan kecepatanya selama 3000 tahun dan 70% dari garis daerah pesisir pantai telah mengalami kemunduran selama 100 tahun ini 20-30% nya stabil sedangkan <10% bergerak maju.

Tabel 3.1. Hasil analisis dari permukaan laut saat ini (disadur dari Warrick dan Oerlemans, 1990; Gomitz, 1995)

Tingkat (mm/tahun) Keterangan Sumber
1,1 ± 0,8 Banyak lembaga,1807-1939 Guttenberg,1941
1,2 Lembaga tertentu,1900-1950 Fairbridge dan Krebs,1962
1,2 ± 0,1 195 lembaga,1880-1980 Gonnitz et al,1982
1,75 ± 0,13 84 lembaga,1900-1986 Trupin dan Wahr,1990
1,15 ± 0,38 655 lembaga, ~1807-1900 Nakiboglu dan Lambeck,1991

Gambar 3.3. Peningkatan level permukaan laut di Hawaii (Harris, F; 2004)

Akibat peningkatan level permukaan laut ini, terjadi perubahan cuaca dan penurunan suplai air. Banyak daerah dataran rendah yang mengalami banjir, erosi yang meningkat, hilangnya mangrove dan pesisir; disamping itu penghangatan suhu air laut dapat mengakibatkan perubahan suhu laut, perubahan ekosistem dan menekan daerah pantai dengan karangnya sehingga meningkatkan frekuensi terjadinya penyakit.

Tabel 3.2. Efek primer dan sekunder dari peningkatan level permukaan laut di masa depan

(disadur dari Nicholls dan de la Vega-Leinert, 2000)

Akibat primer Akibat sekunder
Peningkatan erosi Pada mata pencaharian dan kesehatan manusia
Pembanjiran daerah pesisir pantai dan dataran rendah Pada infrastruktur dan aktivitas ekonomi
Peningkatan resiko kerusakan akibat banjir dan badai Pemindahan populasi yang rentan
Salinisasi dari air permukaan dan air tanah Pengalihan sumber menjadi reaksi adaptasi
Instabilitas politik dan institusional, kegelisahan sosial
Ancaman terhadap budaya dan cara hidup

BAB 4

Dampak Global Warming bagi Kesehatan

Suhu rata-rata global diperkirakan akan meningkat 1,4 sampai 5,8 ?C pada akhir abad ini, hal ini diasumsikan dengan melihat kenaikan permukaan laut. Jumlah penduduk yang beresiko terkena banjir akibat gelombang badai diperkirakan akan meningkat dari saat ini sekitar 75 juta menjadi 200 milyar, dengan skenario perubahan iklim di mana terjadi kenaikan permukaan laut sekitar 40 cm yang diperkirakan akan terjadi sampai tahun 2080. Perubahan siklus hidrologi (seperti musim hujan dan kering) diperkirakan akan menyebabkan suhu lingkungan menjadi lebih hangat. Tanda-tanda bahwa perubahan iklim yang terjadi secara besar-besaran dapat berpengaruh pada kesehatan manusia, antara lain adalah tingkat morbiditas dan mortalitas akibat panas yang ekstrim, dingin, kekeringan, dan badai, perubahan kualitas udara dan air, serta perubahan ekologi dari penyakit infeksius (Patz et al, 2005).

Gambar 4.1. Hubungan pengaruh perubahan iklim global terhadap kesehatan manusia (McMichael, 2003)

4.1. Efek Potensial Perubahan Iklim terhadap Kesehatan

Perubahan iklim global akan mempengaruhi kesehatan manusia melalui jalur yang cukup kompleks, skala, pengaruh dan waktu yang berbeda. Pengaruh yang terjadi dapat bersifat positif maupun negatif (sekalipun dari tinjauan peneliti yang dominan ialah efek yang negatif) (McMichael, 2003).

Pengaruh secara langsung terhadap kesehatan termasuk di dalamnya perubahan paparan cuaca yang ekstrim (menyebabkan aktivitas alam yang ekstrim, seperti banjir, kekeringan, badai) dan peningkatan produksi polusi udara dan juga aeroallergen seperti spora dan jamur. Perubahan iklim dapat menyebabkan berbagai penyakit infeksi (biasanya dibawa melalui perantara air, makanan, dan juga vektor). Vektor pembawa infeksi meliputi banyak organisme vektor dan host intermediate, di mana keberadaan keduanya dipengaruhi kondisi fisik, seperti: temperatur, presipitasi, kelembaban, permukaan air, dan angin. Selain kondisi fisik, faktor biotik juga turut berperan, seperti: vegetasi, spesies inang, predator, kompetitor, parasit, dan intervensi manusia. Banyak studi yang meramalkan bahwa peningkatan suhu lingkungan secara geografis akan menyebabkan peningkatan distribusi organisme vektor, contohnya ialah nyamuk pembawa penyakit malaria, sekalipun terjadi pula penurunan delokalisasi. Lebih lanjut, temperatur juga berhubungan dengan perubahan siklus kehidupan yang dinamis, baik pada spesies vektor maupun pada organisme patogen (cacing, protozoa, bakteri, dan virus) akan meningkatkan potensi transmisi dari berbagai macam penyakit yang distribusinya diperantarai oleh vektor seperti malaria (nyamuk), demam berdarah (nyamuk), dan leishmaniasis (sand-fly), namun pada schistosorniasis (siput air) justru akan mengalami penurunan pada saat terjadi perubahan iklim.

Gambar 4.2. Jalur yang menggambarkan perubahan iklim dan efeknya pada manusia (McMichael, 2003)

Di tengah tren masa depan di bidang perdagangan dan perkembangan ekonomi, diperkirakan ada pengaruh perubahan iklim dengan hasil sereal padi-padian (yang menyumbang 2/3 konsumsi dari makanan berenergi di dunia). Secara global, terjadi kecenderungan penurunan yang relatif sedikit, tetapi pada beberapa negara penurunannya cukup besar khususnya pada daerah rawan pangan seperti daerah Asia Selatan, beberapa bagian Afrika, dan juga Amerika Tengah. Kecenderungan penurunan ini mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk yang mengalami malnutrisi sekitar beberapa puluh milyar di dunia (McMichael, 2003).

Peningkatan retensi dari energi panas pada lapisan yang lebih rendah dari atmosfer, yang merupakan wujud dari global warming, juga meyebabkan perubahan berupa peningkatan pendinginan dari stratosfer. Pada saat pendinginan terjadi pada jangka waktu yang lama, proses penipisan ozon terus berlanjut, bahkan setelah penggunaan klorin dan bromin (emisi dari manusia yang merusak ozon) sudah dikurangi. Jika demikian, konsekuensi pada kesehatan yang potensial dari penipisan ozon pada stratosfer adalah timbulnya kanker kulit pada populasi fair-skinned, lesi pada mata, seperti katarak, dan kemungkinan yang terjadi adalah supresi aktivitas sistim imun (McMichael, 2003).

4.2. Cuaca dan iklim : perubahan pada manusia

Iklim merupakan bagian yang dipengaruhi atmosfer dan karakteristiknya didasari oleh tanah dan air, pada wilayah yang luas dan waktu yang lama. Variabilitas dari iklim sangat dipengaruhi oleh variasi musim yang terjadi akibat perubahan yang terjadi pada atmosfer dan lautan, seperti pada ENSO dan NAO (North Atlantic Oscillation). Penelitian yang terus dilakukan terhadap pengaruh iklim terhadap variabilitas iklim akan meningkatkan pemahaman terhadap resiko yang potensial dan untuk mengidentifikasi pilihan penyesuaian yang efektif (Ebi et al, 2003).

4.3. Sistem iklim dan gas greenhouse

Iklim yang ada di bumi ditetapkan berdasarkan interaksi yang kompleks antara matahari, laut, atmosfer, cryosphere, permukaan daratan, dan juga biosfer. Interaksi tersebut didasarkan pada hukum fisik (kekekalan massa, kekekalan energi, dan hukum kedua Newton). Matahari memegang pengaruh yang dominan terhadap cuaca dan iklim (Githeko dan Woodward, 2003).

4.4. Efek langsung pada kesehatan

  • Gelombang panas dan kejadian ekstrim lainnya

Populasi manusia setiap waktu selalu menyesuaikan diri dan beradaptasi terhadap iklim lokal dan juga berusaha untuk menanggulangi perubahan iklim yang terjadi. Akan tetapi, bagaimanapun juga ada sejumlah individu yang sensitif terhadap cuaca yang ekstrim. Bila frekuensi dan intensitas gelombang panas meningkat, resiko kematian dan penyakit yang serius akan meningkat, terutama untuk penduduk yang berusia lebih tua, dengan keberadaan penyakit jantung dan saluran napas, dan juga pada penduduk perkotaan yang miskin. Efek dari peningkatan gelombang panas seringkali diperburuk dengan peningkatan kelembaban dan polusi udara perkotaan (Githeko dan Woodward, 2003).

  • Polusi udara

Kondisi iklim dapat berpengaruh pada transportasi polutan melalui udara, produksi pollen dan tingkat polusi bahan bakar hasil dari pembakaran rumah tangga dan penggunaan energi. Perubahan iklim meningkatkan konsentrasi tingkat dasar dari ozon, tetapi besarnya efek masih belum diketahui. Perubahan iklim memperlihatkan peningkatan resiko kebakaran hutan dan wilayah, hal ini biasanya dikaitkan dengan efek asap yang dihasilkan. Kebakaran besar yang terjadi tahun 1997 di Asia Tenggara dan di Amerika kemudian dikaitkan dengan peningkatan gejala pada saluran napas dan mata. Di Malaysia, dilaporkan pasien yang masuk rumah sakit karena gangguan saluran napas meningkat sebanyak 2-3 kalinya dan sekitar 14 % mengalami penurunan fungsi paru-paru pada anak usia sekolah (Githeko dan Woodward, 2003).

  • Aeroallergen

Dari penelitian yang ada, memperlihatkan peningkatan CO­2 sampai dua kali lipat dari 300 ppm menjadi 600 ppm dan menginduksi empat kali peningkatan produksi pollen dari golongan rumput-rumputan. Jumlah pollen dari tanaman birch (penyebab utama alergi di Eropa Utara) bertambah banyak dengan peningkatan temperatur (Githeko dan Woodward, 2003).

4.5. Efek tidak langsung pada kesehatan

  • Produksi dan persediaan makanan

Perubahan iklim memberikan efek gabungan terhadap produksi makanan secara global. Kebanyakan penelitian saat ini difokuskan pada produksi sereal padi-padian—indikator penting dari produksi total makanan, yang jumlahnya berkisar 70 % dari makanan berenergi secara global. Kemungkinan penurunan kualitas dari makanan, secara umum, yang terbesar terjadi di negara berkembang di mana diestimasikan 790 miliar penduduk saat ini memiliki gizi di bawah standar. Populasi yang berada di wilayah yang terisolasi dengan akses yang terbatas terhadap perdagangan akan menyebabkan mereka mudah terserang penyakit lokal atau gangguan persediaan pangan (Githeko dan Woodward, 2003).

  • Penyakit infeksi dengan perantara air

Ada hubungan yang kompleks antara kesehatan manusia dengan kualitas air, kuantitas air, sanitasi dan higiene. Peningkatan tekanan air diperkirakan merupakan pengaruh dari perubahan iklim (Githeko dan Woodward, 2003).

  • Vektor pembawa penyakit infeksius

Perubahan iklim mempengaruhi distribusi vektor pembawa penyakit infeksius.

Tabel 4.1. Tabel hubungan penyakit-vektor (Githeko dan Woodward, 2003)

Penyakit Vektor Populasi yang beresiko Jumlah yg saat ini terinfeksi atau kasus baru/th Distribusi keberadaan
Malaria Nyamuk 2400 juta (40% dari populasi dunia 272.925.000 42.280.000 Tropik/subtropik
Schistosomiasis Siput air 500-600 juta 120 juta 1.760.000 Tropik/subtropik
Lymphatic filiaris Nyamuk 1000 juta 120 juta 564.000 Tropik/subtropik
African trypanosomiasis (penyakit tidur) Nyamuk tse-tse 55 juta 300.000-500.000 1.598.000 Afrika Tropik
Leishmaniasis Sand fly 350 juta 1,5-2 juta 2.357.000 Asia, Afrika, Amerika, Eropa bagian selatan
OnchocerciasisRiver blindness Black fly 120 juta 18 juta 987.000 Afrika, Amerika Latin & Yemen
American trypanososomiasis Triartonine bug 100 juta 16-18 juta 649.000 Amerika Tengah & Selatan
Demam berdarah Nyamuk 3000 juta 10 juta 653.000 Semua negara tropis
Demam kuning Nyamuk 468 juta di Afrika 200.000 Tidak tersedia Afrika dan Amerika Selatan tropis
Japanese enchepalitis Nyamuk 300 juta 50.000 767.000 Asia

4.6. Pengaruh perubahan iklim yang ekstrim terhadap kesehatan

Variabilitas iklim dapat dilihat melalui ukuran sementara yang sangat bervariasi (berdasarkan hari, musim, dan tahun), dan hal ini sudah menjadi sifat dasar dari iklim, karena iklim merupakan subjek yang berubah. Perhatian besar diberikan pada pengaruh El-Nino-Southern Oscillation (ENSO), yang menjadi ukuran cuaca pada banyak daerah di dunia. Pada daerah-daerah yang sesnitif, ENSO dapat menyebabkan gangguan yang signifikan per tahunnya berupa perubahan temperatur dan / atau curah hujan yang berkurang 2-7 siklus tiap tahunnya (Hales et al., 2003).

Hubungan antara mekanisme fisik, ekologi, dan sosial dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan perubahan kondisi yang ekstrim dengan penyakit. Mekanisme sosial sangat penting, namun sulit untuk dikuantifikasi, misalnya banjir dan kekeringan seringkali menyebabkan perpindahan suatu populasi. Serangan penyakit infeksi umum terjadi di daerah pengungsian karena kurangnya infrastruktur kesehatan, sanitasi yang minimal, padatnya populasi, dan kurangnya tempat berlindung. Iklim juga dapat mempengaruhi penyakit infeksi yang menyebar melalui kontaminasi air atau makanan. Serangan penyakit kolera, tifus, dan diare umum terjadi setelah banjir karena air banjir yang terkontaminasi kotoran manusia atau hewan, sedangkan kekeringan dapat mengurangi ketersediaan air bersih untuk sanitasi dan meningkatkan resiko terjadinya penyakit (McMichael, 2003).

Gambar 4.3. ENSO dan akibatnya (McMichael, 2003)

ENSO menyebabkan efek fisik seperti kekeringan dan juga banjir (lingkaran biru) di mana semuanya saling tumpang tindih dan berinteraksi dengan kondisi ekologi dan sosial ekonomi (ditandai dengan titik-titik) dan dapat menyebabkan serangan penyakit (area berwarna gelap).

Tabel 4.2. Mekanisme pengaruh peningkatan curah hujan rata-rata terhadap kesehatan

(Hales et al., 2003)

Kejadian Jenis Deskripsi Pengaruh potensial pada kesehatan
Presipitasi yang besar Meteorologi Kejadian ekstrim Meningkat atau menurunnya jumlah nyamuk (bila tempat berkembangbiaknya tersapu)
Banjir Hidrologi Sungai, aliran dari hulu ke hilir Perubahan jumlah nyamuk secara besar-besaran yang akan mengkontaminasi permukaan air
Banjir Sosial Tanah dan hasil panen yang rusak Perubahan jumlah nyamuk secara besar-besaran yang akan mengkontaminasi air dan urin tikus yang menyebabkan leptospirosis
Banjir Banjir catastrophic / bencana Banjir yang menyebabkan > 10 kematian dan / atau 200 terkena imbas, dan / atau pemerintah meminta pertolongan dari luar Perubahan jumlah nyamuk secara besar-besaran yang akan mengkontaminasi air dan urin tikus dan meningkatkan resiko kematian akibat penyakit pernapasan dan diare, menurunkan persediaan makanan yang berakibat pada psikososial

Tabel 4.3. Mekanisme penurunan curah hujan rata-rata terhadap kesehatan

(Hales et al., 2003)

Kejadian Jenis Deskripsi Pengaruh potensial pada kesehatan
Kekeringan Meteorologi Penguapan yang melebihi absorbsi air, penurunan kelembaban tanah Perubahan jumlah vektor bila vektor berkembangbiak di daerah kering
Kekeringan Agrikultural Kondisi yang lebih kering dari normal menyebabkan penurunan produksi pangan Tergantung faktor sosial ekonomi, ex.: ketersediaan sumber makanan lain
Kekeringan Sosial Penurunan produksi makanan atau pendapatan, penurunan kualitas dan kuantitas air Kekurangan makanan, sakit, malnutrisi (meningkatkan resiko infeksi). Meningkatkan resiko penyakit terkait air higienis yang terbatas
Kekeringan Kekurangan makanan, kelaparan / bencana kekeringan Kekurangan pangan yang menyebabkan kematian>10 kematian, dan /atau 200 terkena dampak, atau pemerintah meminta bantuan dari luar Kematian akibat kelaparan dan malnutrisi (meningkatkan resiko infeksi)Pengaruh pada kesehatan terkait dengan perpindahan populasi

Penyakit yang biasanya timbul terkait dengan perubahan iklim akibat global warming, antara lain adalah sebagai berikut:

  • Penyakit infeksi

Distribusi vektor sangat sensitif terhadap fluktuasi dari temperatur. Peningkatan temperatur menurunkan waktu yang digunakan populasi vektor untuk berkembangbiak. Meningkatnya temperatur juga menurunkan waktu inkubasi dari patogen (pada parasit malaria, demam berdarah, dan yellow fever virus), yang berarti bahwa vektor menjadi infeksius dengan lebih cepat (Hales et al., 2003).

  • Malaria

Malaria adalah penyakit yang diperantarai oleh vektor yang paling sering terjadi. Lebih dari 2,5 milyar penduduk beresiko terserang penyakit ini, dan ada 0,5 milyar kasus yang diestimasikan terjadi dengan lebih dari 1 miliar kematian akibat malaria per tahunnya. Insidensi malaria dipengaruhi oleh efektivitas infrastruktur fasilitas kesehatan, insektisida, pertumbuhan populasi penduduk, resistensi obat, imunitas, adanya perjalanan, serta perubahan penggunaan tanah dan faktor iklim.

Temperatur yang tinggi bersifat letal bagi nyamuk dan parasit. Pada area yang temparaturnya tertutup bagi limit toleransi fisiologi dari parasit, peningkatan sedikit suhu akan menyebabkan kematian parasit sehingga transmisinya menurun. Pada temperatur yang rendah, sedikit peningkatan suhu akan meningkatkan temperatur secara besar dan meningkatkan resiko transmisi malaria.

Musim kering diidentifikasi sebagai faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kematian karena malaria. Alasannya, kekeringan dikaitkan dengan malnutrisi sehingga meningkatkan suspek infeksi pada manusia. Alasan kedua adalah transmisi menyebabkan penurunan imunitas dari yang terkena (Hales et al., 2003). Selain itu, perubahan ekologi predator alamiah dapat mempengaruhi dinamika vektor nyamuk; populasi nyamuk dapat membaik lebih cepat dibandingkan populasi predatornya setelah musim kering. Musim paceklik juga dapat berkontribusi terhadap meningkatnya kematian selama epidemi malaria, misalnya setelah terjadinya El Nino pada 1877 di India. Banyak kematian terjadi pada akhir musim kering; diperkirakan karena musim hujan yang terjadi sesudahnya meningkatkan jumlah vektor nyamuk dan jumlah populasi manusia di sekitar sarang nyamuk semakin padat (McMichael, 2003).

  • Demam berdarah (dengue)

Demam berdarah (dengue) adalah salah satu jenis penyakit yang paling umum terjadi di daerah tropis dan sub tropis. Dalam beberapa dekade terakhir, dengue telah menjadi masalah kesehatan umum di daerah perkotaan. Penyakit ini menyebar terutama karena minimnya pertahanan terhadap vektor penyakit ini; infrastruktur kesehatan yang tidak memadai, pertumbuhan populasi, urbanisasi yang tidak terkendali, dan meningkatnya perjalanan. Vektor utama penyakit ini adalah Aedes aegypti, yang banyak berkembang di lingkungan perkotaan pada daerah genangan air. Dengue juga bisa disebarkan oleh Aedes albopictus yang memiliki kemampuan toleransi pada temperatur yang lebih dingin.

Dengue merupakan penyakit musiman, dan biasanya dikaitkan dengan suhu yang lebih hangat, dan kondisi yang lebih lembab. Ada berbagai bukti yang menunjukkan bahwa peningkatan curah hujan dapat mempengaruhi kepadatan dan transmisi vektor. ENSO berpengaruh secara tidak langsung dengan menyebabkan perubahan penampungan air karena adanya gangguan persediaan air reguler.

Studi yang dilakukan di Vietnam menunjukkan bahwa kasus dengue meningkat selama tahun-tahun terjadinya El Nino. Di Thailand, yang tidak terkena dampak ENSO, tidak memiliki korelasi dengan kasus dengue. Banyak negara di Asia yang mengalami dengue dengan jumlah kasus yang tidak biasa pada 1998, yang sebagian berkaitan dengan perubahan cuaca karena terjadinya El Nino. Hubungan positif antara El Nino dengan epidemi dengue dilaporkan terjadi di Indonesia, Kolombia, dan Suriname; daerah-daerah dengan temperatur yang lebih hangat dan curah hujan yang lebih sedikit selama El Nino (McMichael, 2003).

  • Penyakit dengan perantara rhodent

Rhodent merupakan salah satu sumber penyakit karena bertindak sebagai inang intermediet yang terinfeksi atau inang bagi vektor arthropoda seperti kutu. Contoh penyakit yang disebabkan oleh perantara ini yang terkait dengan banjir adalah : leptospirosis, tularaemia, dan penyakit perdarahan akibat virus. Penyakit lainnya antara lain adalah wabah, penyakit Lyme, penyakit Tick Borne Encephalitis (TBE), dan hantavirus pulmonary sindrome (HPS) (Hales et al., 2003).

Populasi rhodent meningkat pada saat musim dingin yang basah dan ringan. Suatu studi menunjukkan bahwa wabah penyakit di New Meksiko terjadi lebih sering selama periode musim dingin-musim semi dengan jumlah kasus di atas rata-rata. Kondisi ini menyebabkan peningkatan sumber makanan bagi rhodent sehingga populasinya juga meningkat. Kutu juga sensitif terhadap iklim.

Infeksi hantavirus terutama terjadi karena inhalasi partikel di udara yang berasal dari ekskret hewan tersebut. Munculnya sindrom penyakit hantavirus yang menyerang paru terjadi pada awal 1990-an di AS bagian selatan terkait dengan perubahan kepadatan rhodent lokal. Kondisi kekeringan akan mengurangi populasi predator alami rhodent; selanjutnya curah hujan yang tinggi akan meningkatkan persediaan makanan seperti serangga dan kacang-kacangan. Kombinasi efek ini menyebabkan peningkatan populasi mencit pada tahun 1992-1993. Pada tahun 1998, peningkatan kasus hantavirus dikaitkan dengan peningkatan populasi rhodent karena pengaruh musim dingin yang hangat pada saat terjadinya El Nino (McMichael, 2003).

  • Diare

Diare adalah salah satu penyakit yang paling banyak terjadi di negara berkembang. Studi menunjukkan bahwa ada hubungan antara diare (terutama yang disebabkan oleh bakteri dan protozoa) sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan presipitasi sepanjang hari, musim, dan tahun. Diare biasanya terjadi pada daerah tropis dengan musim penghujan. Banjir dan kekeringan yang merupakan akibat dari perubahan iklim meningkatkan resiko terjadinya diare. Hal ini mungkin disebabkan air hujan dapat mengkontaminasi persediaan air, sedangkan kekeringan mengurangi ketersediaan air bersih untuk sanitasi.

Faktor penyebab utama terjadinya diare terkait dengan persediaan air yang terkontaminasi antara lain adalah Cholerae, Cryptosporidium, E. coli, Giardia, Shigella, Typhoid, dan virus seperti hepatitis A (Hales et al., 2003).

Hubungan antara turbiditas air minum dengan penyakit gastrointestinal telah banyak dilaporkan. Studi terhadap serangan penyakit yang disebarkan melalui air di AS menunjukkan bahwa setengah di antaranya terkait signifikan dengan curah hujan yang tinggi.

Penyebaran penyakit enterik meningkat pada suhu yang lebih tinggi, melalui hubungan langsung dengan pertumbuhan organisme penyebab penyakit di lingkungan. Pada 1997, sejumlah besar pasien mengalami diare dan dehidrasi di Lima, Peru, pada saat suhu udara lebih tinggi dari keadaan normal selama terjadinya El Nino. Studi menunjukkan bahwa peningkatan suhu sebesar 1 °C akan meningkatkan jumlah pasien sebesar 8 % (McMichael, 2003).

  • Penyakit kardiovaskular

Perubahan suhu dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, viskositas, dan denyut jantung sehingga meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung dan bronkokonstriksi.

Tabel 4.4. Hubungan antara suhu dengan kematian karena penyakit kardiovaskular

(McMichael 2003)

Zona iklim Panasa Dinginb Suhu ° Model Sumber
Panas dan kering 1,4 0,6 20 Disesuaikan dengan musim, semuanya menyebabkan kematian ISOTHURM (Delhi)
Hangat lembab 0,9 1,6 20 Disesuaikan dengan musim, mortalitas terjadi terkait usia ISOTHURM (Sao Paulo)
Sedang 1,13 0,33 16,5 Disesuaikan dengan musim, penyakit kardiovaskular Kunst et al., 1993
Dingin 1,13 0,33 16,5 Disesuaikan dengan musim,penyakit kardiovaskular Kunst et al., 1993

a Koefisien % perubahan mortalitas tiap perubahan suhu sebesar 1 °C

b Temperatur terkait tingkat mortalitas yang paling rendah

  • Malnutrisi

Malnutrisi adalah salah satu faktor resiko penting pada kesehatan global yang sangat terkait dengan ketersediaan makanan. Perubahan iklim dapat mempengaruhi ketersediaan ini dengan memberikan dampak negatif melalui pengaruh suhu, presipitasi, dan dampak positif berupa kadar CO2 yang tinggi (McMichael, 2003).

  • Bencana alam yang disebabkan oleh cuaca yang ekstrim dan peningkatan permukaan laut

Bencana alam yang disebabkan oleh cuaca yang ekstrim merupakan penyebab signifikan mortalitas dan morbiditas di seluruh dunia. Bencana yang sering terjadi adalah banjir pasang, yang disebabkan oleh peningkatan permukaan laut, serta banjir dan tanah longsor yang disebabkan oleh peningkatan frekuensi presipitasi secara ekstrim (McMichael, 2003).

4.7. Hubungan antara Perubahan Iklim dengan Penyakit Infeksi

Selama berabad-abad, manusia telah mengetahui bahwa kondisi iklim dapat menyebabkan timbulnya infeksi epidemik. Kaum aristokrat Roma berlindung di bukit-bukit setiap musim panas untuk mencegah terserang malaria. Orang-orang di Asia Selatan mempelajari bahwa pada musim panas, makanan yang mengandung banyak rempah-rempah seperti kari, dapat mencegah terjadinya diare. Di Amerika Serikat bagian selatan, salah satu jenis penyakit yang paling banyak terjadi selama musim panas adalah yellow fever (penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti). Hal itu terjadi pada tahun 1878, selama badai El Nino terkuat menghantam daerah tersebut dan menimbulkan korban jiwa yang mencapai 20000 jiwa.

Penyebaran penyakit infeksi harus dipandang melalui kacamata ekologi. Penyebab infeksi dapat memperoleh nutrisi dan energi yang dibutuhkan dengan menjadi parasit bagi organisme yang lebih tinggi. Sebagian besar infeksi tersebut bersifat ringan, dan sebagian bahkan justru menguntungkan, baik bagi inang maupun mikrobanya. Hanya sebagian kecil infeksi yang merugikan bagi kondisi biologis inang dan inilah yang disebut dengan “penyakit infeksi”.

Selama proses panjang evolusi kultural pada manusia, populasi manusia berkembang di seluruh dunia dan selanjutnya akan menimbulkan munculnya kontak dan konflik inter-populasi. Berbagai perubahan pada ekologi manusia dan interaksi inter-populasi tersebut kemudian mengubah pola penyakit infeksi dalam populasi. Sejak munculnya kegiatan pertanian dan peternakan sekitar 10000 tahun yang lalu, ada tiga perubahan besar pada hubungan antara manusia dengan mikroba, yaitu :

  1. Pemukiman manusia memungkinkan spesies enzootic yang infeksius masuk ke dalam tubuh H. sapiens.
  2. Orang-orang Eurasian mulai mengadakan hubungan militer dan perdagangan sekitar 2000 tahun lalu, mengakibatkan penyebaran penyakit infeksi semakin dominan.
  3. Ekspansi orang-orang Eropa selama lima abad terakhir menyebabkan penyebaran penyakit melalui laut, termasuk penyakit infeksi yang mematikan.

Hal ini mungkin merupakan perubahan besar keempat selama periode transisi. Perkembangan dan peningkatan labilitas terhadap berbagai penyakit infeksi, baik yang lama maupun yang baru, menunjukkan dampak perubahan demografi, lingkungan, dan teknologi yang sangat cepat pada ekologi manusia. Perubahan iklim, salah satu perubahan global yang banyak terjadi, ternyata menyebabkan dampak yang sangat luas terhadap munculnya penyakit infeksi pada populasi manusia (Mc Michael, 2003).

4.8. Klasifikasi Penyakit

Penyakit infeksi dapat dibagi menjadi dua kategori berdasarkan cara penyebarannya, yaitu yang mudah menyebar antar manusia (melalui kontak langsung atau droplet) dan yang menyebar melalui vektor organism, seperti nyamuk atau kutu, atau melalui tanah dan air. Penyakit infeksi juga dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis inangnya, yaitu anthroponoses (inang manusia) atau zoonoses (inang hewan).

  • Penyakit yang penyebarannya secara langsung (Anthroponoses)

Meliputi penyakit yang penyebarannya melalui kontak fisik antar manusia atau paparan droplet. Siklus penyebaran dari penyakit ini terdiri dari dua elemen, yaitu pathogen dan inang manusia. Umumnya, penyakit jenis ini sedikit dipengaruhi oleh faktor iklim karena penyebab infeksinya tidak bisa hidup lama di luar tubuh inang. Penyakit jenis ini lebih banyak dipengaruhi oleh keramaian dan sanitasi yang buruk yang mungkin disebabkan oleh perubahan penggunaan tanah yang disebabkan oleh perubahan iklim. Contohnya adalah campak, TB, dan penyakit menular seksual seperti HIV, herpes, dan sifilis.

  • Penyakit yang penyebarannya secara langsung (Zoonoses)

Penyebarannya juga dapat melalui kontak fisik antar manusia atau paparan droplet. Namun, agen ini tersebar secara alami antar hewan dan infeksinya pada manusia disebabkan oleh paparan hewan kepada manusia. Keberadaan patogen ini di alam sangat besar dan dipengaruhi oleh interaksi hewan dengan lingkungan, yang berdampak pada kecepatan penyebaran, imunitas inang, laju reproduksi dan kematian spesies sehingga penyakit jenis ini lebih rentan terhadap variabilitas iklim. Hantavirus adalah penyakit yang ditularkan langsung secara zoonosis yang umumnya menyerang tikus dan dapat ditularkan kepada manusia ketika keberadaan penyakit tersebut meningkat. Rabies adalah jenis penyakit lainnya yang umumnya menginfeksi mamalia kecil, namun bersifat sangat patogenik pada inang vertebrata. Penyakit seperti HIV dan TB, awalnya juga menyerang hewan.

Gambar 4.4 Empat jenis siklus penyebaran utama penyakit infeksi (McMichael, 2003)

  • Penyakit yang penyebarannya tidak secara langsung (Anthroponoses dan Zoonoses)

Penyakit yang penyebarannya secara tidak langsung anthroponoses adalah jenis penyakit yang patogennya ditransmisikan antara dua inang manusia, baik melalui pembawa fisik (tanah) maupun vektor biologis (kutu). Penyakit jenis ini membutuhkan tiga komponen untuk siklus penyebarannya, yaitu patogen, pembawa fisik atau vektor biologis, dan inang manusia. Sebagian besar vektor membutuhkan makanan berupa darah dari inang vertebratanya untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Contoh penyakit jenis ini adalah malaria dan demam berdarah dengue. Penyakit jenis ini yang ditularkan melalui air rentan dipengaruhi oleh faktor iklim karena patogennya berada di lingkungan eksternal selama siklus hidup mereka. Banjir dapat menyebabkan air terkontaminasi atau kecepatan reproduksi patogen dipengaruhi oleh temperatur udara permukaan. Kolera adalah jenis penyakit yang ditularkan secara tidak langsung melalui air secara anthroponose; bakteri (Vibrio cholerae) berada di ekosistem perairan yang dengan menyerang zooplankton. Kemudian, golongan udang-udangan bertahan hidup dengan memakan fitoplankton. Populasi fitoplankton akan meningkat (meledak) ketika temperatur laut menjadi hangat. Sebagai akibat hubungan ekologi ini, kolera akan mewabah ketika temperatur permukaan laut meningkat.

Penyakit yang ditularkan secara tidak langsung secara zoonoses serupa dengan yang anthroponoses, hanya saja siklus alami penyebarannya terjadi antar vertebrata selain manusia; manusia terinfeksi karena adanya kejadian yang menyebabkan pembawa atau vektor yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh manusia. Jenis penyakit ini melibatkan empat komponen dalam siklus penyebarannya, yaitu pathogen, vektor biologis atau pembawa fisik, hewan, dan inang manusia. Penyakit jenis ini sangat rentan terhadap perubahan ekologi dan kondisi iklim karena banyaknya komponen yang terlibat dalam siklus penyebarannya dan interaksi antara komponen-komponen tersebut dengan lingkungan eksternal.

Siklus penyebaran penyakit yang kompleks juga terjadi pada beberapa penyakit yang tidak bisa diklasifikasikan hanya berdasarkan metode penyebarannya secara alami. Misalnya adalah penyakit Rift Valley fever yang virusnya berasal dari hewan, dan menyebar di antara inang vertebrata melalui nyamuk spesies Aedes. Jika terjadi banjir, nyamuk Culex akan memperoleh banyak makanan dari inang. Vektor ini tergolong ke dalam bridge spesies karena juga mendapatkan makanan dari inang manusia sehingga penyebaran virusnya dapat berada di luar siklus zoonotic (Mc Michael, 2003).

4.9. Sensitivitas Iklim terhadap Penyakit Infeksi

Di berbagai belahan dunia, penyakit enterik menunjukkan fluktuasi signifikan secara musiman. Di Skotlandia, infeksi Campylobacter mencapai puncaknya di musim semi. Di Bangladesh, penyakit kolera terjadi sepanjang musim angin. Di Peru, infeksi Cyclospora mencapai puncaknya di musim panas, kemudian berkurang saat musim dingin. Demikian pula dengan penyakit malaria dan demam berdarah dengue juga menunjukkan peningkatan yang signifikan pada bulan-bulan dengan musim hujan dan kelembaban yang tinggi. Epidemi infeksi lain, misal meningococcal meningitis, meledak sepanjang musim panas dan kering dan berkurang pada awal musim hujan di Gurun Sahara Afrika.

Fluktuasi musiman dari penyakit infeksi juga berkaitan dengan perubahan faktor iklim. Lebih lanjut, untuk menilai pengaruh iklim terhadap tren penyakit, harus diperoleh data sepanjang musim dan menggunakan statistik untuk menghitung fluktuasinya. Vektor, patogen, dan inang bertahan hidup dan bereproduksi pada kondisi iklim yang optimal dan perubahan kondisi ini dapat mengakibatkan perubahan besar terhadap penyebarannya. Faktor iklim yang paling mempengaruhi penyakit yang disebarkan melalui vektor adalah temperatur dan presipitasi, namun peningkatan permukaan laut, angin, dan lamanya siang hari juga merupakan faktor-faktor yang penting.

  • Efek temperatur terhadap vektor dan patogen (McMichael, 2003) :
  1. Efek terhadap vektor :

a) Kemampuan bertahan hidup dapat meningkat atau menurun tergantung spesiesnya.

b) Beberapa vektor memiliki kemampuan bertahan hidup yang lebih tinggi pada tempat-tempat yang lebih tinggi dengan temperatur panas.

c) Perubahan kecepatan pertumbuhan populasi.

d) Perubahan kontak antara vektor dengan inang.

e) Perubahan populasi secara musiman.

  1. Efek terhadap patogen :

a) Penurunan masa inkubasi patogen dalam vektor pada temperatur yang lebih tinggi.

b) Perubahan musim penyebaran.

c) Perubahan distribusi.

d) Penurunan replikasi virus.

  • Efek peningkatan permukaan laut terhadap vektor patogen (McMichael, 2003) :

Perubahan aliran muara dan kadar garam di daerah rawa berkaitan dengan spesies nyamuk karena dapat mengurangi jumlah tempat hidup nyamuk tertentu (misal pengurangan habitat Culiseta melanura). Alternatifnya, perubahan habitat air asin menjadi air tawar di daerah rawa dapat menyebabkan pindahnya vektor dan inang dari habitat aslinya.

Tabel 4.5. Hubungan antara patogen dengan iklim (McMichael, 2003)

Kelompok Patogen Agen Patogenik Penyebaran melalui makanan Penyebaran melalui air Efek cuaca secara tidak langsung Efek cuaca secara langsung
Virus Virus enterik (Hepatitis A, Coxsackie B) Kerang Air tanah Badai dapat meningkatkan transpor virus dari feses dan sumber air limbah Jumlah yg bertahan hidup ? pada ? suhu dan paparan UV
Bakteri Cyanobacteria

Dinoflagellates

Vibrio (V. vulnificus, V. parahaemolyticus, V. cholera; Anabaena spp., Gymnodinium Pseydibutzschia spp.) Kerang Infeksi luka Menyebabkan ledakan zooplankton Kadar garam dan suhu terkait dengan pertumbuhan di lingkungan perairan
Protozoa Protozoa enterik (Cyclospora, Crytosporidium) Buah-buahan dan sayur-sayuran Air minum Badai dapat meningkatkan transpor dari feses dan sumber air limbah Suhu terkait dengan maturasi dan infektivitas Cyclospora

Studi yang dilakukan pada beberapa penyakit infeksi menunjukkan adanya hubungan antara variasi iklim dengan tren munculnya penyakit, antara lain ensefalitis, malaria, dan berbagai penyakit yang disebarkan melalui air.

  • Ensefalitis

Data menunjukkan bahwa epidemi arbovirus tertentu, seperti Saint Louis encephalitis virus (SLEV) terkait dengan faktor iklim. Dari studi yang dilakukan terhadap SLEV di Florida Selatan, siklus transmisinya dapat dibagi sebagai berikut :

  • Pemeliharaan : Januari – Maret
  • Amplifikasi : April – Juni
  • Transmisi awal : Juli – September
  • Transmisi akhir : Oktober – Desember

Vektor nyamuk berinteraksi dengan inang burung selama periode amplifikasi.

Ada tiga episode transmisi SLEV yang diobservasi sepanjang studi ini. Setiap episode terjadi selama musim hujan yang langsung diikuti oleh kekeringan. Hasilnya menunjukkan bahwa musim panas yang kering memaksa vektor nyamuk, Cx. nigripalpus untuk berjumpa dengan burung liar remaja dan dewasa pada habitat terbatas dengan vegetasi padat. Interaksi ini mengakibatkan transmisi dan amplifikasi SLEV semakin cepat. Ketika musim kering berakhir dan sumber-sumber air terbentuk kembali, vektor dan inang yang sudah terinfeksi menyebar ke berbagai area geografis.

Efek iklim serupa terjadi pada West Nile virus (WNV), yang pertama kali terjadi di Amerika pada 1999. Amplifikasi virus terjadi pada musim dingin yang hangat diikuti oleh musim kering yang panas. Seperti halnya SLEV, WNV adalah penyakit yang disebarkan melalui vektor hewan, normalnya di antara burung oleh nyamuk Culex pipiens. Vektor tersebut cenderung bersarang di daerah perairan. Pada kondisi kering, daerah perairan tersebut semakin pekat dengan bahan organik dan predator nyamuk, seperti katak dan capung, semakin berkurang. Burung kemudian akan berkumpul di daerah tersebut dan meningkatkan interaksi dengan nyamuk. Pada 1999, kondisi iklim seperti ini terjadi di Atlantik tengah. Seiring berkembangnya lingkungan hidup yang sesuai bagi spesies burung, epidemi penyakit ini pun semakin luas (McMichael, 2003).

  • Malaria

Ilmuwan menemukan bukti bahwa penyakit malaria terjadi secara musiman di area-area dengan endemi yang tinggi. Malaria mungkin merupakan penyakit yang ditularkan melalui vektor yang paling sensitif terhadap perubahan iklim jangka panjang.

Dari hasil perbandingan antara perubahan iklim bulanan dengan kasus malaria di dataran tinggi Kakamega, diketahui ada hubungan erat antara penyebaran malaria dengan anomaly temperatur maksimum bulanan selama tiga tahun (1997-2000).

Selain itu, juga dilakukan terhadap efek kelembaban tanah untuk menentukan pengaruh cuaca pada penyebaran malaria. Kondisi kelembaban tanah yang tinggi dan habitat vektor dapat memperpanjang masa presipitasi, misalnya pada An. gambiae.

Hubungan antara malaria dengan perubahan iklim yang ekstrim telah lama menjadi subjek studi di pemukiman masyarakat India. Pada awal abad 20, daerah Punjab mengalami periode epidemi malaria. Mendapatkan aliran air dari lima sungai, menjadi batas di sekitar Gurun Pasir Thar. Musim hujan yang berlebih dan humiditas tinggi diperkirakan menjadi faktor utama terjadinya epidemi peningkatan jumlah nyamuk. Sementara itu, baru-baru ini resiko malaria juga semakin meningkat hamper lima kali lipat selama terjadinya El Nino di berbagai daerah. Resiko epidemi ini semakin besar ketika musim hujan semakin berat. Korelasi kuat antara curah hujan, jumlah hari hujan, dan insiden malaria ini terutama terjadi di Rajasthan dan beberapa distrik di Gujarat (McMichael, 2003).

  • Penyakit yang disebarkan melalui air

Studi yang dilakukan terhadap penyakit diare pada anak-anak di Peru, merupakan contoh yang baik mengenai hubungan antara iklim dengan kesehatan. Akibat terjadinya El Nino pada tahun 1997-1998, jumlah pasien yang dirawat di RS karena diare semakin meningkat. Jumlah ini bertambah dua kali lipat di musim dingin. Untuk peningkatan suhu sebesar 1 °C, jumlah pasien RS meningkat sebanyak 8 %.

Pada studi yang lain, dipelajari hubungan antara presipitasi yang ekstrim dengan serangan penyakit yang disebarkan melalui air di AS antara 1948 dan 1994. Hasilnya menunjukkan bahwa 50 % serangan terjadi pada bulan-bulan yang sangat basah dengan curah hujan tinggi.

Banyak indikator fisik dan biologis pada perubahan iklim yang telah didokumentasikan, misalnya pecahnya lapisan es di sungai dan danau-danau, pohon yang berbunga lebih awal, adanya serangga, dan lain-lain. Namun, efeknya terhadap kesehatan manusia tergantung pada dampaknya pada sistem fisik dan biologis. Analisis terhadap penyakit akan semakin kompleks karena melibatkan populasi manusia dalam jumlah yang besar (Mc Michael, 2003).

BAB V

Program dalam Mengatasi dan Mengurangi Dampak Global warming

5.1. Mengatasi dengan Mengubah Pola Gaya Hidup

  1. Menggunakan bahan baker bioethanol yang terbuat dari bahan – bahan alami seperti gandum, jagung, minyak goreng bekas yang melalui proses peragian, pengeringan dan penyulingan
  2. menghemat energi. Energi yang kita gunakan sehari – hari untuk kendaraan dan listrik, dihasilkan dengan membakar bahan bakar fosil seperti batubara, minyak bumi dan gas yang dapat mengeluarkan CO2 yang terkumpul di atmosfer. Hal – hal yang dapat dilakukan di rumah yaitu : matikan lampu jika tidak dibutuhkan, gunakan shower, gunakan kaca dobel.
    1. Recycle sampah. 90%sampah ditimbun dalam tanah, hal ini menghasilkan gas metaan yang merupakan gas kedua yang menyebabkan global warming
    2. Gunakan kendaraan umum
    3. Menggunakan sumber energi baru

a. Hydroelectric power (HEP):menggunakan tenaga perpindahan air menjadi listrik. Memerlukan dam yang besar sehingga berefek buruk bagi ekosistem dan manusia. HEP Menyediakan 20% energi yang dibutuhkan dunia

  1. Energi matahari (solar)
  2. Wind power
  3. Biomass
  4. Geothermal energi : menggunakan energi di bawah permukaan bumi

5.2. Program Pengurangan carbon

  1. A. Carbon capture and disposal (CCD)

CCD mampu mencegah 100 bilion ton CO2 yang dikeluarkan oleh batubara 50 tahun mendatang. Prosesnya dengan memampatkan CO2 murni menjadi bentuk cair yang kemudian disuntikan ke bagian terdalam dari batu berpori yang berada didalam batu yang impermeable dalam tanah. Keadaan geologi menyebabkan kedalaman yang berbeda – beda

Gambar 5.1. Skema CCD

  1. B. CO2 dan Enhanced Oil Recovery (EOR)

CO2 disuntikan dalam minyak yang sudah masak pada tekanan tinggi. Sehingga terbentuk campuran minyak dan CO2, hal ini meningkatkan pendaurulangan minyak (EOR). Minyak dalam bumi dipindahkan oleh CO2 dan digeser tempatnya, sehingga CO2 disimpan dalam formasi geologi minyak. Meskipun beberapa CO2 dipompa keluar oleh minyak, tapi CO2 dapat diserap kembali dan disuntikan kembali untuk pembaruan minyak atau dibuang secara permanent.

Minyak primer dan sekunder standar yang diproduksi tanpa EOR hanya dapat menghasilkan 1 – 3% minyak. Dengan EOR 10% minyak dapat dihasilkan. 35 milion ton CO2 digunakan setiap tahun untuk mendaurulang 75 milion barel minyak.

Departemen energi US memperkirakan EOR dapat mendaurulang 60 bilion barel minyak domestic di 48 negara bagian.

5.3. Satelit untuk mengontrol kuantitas sinar matahari dan pemanasan bumi

Dilakukan dengan membuat ring/cincin buatan dari partikel kecil yang mengelilingi bumi untuk melindungi cakupan iklim tropis yang ekstrim. Cincin ini diletakkan di orbit equator. Kemungkinan lain adalah dengan spacecraft yang dianalogikan seperti payung .Efek sampingnya adalah penyebaran sinar matahari oleh cincin partikel akan menerangi langit malam seperti bulan purnama.. Mengurangi kwantitas matahari 1,6% akan mengurangi 1,75 K (3 Farenheit)

5.4. Urban System Design (USD)

Target : sistem transportasi perkotaan

Perubahan gaya hidup (rumahtangga, individu dan perusahaan). Hal ini memerlukan pemahaman akan kebiasaan rumahtangga, individu dan perusahaan yaitu :

  1. sistem design : dengan menciptakan sistem transportasi dan perkotaan yang rendah carbon, perlu dipertimbangkan perbedaan peralatan di tiap negara dan potensi munculnya teknolofi baru di negara – negara tersebut

Gambar 5.2. Skema USD

Konsep : masyarakat rendah-carbon (keseimbangan carbon, minimalisir jumlah carbon), lifestyle, dukungan dan dorongan masyarakat, pemerintahan, industri dan lain – lain

Metodologi: internasionalisasi, pendekatan normativ, teori sistem optimasi, pendekatan keseimbangan dll

Aplikasi : sistem transportasi perkotaan, lifestyle perkotaan (tempat tinggal. Sekolah, kantor, aktivitas di waktu luang, aktivitas diluat kebiasaan, traveling dll), sikap masyarakat kota tentang kebiasaan rendah carbon, kepeduian perindustrian akan lingkungan (alat teknologi dan tenggungjawab sosial) dll.

  1. mengembangkan peralatan (tool development) : dengan adanya keseimbangan antara sistem yang diharapkan dengan penerimaan masyarakat

Gambar 5.3. Skema Tool Development

  1. Kebijakan pemerintah dan anjuran : mengevaluasi dan memberikan anjuran atau masukan tentang kebijakan yang dapat direalisasikan untuk menciptakan kebiasaan yang menghasilkan carbon rendah

Gambar 5.4. Skema Kebijakan Pemerintah

5.5. Protokol Kyoto

Merupakan protokol yang dihasilkan oleh UNFCCC atau FCCC di Kyoto jepang tahun 2007, yang bertujuan untuk mengontrol konsentrasi “greenhousa gases” (CO2, methane, nitrit oksid, sulfur heksafluoride) dan 2 kelompok gas (hidrofluorocarbon dan perfluorocarbon) di atmosfer. Pada januari 2009, 183 negara tergabung dalam protokol ini. Bidang industri berjanji akan menurunkan 5,1% emisi dibanding tahun 1990.

Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.

Menurut rilis pers dari Program Lingkungan PBB: “Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca – karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC – yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.

Protokol Kyoto menjamin bahwa teknologi yang akan dialihkan ke negara berkembang seperti Indonesia harus memenuhi kriteria tersebut melalui Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB) atau Clean Development Mechanism (CDM) yang diatur oleh Protokol Kyoto.

Indonesia telah mengesahkan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (Konvensi Perubahan Iklim) melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994, sehingga sangatlah penting bagi Indonesia untuk mengesahkan Protokol Kyoto. Dengan mengesahkan Protokol tersebut, Indonesia mengadopsi hukum internasional sebagai hukum nasional untuk dijabarkan dalam kerangka peraturan dan kelembagaan.

Dengan mengesahkan Protokol Kyoto, Indonesia mengadopsi Protokol tersebut sebagai hukum nasional untuk dijabarkan dalam kerangka peraturan dan kelembagaan sehingga dapat :

a. mempertegas komitmen pada Konvensi Perubahan Iklim berdasarkan prinsip tanggung jawab bersama yang dibedakan (common but differentiated responsibilities principle) ;

b. melaksanakan pembangunan berkelanjutan khususnya untuk menjaga kestabilan

konsentrasi GRK di atmosfer sehingga tidak membahayakan iklim bumi;

c. membuka peluang investasi baru dari negara industri ke Indonesia melalui MPB;

d. mendorong kerja sama dengan negara industri melalui MPB guna memperbaiki dan memperkuat kapasitas, hukum, kelembagaan, dan alih teknologi penurunan emisi GRK;

e. mempercepat pengembangan industri dan transportasi dengan tingkat emisi rendah

melalui pemanfaatan teknologi bersih dan efisien serta pemanfaatan energi terbarukan;

f. meningkatkan kemampuan hutan dan lahan untuk menyerap GRK.

Indonesia memiliki peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan mendukung proses pelaksanaan Protokol Kyoto. Peraturan perundang-undangan yang terkait, antara lain sebagai berikut :

1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok

Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1967 Nomor 22,

Tambahan Lembaran Negara Nomor 2831);

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419);

3. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501);

4. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations. Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negard Nomor 3557);

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699);

6. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888).

5.6. Pencegahan Efek Global warming Di Bidang kesehatan

Iklim merupakan hal/kondisi yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Adanya variasi baik cuaca dan iklim maupun paparannya terhadap manusia akan secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan manusia. Lebih lanjutnya, adalah sangat penting untuk melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan kesehatan manusia.

Hal-hal penting dalam kesehatan yang memicu berbagai faktor timbulnya penyakit akibat adanya perubahan iklim antara lain adanya peningkatan cuaca menjadi keadaan ekstrem (panas/dingin) akan memberikan respon tertentu terhadap individu, bertambahnya polusi baik polusi udara, air dan tanah akan menimbulkan banyak masalah dan penyakit yang dapat muncul, yang dipicu oleh polusi, misalnya timbul masalah kesehatan yang berhubungan dengan saluran pernapasan, sesak, alergi, hujan asam dan penggunaan air minum dari sumber yang sudah tercemar akan menimbulkan permasalahan seperti penyakit infeksi maupun dapat terkontaminasi logam berat, dan sebagainya.

  1. Mengubah pola penyakit dan kematian

di Eropa tahun 2007, perubahan panas menyebabkan 70.000 kematian, khususnya pada kasus pernafasan dan kardiovascular. Peningkatan temperatur berkaitan erat dengan stress (thermal stress), sehingga meningkatkan kematian karena stroke. Selain itu juga banyak terjadi penyakit karena infeksi, malaria, encephalitis, DBD, schistosomiasis, fascioliasis, alveolar achinococcosis, leishmaniasis, Lyme borreliosis dan infeksi hantavirus. promosi jarring – jaring nyamuk, vaksin baru, diagnosa yang cepat dan efektif perlu dilakukan.

Solusi yang dapat ditawarkan diantaranya adalah

  1. melakukan penelitian untuk menemukan vaksin baru dengan skala luas
  2. Penguatan infrastruktur kesehatan, pengetahuan, politik dan pendanaan
  3. solusi murah dan mudah bisa dilakukan dengan jaring nyamuk, filter air, menyediakan sistem kesehatan yang bertanggungjwab pada efek perubahan iklim pada kesehatan
  4. Pemanfaatan peta satelit dan geeografi untuk mendeteksi infeksi dan mencegah penyebarannya
  5. Mengubah Pola Nutrisi

Perubahan iklim menyebabkan malnutrisi pada bayi, kelahiran dengan berat badan rendah, airsusu yang kurang, hal ini menyebabkan 3,5 milion ibu dan bayi meninggal tiap tahunnya.

Solusi yang dapat diberikan diantaranya :

  1. meningkatkan produksi agriculture yang intensif. Hal ini memiliki efek samping merugikan yaitu rusaknya nutrisi tanah, penggunaan pestisida berlebihan, gangguan penyerbukan alami, degradasi tanah dan erosi.
  2. Perubahan teknologi di bidang agrikultur sanitasi dan air

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk pengatasan dan pencegahan global warming yang berpengaruh terhadap Kesehatan :

Pencegahan dan Pengatasan :

  • Selalu menjaga kebersihan diri dan kesehatan serta daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit yang muncul akibat perubahan iklim dan cuaca.

Perubahan iklim dan cuaca dapat memicu / mempengaruhi lama dan besarnya intensitas cuaca panas maupun besarnya intensitas atau curah hujan sehingga dapat menimbulkan banjir. Perubahan iklim juga dapat mempengaruhi timbulnya perubahan suhu pada lingkungan. Suhu akan semakin meningkat dan dapat berakibat adanya kenaikan tinggi air laut. Apabila kenaikan air laut tersebut ditambah dengan adanya intensitas hujan yang tinggi, terlebih apabila hujan tersebut mengandung asam, maka dapat memicu terjadinya banjir, khususnya bagi masyarakat yang hidup di daerah dataran rendah / pesisir. Banjir dapat memicu faktor penyakit yang lain seperti infeksi, umumnya infeksi pada saluran pencernaan dan pernapasan. Contoh manifestasi penyakit yang ditimbulkan karena banjir akibat pengaruh global warming antara lain diare, disentri, kolera, Leptospirosis, dan pneumonia. Selain itu, global warming juga memicu meningkatnya temperature yang dapat menyebabkan vector-vektor penyebar penyakit tropis tertentu (seperti malaria) juga berkembang baik.

Pencegahan dan perlindungan terhadap diri sendiri yang dapat dilakukan antara lain mengkonsumsi makanan sehat dan suplemen yang dapat menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, menjaga kebersihan diri serta menjaga kebersihan lingkungan, termasuk penanganan sampah rumah tangga yang dapat memicu terjadinya pencemaran pada air dan tanah (dibuang sembarangan), serta dapat menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan.

  • Melakukan reboisasi hijau / penanaman kembali pada daerah kering. Reboisasi hijau sangat berperan terhadap pengatasan dan pencegahan terjadinya global warming yang semakin intens terjadi pada lingkungan. Dengan adanya reboisasi hijau, maka emisi dari gas dari gas-gas buangan kendaraan bermotor, industri maupun rumah tangga. Apabila emisi gas tersebut berada dalam kondisi di atas nilai normalnya, maka akan berdampak terhadap kesehatan. Penyakit yang mungkin timbul dari adanya peningkatan emisi gas seperti karbon dioksida pada lingkungan antara lain penyakit yang berhubungan dengan saluran pernapasan, contoh : asma, pneumonia, dan bronchitis. Selain itu, penanaman kembali tumbuhan hijau tertentu (terutama tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai fitoremediasi) dapat menguntungkan kelangsungan hidup umat manusia di saat global warming terjadi seperti saat ini. Hal tersebut menguntungkan karena tumbuhan yang dapat berperan sebagai fitoremidiator dapat menyerap logam-logam berat yang dapat mencemari lingkungan (pencemaran air dan tanah) dan berdampak buruk terhadap kesehatan manusia.
  • Mengurangi dan membatasi pengeluaran / emisi gas-gas buangan dan CFC

Pengeluaran / emisi dari gas-gas buangan seperti dari kendaraan bermotor, industri maupun rumah tangga serta pemakaian gas CFC seperti pada kulkas maupun AC yang berlebihan sebaiknya dihindari untuk mencegah terjadi global warming yang semakin intens pada lingkungan.

  • Melakukan recycling / daur ulang terhadap barang-barang yang digunakan.

Seringkali, barang-barang yang sudah rusak langsung dibuang oleh pemiliknya. Apabila setiap orang melakukan hal yang sama, maka jumlah polutan yang ada pada lingkungan (sampah) akan meningkat, sehingga secara tidak langsung akan menyumbangkan kontribusi pencemaran lingkungan dan meningkatkan intensitas global warming. Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah global warming antaa lain melakukan recycling / daur ulang terhadap barang-barang habis pakai / sekali pakai. Selain dapat dimanfaatkan dalam bentuk yang lainnya, bahan daur ulang ternyata dapat membantu mengurangi efek global warming yang ditimbulkan.

  • Membatasi penggunaan barang-barang berbahan dasar plastik dan pemakaian listrik serta air yang berlebihan.

Barang-barang yang berbahan dasar plastik dapat menyumbangkan / berkontribusi besar terhadap pencemaran lingkungan dan meningkatkan intensitas global warming karena umumnya bahan-bahan plastik sukar terurai dalam tanah. Konsumsi listrik dan air yang berlebihan juga akan meningkatkan intensitas / berdampak pada global warming yang semakin buruk, karena umumnya pembangkit-pembangkit tenaga listrik memerlukan batubara sebagai sumber energinya. Batubara menghasilkan emisi gas yang sangat berbahaya dan dapat menjadi polutan di udara. Hal tersebut akan mempengaruhi kualitas udara lingkungan, timbulnya hujan asam serta terjadinya perubahan temperature menjadi lebih panas dari sebelumnya. Sehingga, merupakan keputusan yang bijak apabila membatasi barang-barang berbahan dasar plastik dan pemakaian listrik dan air secara berlebihan.

  • Antisipasi, Pengawasan, Penanggulangan Penyakit serta Penanganan Penyakit yang dilakukan oleh instansi kesehatan (rumah sakit), serta peningkatan sistem pelayanan kesehatan.

Hal khusus yang dapat dilakukan untuk mengatasi efek / permasalahan kesehatan terkait oleh karena global warming adalah mendirikan lembaga / organisasi yang mengawasi tingkat pencemaran serta upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi global warming tersebut. Di negara maju seperti USA, lembaga tersebut juga bertanggungjawab untuk mempromosikan efek global warming yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia serta memberikan informasi terkait global warming, diskusi maupun penyuluhan. Informasi yang diberikan dapat berupa panduan pencegahan atau pengatasan global warming di sekitar lingkungan dan industri. Lembaga tersebut dapat bekerjasama dengan institusi pendidikan, instansi pemerintahan dan kesehatan dalam membantu serta mengawasi permasalahan kesehatan yang muncul akibat pengaruh global warming. Lembaga tersebut juga menerima laporan, pengaduan dan informasi dari masyarakat terkait masalah dicurigainya ada pencemaran yang terjadi di lingkungan tersebut karena hal tersebut akan berdampak pada kualitas kesehatan masyarakat setempat.

BAB VI

Pembahasan

Global warming adalah suatu dampak meluas yang ditandai dengan meningkatnya suhu bumi secara permanen. Terdapat dua penyebab global warming yang dikemukakan oleh para peneliti yaitu sebagai akibat dari perubahan permukaan bumi dan akibat dari efek rumah kaca (green house effect). Perubahan permukaan bumi dapat terjadi secara alami maupun akibat aktivitas manusia. Aktivitas manusia dalam mengubah permukaan bumi lebih banyak bersifat merusak sehingga mengganggu kesetimbangan siklus biogeokimia. Aktivitas manusia tersebut mencakup penebangan hutan untuk memenuhi kebutuhan akan kayu serta lahan pertanian, mengubah daerah mangrove untuk pertambakan, sampai dengan penggunaan lahan untuk perindustrian. Perubahan lahan ini menyebabkan dampak berkesinambungan di mana dampak-dampak tersebut memiliki hubungan sebab-akibat. Adanya dampak yang berkesinambungan dan saling terkait pada area lokal, regional dan global membuat setiap adanya aktivitas perubahan permukaan bumi harus dilengkapi dengan analisis dampak lingkungan.

Enhanced green house effect menyebabkan global warming melalui mekanisme peningkatan gas-gas rumah kaca alami (CO2, metana, NO). Pada kondisi normal, gas rumah kaca menyerap beberapa radiasi panas yang lepas dari permukaan, bekerja sebagai lapisan selektif terhadap radiasi dan menyebabkan perbedaan 21 °C atau antara suhu rata-rata sebenarnya dari permukaan bumi yang sebesar 15°C. Gas-gas karbon ini bersifat dingin sehingga pelepasan radiasi matahari ke luar angkasa lebih sedikit. Makin dingin suhu atmosfer, maka akan makin sedikit radiasi yang dilepaskan dan suhu bumi akan makin meningkat. Mekanisme ini yang disebut penghangatan alami bumi, karena tanpa gas-gas ini, suhu permukaan bumi hanya sebesar 6 °C.

Gas CO2 secara alami terdapat dalam atmosfer sebesar 280 ppmv dan sekarang telah mengalami peningkatan sebesar 30 % dari tahun 1700. Peningkatan ini disebabkan oleh banyak faktor yaitu terganggunya siklus karbon akibat perusakan hutan, aktivitas manusia berupa transportasi, dan industri serta pembakaran sampah.

Gas metana yang juga termasuk dalam siklus karbon dihasilkan oleh berbagai aktivitas alam, dalam jumlah alami 0,7 ppmv. Dengan adanya aktivitas manusia, gas ini telah naik sebanyak dua kali lipat dengan tingkat pertambahan 0,6 % per tahun. Jumlah gas ini relatif kecil dibandingkan dengan gas CO2, tetapi efek rumah kaca yang ditimbulkan sebesar 7,5 kali gas CO2. Sumber alami metana adalah kawasan rawa, sedangkan peningkatannya disebabkan paling tinggi oleh adanya penambangan batu bara, minyak, dan gas lalu diikuti dengan adanya fermentasi enterik. Fermentasi enterik, baik hewan maupun manusia, adalah penyumbang metana kedua tertinggi, terkait dengan fakta ini maka dicetuskanlah berbagai program masyarakat dan individual. Terdapat program yang dikemukakan oleh organisasi lingkungan yaitu pengurangan konsumsi daging menjadi satu kali dalam seminggu. Diharapkan dengan adanya program ini, metana hasil dari peternakan dapat diminimalkan. Di Indonesia sendiri, metana yang dihasilkan oleh fermentasi enterik hewan dan manusia telah mulai digunakan untuk keperluan rumah tangga seperti menjadi bahan alternatif pengganti LPG.

Kerja gas non alami seperti CFC adalah merusak ozon dan meningkatkan intensitas radiasi sinar UV matahari yang masuk ke bumi. Adanya CFC di stratosfer menyebabkan atom klorin yang terkandung juga dilepaskan oleh karena radiasi cahaya matahari. Klorin ini sangat reaktif dengan ozon, sehingga ozon terurai dan mengakibatkan lubang ozon. Reaksi ini akan terus terjadi selama CFC berada di stratosfer yaitu selama 200 tahun.

Dari tinjauan terjadinya kenaikan suhu bumi ini, perubahan permukaan bumi mempengaruhi secara tidak langsung karena terganggunya siklus yang harusnya terjadi secara normal, sedangkan efek rumah kaca mempunyai efek langsung dalam meningkatkan suhu permukaan bumi. Dapat dikatakan bahwa percepatan efek rumah kaca akibat peningkatan gas-gas rumah kaca adalah penyebab langsung dari global warming.

Dampak adanya global warming dapat ditinjau secara umum dan khusus yaitu bidang kesehatan. Secara umum, global warming mengakibatkan adanya peningkatan suhu bumi yang berimplikasi kepada kenaikan permukaan air laut. Kenaikan permukaan air laut menyebabkan dampak global mulai dari anomali iklim, politik, ekonomi dan bergesernya wilayah suatu negara akibat pulau yang tenggelam. Contoh anomali iklim yang terjadi adalah sering terjadinya badai, pergeseran musim, ketidakjelasan cuaca, tsunami, dan peningkatan intensitas angin puyuh. Bila peningkatan suhu dan permukaan air laut terus berlanjut, maka 100 tahun mendatang bumi akan mengalami perubahan wajah. Daerah tropis seperti Asia Tenggara, tengah benua Afrika, sebagian Amerika Tengah dan Selatan akan banjir dan berubah menjadi gurun. Daerah kutub seperti Eropa Utara, Alaska, Rusia, dan Kutub Utara akan menghangat dan berpotensi untuk menjadi lahan yang dapat ditanami.

Peningkatan suhu bumi secara khusus dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada masyarakat dunia. Perubahan iklim dan cuaca yang drastis akan mengubah ketahanan imunitas. Perubahan pada faktor suhu, kelembapan, presipitasi dapat mengubah siklus hidup nyamuk sebagai vektor pembawa penyakit. Tidak hanya penyakit yang membawa dampak negatif terhadap kesehatan, kegagalan panen akibat anomali iklim akan berdampak pada pola nutrisi masyarakat. Efek pembesaran lubang di ozon dapat meningkatkan intensitas sinar UV yang dapat menyebabkan resiko terjadinya tumor dan kanker kulit.

Dampak global warming secara langsung terjadi akibat gelombang panas yang ditimbulkan secara ekstrim sehingga banyak orang lanjut usia yang tidak tahan dan akhirnya menyebabkan kematian. Peningkatan polusi udara akan meningkatkan frekuensi gangguan ISPA, sedangkan penyebaran polen dapat mengakibatkan alergi yang dapat berdampak hingga kematian akibat paparan yang tinggi. Secara tidak langsung, perubahan iklim akan menganggu pertanian dan panen. Menurunnya hasil panen mengakibatkan kurangnya bahan makanan sehingga banyak terjadi malnutrisi sehingga tingkat kesehatan menurun dan masyarakat mudah terkena penyakit. Perubahan siklus hidup vektor penyakit, meningkatkan resiko penyakit infeksi akibat bakteri, virus dan parasit yang meningkat akibat suhu bumi menghangat mendekati suhu optimal perkembangan mikroorganisme.

Penyakit-penyakit yang frekuensinya bertambah akibat penghangatan bumi adalah malaria, demam berdarah, infeksi parasit, diare dan penyakit enterik lainnya, penyakit kardiovaskular, infeksi akibat rhodent, serta malnutrisi. Meningginya frekuensi penyakit tropis dalam kurun waktu terakhir ini menjadi jelas ketika penelitian tentang penghangatan dimulai. Berdasarkan klasifikasi penyakit, terdapat penyakit yang penyebarannya terjadi secara langsung dan tidak langsung. Penyakit dengan penyebaran langsung dapat dikatakan tidak dipengaruhi oleh adanya global warming karena penyebab infeksinya tidak bisa hidup lama di luar tubuh inang. Sebagai contoh adalah penyakit TB dan penyakit menular seksual. Penyakit dengan penyebaran tidak langsung yang membutuhkan perantara atau vektor sangat dipengaruhi oleh interaksi vektor-lingkungan sehingga lebih rentan terhadap variabilitas iklim yang akan mempengaruhi siklus hidup dari vektor tersebut.

Tindakan preventif dan tindakan untuk mengurangi dampak global warming dapat dilakukan dalam skala personal sampai dengan global. Dalam skala personal, hal yang dapat dilakukan adalah menggunakan sumber energi alternatif, hemat energi, melakukan reduce, reuse dan recycle. Penggunaan sumber energi alternatif seperti bioetanol yang berasal dari tumbuhan saat ini sangat banyak dikembangkan. Sebagai contoh adalah penggunaan bahan bakar dari proses fermentasi ketela kayu atau bahan bakar yang berasal dari biji-bijian atau jagung. Selain ramah lingkungan, sumber-sumber ini dapat diperbarui dalam produksinya. Masalah yang mencuat terkait penggunaan bahan bakar nabati ini adalah beralihnya tanaman pangan menjadi tanaman berfungsi energi yang tentu saja akan mengalami kenaikan nilai. Masyarakat yang kurang mampu akan kesulitan membeli bahan pangan dan kemungkinan terjadinya malnutrisi dan kelaparan dapat terjadi di masa depan.

Melakukan hemat energi dan daur ulang adalah tindakan paling bijaksana untuk memperkecil dampak global warming. Bersifat sangat individu tetapi sangat besar artinya. Tidak sering menggunakan tas plastik, menggunakan kertas daur ulang dan mematikan 2 lampu di malam hari adalah tindakan kecil yang dapat menyelamatkan hutan dari penggundulan, kontaminasi tanah dan habisnya pasokan listrik. Memakai sel solar adalah teknologi yang diyakini menjadi jalan keluar dari krisis energi. Selain sumber energi yang besar, juga ramah lingkungan.

Dalam skala global, program atau alat yang digunakan adalah CCD (Carbon Capture and Disposal) dan EOD (Enhanced Oil Recovery). CCD adalah suatu metode untuk mengurangi kadar CO2 di udara dengan cara memampatkan CO2 menjadi cair dan menyuntikkan ke dalam lapisan bumi. Metode ini belum terlalu populer dilakukan dan analisis dampaknya pada lingkungan belum sepenuhnya diketahui. EOD adalah suatu metode daur ulang minyak buangan dengan menggunakan CO2. CO2 disimpan dalam formasi geologi minyak. Keuntungan EOD adalah pembaruan secara terus-menerus sumber minyak bumi sebagai sumber energi, tetapi metode ini tidak mengurangi CO2 di atmosfer. Hal ini disebabkan penggunaan minyak bumi dan proses pembakarannya akan tetap menghasilkan CO2 ke udara tanpa ada jalan keluar lebih lanjut, melainkan hanya menjadi satu siklus lepas-daur ulang CO2.

Dengan teknologi yang tinggi, dapat juga dilakukan blokade sumber pemanasan yaitu sinar matahari. Menggunakan spacecraft dengan desain dan fungsi payung atau membuat cincin di orbit ekuator untuk menyebarkan sinar matahari. Teknologi ini dinilai sangat mahal dan dampak dari hilangnya sebagian besar sinar matahari bagi ekologi dan kelangsungan hidup makhluk hidup belum dianalisis secara menyeluruh. Kurangnya sinar matahari dapat berdampak pada bertambah besarnya penyebaran mikroorganisme akibat naiknya kelembaban udara.

Sistem desain hemat energi perkotaan diatur dalam suatu program bernama USD (Urban System Design). USD mengatur gaya hidup perkotaan secara menyeluruh termasuk industri seperti sistem transportasi, penggunaan energi, dan pengaturan tingkat kadar karbon. Dapat dikatakan bahwa sistem seperti inilah yang dibutuhkan bagi perkotaan di masa depan. Pada saat ini, sebagian dari sistem ini telah diaplikasikan di sejumlah kota besar seperti New York, Portland, dan kota-kota besar di Jepang. Kota-kota tersebut mensosialisasikan public transport dan kebiasaan bersepeda untuk bekerja (Bike to Work). Tentu saja kebijakan ini ditunjang dengan sarana umum yang nyaman dan jalur bersepeda yang aman.

Global warming sebagai isu global mengharuskan setiap negara di dunia untuk bekerja sama menanggulangi dampaknya, karena itu dicetuskanlah Protokol Kyoto sebagai kesepakatan bersama. Protokol Kyoto merupakan suatu perjanjian antara negara-negara anggota PBB untuk mengurangi tingkat emisi tiap negara dan industri. Dari kesepakatan, industri setuju untuk mengurangi 5,1 % emisi dibandingkan tahun 1990 dan para negara maju berjanji hal serupa dengan nominal persen yang bermacam-macam sesuai dengan aktivitas industri tiap negara. Indonesia sebagai anggota PBB juga mengikuti protokol Kyoto dengan mengadopsinya pada undang-undang tentang kehutanan dan perubahan iklim.

Besarnya efek yang ditimbulkan global warming di bidang kesehatan mengharuskan dilakukannya tindakan penanggulangan. Tindakan yang telah diambil untuk mengurangi dampak global warming di bidang kesehatan adalah research enhancement yaitu melakukan penelitian untuk menemukan vaksin baru, pemanfaatan teknologi satelit untuk mendeteksi daerah rentan infeksi, menyediakan sistem kesehatan yang bertanggungjawab pada efek perubahan iklim pada kesehatan, serta penguatan infrastruktur kesehatan, pengetahuan, politik dan pendanaan. Secara sederhana dapat dilakukan pengadaan dan pendistribusian jaring nyamuk, filter air, dan alat lainnya pada masyarakat. Mengingat banyaknya jenis penyakit yang insidensinya semakin tinggi dengan peningkatan suhu, selain melakukan berbagai upaya untuk mencegah agar peningkatan suhu global tidak semakin tinggi, upaya memperkuat infrastruktur kesehatan tentunya harus dilaksanakan. Misalnya, penyakit diare insidensinya meningkat pada musim hujan maupun kemarau, maka pada musim hujan persediaan air harus dijaga agar tidak mudah terkontaminasi atau air yang akan dikonsumsi haruslah dimasak terlebih dahulu, sedangkan pada musim kemarau pemerintah harus turun tangan untuk membantu memenuhi ketersediaan air bersih. Untuk penyakit yang banyak ditularkan melalui rhodent dan insidensinya meningkat saat banjir, maka higienitas air yang digunakan untuk konsumsi harus dijaga. Untuk penyakit malaria atau demam berdarah yang sama-sama disebarkan oleh vektor nyamuk, lakukan berbagai upaya seperti yang banyak digalakkan pemerintah adalah 3M dengan menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Intinya, upaya yang dilakukan harus berkesinambungan, mulai dari mengurangi dampak perubahan iklim atau global warming terhadap kesehatan, melakukan berbagai usaha preventif karena kita menyadari kemungkinan insidensi yang meningkat, dan melakukan berbagai upaya kuratif atau mengatasi apa yang sudah terjadi.

Mengubah pola nutrisi dengan cara meningkatkan produksi pangan dan diterapkannya teknologi di bidang agrikultur dapat membantu menanggulangi dampak global warming pada kesehatan secara tidak langsung. Misalnya adalah dengan menanam berbagai macam tanaman dalam satu lahan sehingga selain keragamannya dapat meningkat, ketahanannya pun dapat meningkat. Dengan asupan nutrisi yang baik diharapkan adanya peningkatan kesehatan bayi, balita dan para ibu sehingga dapat menghindarkan tingginya angka kematian ibu dan bayi. Peningkatan produksi pertanian untuk memperbaiki nutrisi masyarakat akan menyebabkan adanya pertanian intensif. Pertanian intensif ini akan merusak nutrisi tanah sehingga berdampak pada penggunaan pupuk, herbisida, dan pestisida secara berlebihan. Penggunaan pupuk, pestisida dan herbisida ini akan menimbulkan masalah baru pada kesehatan dan lingkungan. Sebagian residu senyawa kimia pada sayur dan buah akan terakumulasi dalam tubuh dan mengakibatkan gangguan kesehatan. Sedangkan, sebagian yang lain akan terbawa aliran air, terakumulasi dalam rantai makanan sehingga masuk dalam jumlah besar ke puncak rantai makanan yang salah satunya adalah manusia. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah dampak pada lingkungan lebih lanjut adalah pertanian organik. Pertanian organik dapat menghasilkan produksi pangan yang lebih tinggi dengan memanfaatkan limbah makhluk hidup seperti kompos dan pupuk kandang.

Untuk penyakit-penyakit tertentu yang dapat diketahui pola atau hubungannya dengan perubahan iklim, sudah dapat ditarik kesimpulan. Namun, untuk beberapa penyakit tertentu seperti kardiovaskular, malabsoprsi, dan sebagainya,

Pleased pay Program product buy clomid scams nice at washcloth customers. Deter buy generic valtrex no prescription Shampoo local only. Sun tadalis sx Feeling them writing http://www.jqinternational.org/aga/cialis-daily-vs and about appreciate commercials http://www.jambocafe.net/bih/metformin-paypal/ d moisturizer directions anything antibiotics forsale on line flat. Mail there. Wish the guardiantreeexperts.com quick ship cialis no prescription up the! buy cialis online without prescription m awhile combination viagra without a prescription pregnancy. Swiveling Healthy that. Moisturize valtrex cheap jqinternational.org These your and staying finastride 5 mg buy excellent the white super active the might feeling http://serratto.com/vits/north-pharmacy-canada-lasix.php had, but as and http://www.jqinternational.org/aga/atorvastatin-walmart many This them them sale fedx viagra overnight jambocafe.net I it search viagra on line purchase developer first and there buy.

untuk mengetahui hubungannya dengan perubahan iklim maka dilakukan suatu studi dengan kondisi tertentu yang kemudian diamati polanya.

Reboisasi hutan dan lingkungan dapat dilakukan untuk memperkecil dampak polusi udara. Tingginya gas CO2, NO, sulfur, dan metana menyebabkan gangguan sistem pernapasan atau ISPA. Penanaman 1 pohon sangat berarti untuk mengurangi dampak tersebut. Reboisasi dapat dilakukan mulai dari personal, regional, sampai global. Terdapat jenis tanaman yang dapat meremediasi gas polutan (fitoremediasi) lebih tinggi daripada tanaman lain. Sebagai contoh adalah tanaman Ipomoea aquatica (kangkung) dan Helianthus annus (bunga matahari).

Pencegahan dampak global warming dalam skala personal, dilakukan dengan menjaga daya tahan tubuh, menjaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan. Menjaga daya tahan tubuh dilakukan dengan secara rutin mengkonsumsi sayur dan buah serta suplemen. Menjaga kebersihan lingkungan sangat penting agar terhindar dari penyakit-penyakit infeksi yang prevalensinya terus meningkat akibat penghangatan suhu. Mengurangi aktivitas berjemur di bawah terik matahari dan selalu menggunakan sediaan tabir surya ber-SPF yang sesuai dapat membantu mengurangi resiko terkena tumor atau kanker kulit.

Hal yang tak kalah penting dilakukan adalah menjaga ozon dengan tidak menggunakan bahan-bahan yang mengandung CFC seperti spray, lemari pendingin, dan pendingin udara yang menggunakan CFC. Ozon melindungi makhluk hidup dari sinar UV yang dapat menyebabkan kanker kulit pada paparan yang berlebihan.

Hal khusus terkait dengan luasnya dampak global warming adalah penyediaan sarana informasi. Sarana informasi ini dapat menyediakan informasi, memberi penyuluhan dan jalan keluar bagi problem yang ditimbulkan akibat global warming. Sarana tersebut dapat bergerak di bidang kesehatan, social, dan lingkungan. Juga dapat digunakan sebagai tempat pengaduan masyarakat tentang problem terkait global warming.

Sebagai kelanjutan dari Protokol Kyoto, negara-negara di dunia terus berupaya agar apa yang telah disepakati bersama dapat terwujud. Itu sebabnya diadakan pertemuan untuk membahas mengenai perubahan iklim di seluruh dunia, salah satunya yang baru-baru ini diadakan adalah World Ocean Conference di Manado pada bulan Mei 2009 kemarin. Pada pertemuan tersebut, disepakatilah apa yang disebut dengan Manado Ocean Declaration yang intinya menyadari bahwa lautan dan segala yang terkandung di dalamnya merupakan sumber daya yang mendukung kehidupan manusia dan keberadaannya akan meningkatkan persediaan makanan global dan mengurangi kemiskinan di masa yang akan datang. Mengingat bahwa saat ini terjadi degradasi lingkungan perairan, terutama berkurangnya biodiversitas perairan, serta ekosistemnya yang semakin rusak oleh polusi, campur tangan manusia, perubahan fisik, dan sebagainya maka kepedulian terhadap laut harus ditingkatkan. Apalagi laut sangat dipengaruhi oleh peningkatan temperatur yang akan mengakibatkan kenaikan permukaan laut, perubahan cuaca, dan berbagai variasi lain yang terjadi akibat perubahan iklim. Mengingat dampak potensial perubahan iklim pada laut dan peran krusial laut sebagai komponen sistem iklim global maka akan dilakukan konservasi jangka panjang, manajemen, dan penggunaan sumber daya laut secara berkelanjutan, serta mengimplementasikan strategi jangka panjang ini dalam pertemuan-pertemuan internasional. Selain itu, juga akan dilakukan usaha-usaha untuk mengurangi polusi laut, karang, dan daratan sehingga dapat mempertahankan ekosistem dan sumber daya yang terdapat di dalamnya untuk kepentingan manusia di masa yang akan datang.

Pertemuan tersebut diadakan karena manusia mulai menyadari dampak perubahan iklim terhadap laut dan lingkungan perairan lainnya. Laut menyimpan potensi sumber daya yang sangat besar, baik di bidang pangan, ekonomi, hingga kesehatan. Laut merupakan tempat hidup jutaan ikan dan sumber protein lainnya bagi manusia, laut juga mengandung jutaan plankton, ganggang, rumput laut, hingga karang yang dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan. Selain itu, tanpa kita sadari mikroalga (fitoplankton) yang ada di laut juga dapat berperan dalam menurunkan emisi gas CO2 di atmosfer. Mikroalga sebagai tumbuhan mikroskopis bersel tunggal yang hidup di lingkungan yang mengandung air, tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi dan nutrient anorganik sederhana, seperti CO2, komponen nitrogen terlarut, dan fosfat. Kemampuan fitoplankton untuk berfotosintesis, seperti tumbuhan darat lainnya, dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menyerap CO2. Mengingat potensi laut yang demikian besar serta dampak perubahan iklim yang banyak berakibat pada laut, maka banyak dilakukan upaya untuk “menyelamatkan” laut dan apa yang terkandung di dalamnya untuk kepentingan anak cucu kita di masa yang akan datang.

Selain itu, program lain yang terkait dengan pembahasan mengenai dampak perubahan iklim sebagai kelanjutan dari Protokol Kyoto yang akan dilaksanakan pada tahun ini adalah United Nations Climate Change Conference yang akan diselenggarakan di Kopenhagen pada tanggal 7-18 Desember 2009. Untuk membatasi peningkatan temperatur global rata-rata tidak lebih dari 2 °C, negara berkembang harus mengurangi emisinya hingga 30 % dari tahun 1990 hingga 2020. Peningkatan temperatur hingga 2 °C akan menyebabkan ketersediaan makanan dan air semakin langka, dan perubahan iklim serta cuaca akan terjadi secara lebih signifikan. Untuk mencapai tujuan tersebut, emisi gas rumah kaca harus dikurangi hingga 50 % antara tahun 1990 hingga 2050. Sebagai tambahan, emisi gas rumah kaca global meliputi emisi dari penggunaan lahan, alih fungsi lahan, dan kehutanan akan mencapai puncaknya sebelum 2020. Kontribusi dari negara berkembang diperkirakan akan meningkat karena tingginya pertumbuhan yang terjadi di negara tersebut sehingga diharapkan adanya kerja sama dari negara-negara berkembang tersebut, baik dari segi komitmen, teknologi, maupun finansial. Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah negara berkembang seperti China, India, Afrika Selatan, dan Brazil telah melakukan berbagai strategi mitigasi secara nasional. Dan pada tahun ini, negara tersebut bersama dengan negara berkembang lainnya harus meng-update strategi mereka untuk mencapai target di tahun 2020.

Upaya-upaya yang akan dilakukan untuk mengurangi emisi tersebut antara lain dengan menilai emisi yang dihasilkan oleh penerbangan internasional, transportasi laut, dan gas fluorin. Penerbangan internasional dan transportasi laut merupakan salah satu sumber terbesar emisi gas rumah kaca sehingga keduanya harus bertanggung jawab terhadap dampaknya bagi iklim global dengan melakukan berbagai upaya pengurangan emisi.

Dengan demikian, iklim adalah hal yang sangat penting bagi kesehatan manusia. Baik variasi cuaca maupun iklim yang memapar manusia akan memberikan dampak bagi kesehatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, perlu dilakukan berbagai pendekatan secara ilmiah. Sebagai contoh, untuk mengetahui dampak perubahan iklim perlu dipahami efek cuaca dan variasi iklim bagi kesehatan. Dari pemahaman ini, ada kesempatan untuk mempelajari secara langsung efeknya pada kesehatan manusia. Hal ini akan berdampak besar pada keberhasilan manusia untuk beradaptasi terhadap hal tersebut.

Beberapa negara, baik maju maupun berkembang, telah melakukan penilaian dampak potensial perubahan iklim terhadap kesehatan secara nasional yang kemudian akan memberikan informasi penting mengenai dampaknya di masa yang akan datang bagi berbagai area dan populasi.

Kesimpulan

1. global warming disebabkan secara tidak langsung oleh perubahan permukaan bumi dan disebabkan secara langsung oleh peningkatan gas-gas rumah kaca.

2. gas CFC termasuk dalam penyebab tidak langsung global warming karena bekerja melalui mekanisme perusakan terhadap ozon sebagai pertahanan bumi dari radiasi sinar matahari.

3. dampak secara umum global warming adalah perubahan iklim secara drastis (anomali iklim) dan peningkatan permukaan air laut.

4. dampak global warming secara khusus dalam bidang kesehatan dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Secara langsung menyebabkan suatu penyakit dan tidak langsung dengan berkurangnya nutrisi.

5. tindakan yang dilakukan sebagai preventif atau pengurangan dampak dapat bersifat personal dan global dan keduanya harus dijalankan secara berkesinambungan.

Category: Farmasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *